Mencatat cerita buruk

Tepat pukul 04.24 pagi, saya baru membuka pesan di WhatsApp yang dikirim Hari Niskala sejak kemarin.

Pesan itu sebatas berisi tautan yang mengarah ke krikititikus budiwarsito.net yang mengarsipkan cerpen lawas 15 Oktober 1995 dari Sony Karsono berjudul Sentimentalisme Calon Mayat.

Saya langsung terkesima tatkala selesai membaca. Tulisan yang alurnya tidak molor-molor seperti kebanyakan cerpen yang saya baca di internet. Ringkas. Dan langsung maju menuju ledakan-ledakan ganjil yang betapa itu menarik.

Saya tidak tahu siapa itu Sony --empunya tulisan. Saat ia menulisnya, barangkali saya masih menjadi air mani yang masih jauh perjalanannya hingga bertemu sel telur ibu. Sedang Hari Niskala, sudah mengecap udara di dunia fana ini di tahun-tahun pertama.

Lantas, saya coba mencari-cari tulisan saya yang sama bagusnya dengan cerpen Sony. Tidak ada. Saya coba mencari yang mendekati bagusnya saja. Tidak ada. Saya coba menggeledah lebih jauh dalam arsip gelap tulisan-tulisan saya yang agaknya, setidaknya, mohon sangat, dapat saya banggakan. Tetap tidak ada.

Sialan!

Sialaaan! Tiga puluh tahun yang nyaris sia-sia tanpa sekali pun menulis tulisan yang bagus. Berengsek.

Saya jadi agak kesal, lumayan kesal dengan si Hari yang sekonyong mengirimkan cerpen yang bagus. Saya yang merasa cukup produktif menulis cerpen, ternyata... luar biasa kosong. Anggapan yang terombang-ambing.

Kenyataan, betapa itu seringkali menyakitkan.

Kenyataan yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan berbunyi seperti ini:

HAI, RED WINE K. (RWK)
KAU ITU GAK CUKUP BAIK MENULIS
TULISANMU HANYA TULISAN YANG HANYA BISA DIBACA
LAIN DINIKMATI
KAU SUDAH SEMPAT BENAR MENEMPUH JALAN
JADI PEMANCING IKAN
KENAPA PULA SOK-SOKAN MENULIS CERITA
PUN KALAU INGIN TETAP MENULIS
TULIS SAJA CURHATAN SEADANYA
DAN ITU HANYA COCOK UNTUK KAU BACA SENDIRI
BUKAN UNTUK DIBACA ORANG LAIN
TANPA MEREKA HARUS MUNTAH SETELAH
ATAU BAHKAN SEBELUM SAMPAI
DI TENGAH-TENGAH BAGIAN

Oh, kenyataan! Terima kasih telah menunjukkannya.

Kini, kekesalan saya kepada Hari Niskala agaknya berkurang. Saya lebih kesal kepadamu, kenyataan. Kau itu terlalu jujur menunjukkan kecacatan dalam segala hal.

Kegagalan. Gagal jadi manusia. Oh, sialan, No Longer Human yang kemarin itu.

Apakah saya harus duduk memancing di pinggir Sungai Brantas, memasukkan sekotak penuh obat penenang ke dalam mulut, mendorongnya dengan Aqua, dan membebaskan diri dengan mencebur ke sungai sebagaimana Dazai?

OH, RED WINE K. (RWK)
KAU ITU KELEWAT TOLOL
MENIRU CARA MATI DAZAI PUN
TAK AKAN MENGUBAH APA PUN
KAU HANYA AKAN MEGAP-MEGAP KESAKITAN
SEBELUM TERBENAM KE DASAR SUNGAI
MEREPOTKAN TIM SAR KOTAMU
MENCARI JASADMU DUA HARI DUA MALAM
LALU BARU MENEMUKANNYA DI HILIR SUNGAI KOTA ORANG
DIPANDU PULANG
DITANGISI KARENA MENINGGALKAN UTANG
DILUPAKAN TEPAT SETELAH GENDURI TUJUH HARI SELESAI
DAN TIDAK ADA YANG TERTINGGAL SETELAHNYA

Aih, lagi-lagi kau benar, kenyataan. Tidak ada yang akan menangisi seorang manusia yang gagal menjalani perannya. Dan perkataanmu tentang ditangisi karena meninggalkan utang, sebenarnya, lebih menyakitkan daripada yang lain-lainnya.

Sudah. Cukup!

Saya tidak lagi mampu menghadapimu, kenyataan! Kau ini sudah keterlaluan! Membikin saya begitu rendah diri atas segala sesuatu. Bahkan, untuk menghirup oksigen gratisan ini benar-benar rasanya tidak pantas.

HMM... RED WINE K. (RWK)
AKAN KUKASIH KABAR BAIK
SEKALIGUS KABAR BURUK DALAM SEBUAH KALIMAT
BAHWA SEMUANYA TIDAK SELAMANYA
KESENGSARAANMU AKAN BERAKHIR
KEBAHAGIAANMU JUGA AKAN DEMIKIAN
TEPAT DI RUANG DAN WAKTU YANG SUDAH
DITENTUKAN
KAU HANYA PERLU SEDIKIT LAGI BERSABAR
SEBAGAIMANA SABAR MANUSIA ZAMAN SEKARANG
TIGA PULUH, EMPAT PULUH TAHUN KE DEPAN
LALU HILANG

Apakah bisa dipercepat, kenyataan?! Kau ini benar-benar keterlaluan menunjukkan secara terang-terangan. Sebenarnya, masih ada semacam ambisi aneh yang mengendap di dada.

Apakah benar-benar hanya sampai di titik ini? Apakah ini adalah titik paling jauh yang bisa saya jangkau?

Segalanya terasa ganjil saya rasakan. Ruang ganjil, waktu ganjil, kejadian ganjil. Kebodohan dan ketololan yang saya pelihara berkelindan membentuk gumpalan super-ganjil yang keruh dan kental. Saya setiap hari dipaksa menelannya dalam cangkir-cangkir dingin itu. Mengecap dan menyesap lambat-lambat lewat mimpi buruk yang datang menjelang subuh. Terbangun dan tergagap, lantas bertanya apakah ini masih di dunia.

Kenyataan, agaklah lembut kepada orang sengsara ini. Beri sedikit ruang, sedikit waktu, dan sedikit kejadian yang lebih baik.

Irhamnii Ya Allah...

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi