Ril dan semangat lawas yang masih menyala

Saya tidak mau jadi bohemian, tapi --seperti Chairil-- orang-orang di sekitar saya menjuluki demikian.

Aih, jangan sampai samakan saya dengan penulis puwisi AKU itu, kita terlampau jauh berbeda. Saya pemalu dan dia binal benar. Saya punya satu perempuan dan dia sekian lusin.

Ceritanya, hari ini di kota ini saya tiada punyai tempat singgah. Saya ajak seorang teman, tentu dengan kedok ingin menumpang tidur. Alhasil berhasil juga.

Pada paginya setelah bangun tidur, jika tidak salah itu pukul delapan, saya melihat sekeliling.

Berjalan mendekati rak buku, dan saya ambil sebuah buku yang dulu sempat hampir saya baca.

Pada pukul sembilan saya telah sampai pada pertengahan.

Buku itu berjudul AKU karya sastrawan yang punya sampingan sebagai sutradara, Sjuman Djaya. Terbitan GPU 2016.


Dan lelaki itu seenaknya menjawab:

"Boleh! Namaku... AKU!"

"Aku? Kok 'Aku', sih? Terus nama bapaknya saiapa?"

"Atang!"

"Lho! si Atang yang tinggal di Kalipasir itu?"

"Ah, bukan, dia tinggal di Medan!"

"Jadi lengkapnya nama itu, 'Aku... bin... Atang'!"

Marsiti jadi pelan-pelan mengulanginya:

"Aku bin Atang"?

Marsiti tertawa. Terlalu sekali tertawa ini, sambil dia memegangi perutnya yang terbuka dan mulai berkilat karena gendutnya.

Lelaki mengusap perut itu dan terlena di atasnya.


Karena buku tersebut, saya menjadi bersemangat. Saya mandi sepagi itu. Dan buru-buru pamitan seperti hendak pergi memperjuangkan kebebasan rakyat.

Padahal tidak, saya hanya masuk kampus. Melewati gerbang yang sejak sekian purnama tidak pernah saya lewati lagi. Masuk kantor organisasi dan melihat wajah-wajah menyebalkan.

Semua keajaiban ini berkat semangat dari Chairil. Yang dinarasikan dengan puisi yang apik oleh Sjuman Djaya.

Ngomong-ngomong tulisan ini bukan resensi buku, saya belum tuntas membacanya karena telampau lemah merasakan semangat Chairil.

Setidaknya, semangat itu sekarang menular. Saya juga menyadari bahwa sang diri belum mencebur sepenuhnya dalam satu hal yang remang-remang, seperti Chairil yang telah basah kuyup dan bulat menjadi penyair.

Kalian yang hendak mencari diri, silakan baca buku ini di tempat paling sunyi seperti jiwa kalian, rasai totalitas dan semangat, nikmati sastra seperti ketika onani, dan simpan kembali bukunya jika hendak keluar untuk memperjuangkan kebebasan diri.

Beban hidup yang dialami tiap manusia beda. Solusinya adalah sungai sepi, bayangkan sungai itu sebagai Gangga atau Nil, segeralah menceburkan diri dan yakin bahwa masalah hidup kalian turut hanyut bersama aliran.

Kemudian mentas dan masuk kembali pada kubangan lain yang dirasa bahwa kebebasan berada di sana.


Chairil tertawa sinis sekali di sini, sebelum Jaksa Sumirat mengakhiri ucapannya:

Bilang sama opsir celaka itu, dia itu tidak akan pernah jadi seniman, sebab dari ujung rambut sampai ke tulang sumsumnya yang mengalir cuma darah hitam seorang bajingan yang paling rakus! Dia merampok bukan cuma harta benda rakyat Indonesia, tapi juga seluruh kemanusiaan dan kehormatan bangsa-bangsa yang bedapat! Tolong bilang pada iblis itu, dia boleh menembakku beratus kali, aku tidak akan mati. Dan selama aku tidak mati, aku masih akan terus merampoki apa saja yang dia miliki. Sampai kepada istinya pun aku akan rampok!--

(tertawa lagi)


Saya yakin, kalian akan merasai semangatnya. Juga menyadari betapa profil Chairil adalah sebagai lelaki flamboyan.

Baik, kapan kalian akan mendengarkan musikalisasi puisi AKU oleh Sindu dan Kevina? Saya sarankan dengarkan sebelum tidur, ditambah Pulang ke Rahim Ibunya oleh Jeje. Ini komposisi yang lumayan.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi