O, Eka Kurniawan, 470 halaman yang sia-sia
"ENGGAK GAMPANG JADI MANUSIA," pikir O.
| Info | Iedntitas |
|---|---|
| Judul | O |
| Penerbit | GPU |
| Pengarang | Eka Kurniawan |
| Editor | Mirna Yulistianti |
| Tahun | 2016 |
| ISBN | 978-602-03-2559-0 |
| Hal. | 470 |
Saya terkesan dengan kalimat pertama di novel Eka Kurniawan, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, dibuka dengan kutipan:
"Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati."
Secara lembut mengatakan kalau peler laki-laki lebih berharga daripada rasa sakit karena adu jotos, dan kematian itu sendiri.
Pada novel O ini, judul yang bertolak belakang, satu sangat panjang dan lainnya pendek keparat. Pembukaannya juga cukup mencolok, diketik dengan huruf kapital.
"ENGGAK GAMPANG JADI MANUSIA," pikir O.
O adalah nama tokoh di sana.
Ia seekor monyet betina yang kecantikannya tiada tara, di kalangan bangsa monyet, tentu saja. O memiliki cita-cita berubah menjadi manusia.
Apakah Eka akan memasukkan teori Evolusi Charles Darwin pada 1859?
Pada blurb bagian belakang hanya tertulis: "TENTANG SEEKOR MONYET YANG INGIN MENIKAH DENGAN KAISAR DANGDUT".
Aduh, apa pula ini? Jadi selain teori evolusi kera jadi manusia, juga akan membahas perihal Rhoma Irama?
Tidak tahulah...
...namun setelah membacanya, isinya jauh lebih kompleks dari apa yang selama ini kita bayangkan
Seekor monyet yang dimaksud dalam blurb adalah O. Sedang, Kaisar Dangdut tersebut dianggap O sebagai kekasihnya, monyet jantan bernama Entang Kosasih.
Sehingga sebagian besar cerita akan didominasi dengan perjalanan tokoh O.
Tentang usahanya menjadi manusia, yang sialnya disarankan oleh seekor tikus yang bisa meramal, agar ia lewat jalan bergabung sirkus topeng monyet dulu.
Ciri khas Eka tampak, ia menulis tiap bagian tidak langsung utuh dan tuntas. Per scene hanya tersusun dari beberapa paragraf, kemudian di scene berikutnya, ceritanya sepenuhnya akan berubah.
Menjadi potongan fragmen yang dapat meledak sewaktu-waktu dengan sedikit sentuhan. Tokoh, alur, latar, dan semua unsur intrinsiknya berganti.
Ruwet sekali, namun pada akhirnya terasa indah.
Saya tidak bisa --atau sebab kedunguan otak ini-- memahami maksud yang hendak Eka sampaikan.
Ia mengangkat tokoh polisi, Sobar namanya. Juga tokoh monyet-monyet, bahkan membuat dongeng tentang monyet yang berubah jadi manusia. Dongeng itu dipercaya oleh kalangan monyet.
Contoh monyet yang sudah berhasil berubah jadi manusia adalah Armo Gandul.
Eka juga menangkat benda mati seperti Kaleng Sarden dan Revolver menjadi tokoh dalam cerita. Tokoh anjing bernama Kirik, sampai manusia yang berubah jadi babi bernama Betalumur.
Semua tokoh dari alam baka maupun dunia, hidup maupun mati, binatang maupun manusia mampu diracik Eka dalam sebuah cerita yang seolah-olah tidak berhubungan di setiap bagian, namun akhirnya utuh dan tuntas.
Selain tokoh yang berasal dari makhluk-makluk itu, alurnya pun tidak bisa ditebak. Kita tidak akan memahami kejadian di awal tanpa membacanya penuh keseluruhan sampai selesai buku setebal nyaris 500 halaman ini. Sialan.
Selalu ada benang merah yang menghubungkan tiap bagian tersebut. Lantas, pada akhirnya mengatakan... Ooo, seperti itu...
Jika saya paksa otak yang terbatas ini untuk menyusunnya, kira-kira O akan bercerita tentang:
- Polisi yang menembak perempuan asing
- Polisi yang kehilangan anaknya di tubuh perempuan yang ditembaknya
- Monyet yang memegang revolver
- Ular sanca yang melilit bocah
- Ibu si anak yang datang tanpa takut dimakan ular sanca
- Polisi yang tertembak revolver yang dibawa monyet tadi
- Monyet yang mati sebab teman polisi menembaknya
- Bangkai monyet yang tidak ditemukan
- Pacar si monyet mati menganggap pacarnya telah menjelma jadi manusia
- Si monyet betina bekerja di sirkus topeng monyet
- Ketemu anjing kecil buduk-bohemian-kapiran
- Anjing buduk yang ternyata dicari preman
- Pawang monyet dijotosi nyaris mampus sebab menyembunyikan anjing itu
- Kakatua yang hafal Al-Qur'an
- Kakatua itu yang selalu berteriak "Dirikan salat!"
- Aulia yang mencoba memebenarkan moral penduduk yang rusak
- Zaman Soeharto
- Perampasan lahan
- Preman mati dikoyak Wulandari
- Wulandari adalah nama seekor induk anjing
- Dua anak yang dipaksa makan daging anjing
- Papa yang marah-marah sebab adiknya dulu mati dimakan anjing
- Perempuan yang ditembak polisi tidak mai
- Polisi dan perempuan berubah jadi ikan (?)
- Dua ikan ditembak preman
- Preman jadi buaya (?)
- Jadi begal
- Ketemu penunggu hutan jati yang lagi mandi
- Menjelma jadi babi (?)
- Babi kena jaring voli (WOI....)
Bagaimana kalian akan mencoba menyusun cerita penjelmaan itu agar menarik?
Saya hendak mengatakan, banyak kejadian yang kompleks kemudian mampu dirangkai Eka dengan bahasa yang begitu sederhana.
Sehingga otak saya yang agak tumpul ini akhirnya bisa menikmati semua ke-absurd-an.
Eka meraciknya dengan bumbu jenaka yang akan membikin seluruh cerita lebih mengalir.
Sebuah kejadian di bagian awal tidak akan hilang, bagian itu akan muncul kembali (atau terhubung) di bagian tengah maupun akhir.
Saya lantas bertanya, apakah Eka sudah merencanakan semuanya dari awal? Atau, ia membiarkan jemarinya menari untuk menciptakan kejadian tak terduga dengan sendirinya?
Seperti pada bagian awal ketika polisi Sobar tidak sengaja menembak Dara, pacar preman.
Siapa sangka Dara sedang bunting. Siapa sangka lagi kalau orok di dalam perutnya akibat ulah burung Si Sobar?
Kejadian sesungguhnya sangat tersembunyi, bahkan disembunyikan juga dari pembacanya.
Konflik di awal terus berlanjur, menumpuk, dan hanya menunggu sedikit pemicu untuk meledak dengan apik.
Membikin pembaca tidak akan bosan, meski dari novel ini tidak ada amanat yang bisa saya dapatkan.
"Dan topeng monyet akan membuatmu berubah menjadi manusia?"
"Ya," kata O. "Sebagaimana pernah terjadi kepada salah satu monyet yang kukenal. Entang Kosasih." (hal. 53)
Itu adalah awal, ketika anjing buduk-bohemian-kapiran bicara kepada O. Anjing yang bernama Kirik itu tidak percaya monyet berasal dari ikan, dan monyet bisa berubah jadi manusia.
"Gila. Masa kamu enggak tahu monyet berasal dari ikan dan bisa menjadi manusia?"
"Enggak. Aku tahu semua yang dimakan bisa jadi tai." (hal. 284)
Begitulah sangsinya Kirik atas kepercayaan yang O pegang.
Sebelum bertemu Kirik, O sempat ketemu tikus peramal.
Tikus... juga muncul dalam cerita ini. Oke, kita tidak perlu kaget, soalnya benda mati macam kaleng sarden pun juga bisa jadi tokoh.
Tikus peramal itu menambah kepercayaan O dengan mengatakan bahwa Entang Kosasih yang notabene pacar O, telah berhasil menjelma jadi manusia.
Ada penjual obat yang bermain-main dengan ular sanca dan ular kobra, tapi ia tak memiliki monyet. Sudah jelas itu bukan sirkus topeng monyet. Ada gerobak yang ditarik oleh kuda, sudah jelas itu juga bukan sirkus monyet. Ada orang yang membawa sangkar dan di dalamnya ada seekor burung yang terus bernyanyi. Bukan. Di belakang pasar, sekelompok orang mengelilingi dua ekor ayam jago yang saling menyerang dengan taji di kaki mereka. Bukan. Ada manusia setengah telanjang merangkak di dekat selokan. Ia tak yakin apakah itu manusia atau monyet besar.
Itu saat di mana O sedang dalam perjalanan mencari Entang Kosasih.
Dalam menyajikan pencarian tersebut, Eka entah bagaimana kepikiran untuk menyisipkan orang adu ayam di pasar. Artinya, ini turut menyentuh sisi hitam yang kerap disembunyikan.
Sedangkan pada bagian akhir, ada hal jenaka yang miris namun membuat makin bersemangat membaca kelanjutan cerita. Ia tak yakin apakah itu manusia atau monyet besar.
Bagian tujuh dimulai dengan kalimat yang tak kalah jenaka.
SI REVOLVER SERING BERPIKIR untuk menembak kepala tuannya sendiri, demi menghentikan penderitaannya. Ia sangat mencintainya, dan tak tahan melihatnya menderita. Ia benda terbaik untuk menghentikan sisa hidupnya, yang tampaknya tak terlalu berguna. Tapi ia sadar, tak mungkin melakukan itu sendirian. Ia harus bekerja sama dengan jari-jari tangan si tuan.
Aduhai...
...kita jadi sakti karena bisa membaca isi hati benda mati
Kalimat di atas --lagi-lagi-- secara lembut memiliki maksud untuk bunuh diri.
Tidak melulu pada sisi gelap kehidupan dan jenaka, ada pula sisi romantis yang kadangkala terselip di sela kata jenaka.
Misalnya:
"Seperti es krim," katanya sambil menyetir, lalu menoleh kepada ikatan bunga yang tergeletak di tempat duduk samping. "Hati perempuan gampang meleleh oleh sedikit kehangatan."
Saya merasa perlu berterima kasih kepada Eka Kurniawan karena telah hidup dan menulis buku untuk saya baca. Meski tujuannya menulis barangkali bukan untuk saya.
Kemudian kepada Mbak Kiki yang bersedia saya rampok pinjam bukunya, menyelamatkan saya agar bisa membaca di tengah kondisi kemiskinan ini.
Novel O ini bisa dibaca siapa saja, yang hidup maupun yang telah tiada.
Bahasanya tidak sevulgar Seperti Dendam, ini lebih bersahabat untuk anak-anak juga.
Apalagi ada kutipan Al-Qur'an yang secara tidak langsung membuat kita ingat Tuhan. Mari ucapkan terima kasih pada tokoh kakatua bernama Siti.
Hanya saja nasib Siti tidak melulu baik. Pacarnya hanya peduli dengan lubang kecil di bawah ekornya.
Bagian akhir, pawang sirkus monyet yang diikuti O, Betalumur berubah jadi babi.
Bukan untuk cari duit, melainkan karena perempuan di bilik yang ia rindukan bulir yang menetes melewati celah payudaranya. Alasan yang mulia, ya.
Ia menyuruh agar Betalumur belajar dari binatang agar bisa tahu namanya.
Lantas, apa hubungannya dengan sejuta kejadian yang bermacam-macam sebelumnya?
Ada. Hubungan yang kompleks. Lebih banyak adalah sebab.
Akibat dipaparkan lebih dulu di depan, kemudian sebabnya mengekor di kahir.
Jika membaca novel Eka Kurniawan, saya sarankan untuk segera menuntaskan secepatnya.
Kalau bisa dalam sekali duduk...
jika tidak, saya takut kalian melupakan sampai mana.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi