Tanpanama, Semacam Novel oleh sastrawan betulan Tulungagung Hari Niskala

Kesusastraan di lingkungan kami, yang saya pikir sudah terkubur di perut bumi, nyatanya masih ada yang bergejolak.

Gejolaknya kian besar dan membara setelah seorang kenalan menerbitkan buku (semacam novel) yang kesekian kalinya.

Ia adalah Hari Niskala, nama pena, tentu saja. Nama aslinya ... saya lupa

Saya pikir ia sudah tidak lagi menulis cerita, saya pikir ia fokus menerjemahkan buku seperti yang ia lakukan belakangan dalam kumpulan cerita Italo Calvino yang diterbitkan Rua Aksara.

Saya pikir, ia masih berkutat pada popok dan susu anak laki-lakinya ...

Ternyata pikiran saya benar-benar keliru. Sosoknya yang sederhana masih membara dan kian bersinar.

Tentu, kita akan mengingat kembali kumpulan cerpen Vita Brevis, Suwung Longa (2020), novel Jalan Pulang dan Omong Kosong yang Menunggu Selesai (2021), serta cerpen-cerpen dan terjemahan-terjemahan yang Hari Niskala yang diterbitkan media-media besar di tahun-tahun itu.

Setelahnya, seperti sunyi, tak ada kabar tentang orang itu lagi hingga sekarang.

Pada titik tertentu saya merasa khawatir, jangan-jangan ia mengalami suatu masalah yang membuatnya berhasil mengembuskan napas terakhir.

Untung saja anggapan saya salah, ia benar-benar masih hidup, dan masih doyan kopi.

"Novel baru?" tanya saya di warung kopi pada satu waktu saat bertemu yang tidak sengaja.

"Bukan," jawabnya singkat seperti biasa, sembari melanjutkan main gawai yang terlanjur panas.

Kamis siang, 14 Agustus 2025 saya mendapatkan sebuah ajakan yang agak aneh. Ajakan itu mirip petir siang bolong, meminta untuk menghadiri semacam bedah buku terbaru Hari Niskala.

Wah, pikir saya, ia betulan berhasil menerbitkan buku.

Atau, berhasil mencapai titik tertentu di mana tulisan yang bernuansa zaman dulu yang jelas --meminjam kata penerbit di Indonesia-- kurang marketable, diterbitkan.

Tanpanama, itu judulnya. Seperti ada yang janggal, di mana buku-buku Si Hari itu biasanya memiliki judul-judul panjang, namun ini hanya satu kata (atau dua kata yang dipaksa menjadi satu kata).

Baiklah, malam Jumat saya turut datang ke acara itu. Kemudian menyadari bahwa Tanpanama adalah naskah lama yang rampung ia tulis pada 2019 silam, naskah yang sama yang pernah ia kirim kepada saya dengan judul Tarani Tayawara.

"Selamat," kata saya sembari menjabat tangannya setelah acara selesai.

"Untuk apa?"

Aduh, bagaimana kau ini. Sudah jelas, kan, untuk engkau yang berhasil menemukan penerbit biar melanjutkan umur si naskah itu.

Sejak pertama kali bertemu dengan Si Hari pada 2016, saya menyadari bahwa ia adalah satu-satunya orang yang berani menceburkan diri sepenuhnya ke dalam kesusastraan.

Jangan salah paham, saya bukan penulis, apalagi sastrawan. Saya hanya seorang pemancing ikan yang cukup kagum dengan orang-orang seperti itu.

Saya juga bertemu dengan orang-orang lain yang menyukai sastra setelah itu, membaca tulisan-tulisan mereka, namun belum ada yang setara dengan tingkat yang dicapai Si Hari.

Maka dari itu, saat ia kirim naskah Tarani Tayawara kepada saya, tidak ada masukan yang berani saya sampaikan kecuali paragraf yang terlalu gemuk. Di mana saya hampir pingsan karena kehabisan napas saat membaca sebuah paragraf.

Ia memahami betul apa yang sedang ditulis. Barangkali dalam aktivitasnya sehari-hari, ia selalu memikirkan ide-ide yang paling masuk akal untuk melanjutkan cerita dalam tulisannya.

Terkait dengan nama dan tampilan, itu biarlah terserah bidan yang membantu proses persalinan si jabang bayi.

Sekarang Si Hari pasti memiliki semangat baru untuk melanjutkan hidup. Semangat yang berpotensi menyeret ia keluar dari jalan sunyi menuju jalan yang penuh gemerlap.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi