Orang Gagal, Osamu Dazai

Judul asli Ningen Shikkaku
Judul No Longer Human
Judul Orang Gagal
Penulis Osamu Dazai (nama pena)
Penulis Tsushima Shūji (nama asli)
Terbit 2020
Penerbit Basabasi
Penerjemah Muhammad Al Mukhlishiddin (dari versi No Longer Human)
Terbitan pertama 1948
Jumlah halaman x+116
Dimensi 14x20 cm
Kategori Novel
ISBN 978-623-7290-59-9

Sebagaimana novel yang ditulis zaman dulu (saya menyebutnya begitu), deskripsinya sangat panjang, apalagi ini terjemahan. Barangkali akan terasa agak membosankan kalau sudah terbiasa dengan novel-novel Indonesia yang memiliki ledakan-ledakan kembang api bahkan di tiap kalimatnya.

Daftar isi novel ini ringkas saja.


Prolog
Daftar Isi

Buku Catatan Pertama
Buku Catatan Kedua
Buku Catatan Ketiga: Bagian Satu
Buku Catatan Ketiga: Bagian Dua

Epilog
Tentang Penulis


Mungkin, saya perlu mulai dari sebuah kutipan di halaman 39.

Lalu pada November pada tahun kedua masa kuliahku aku terlibat dalam bunuh diri bersama seorang perempuan, istri orang yang lebih tua daripada diriku. Ini mengubah segalanya.
Hal. 39

Apakah Dazai sudah bermaksud akan melakukan ritual seumur hidupnya itu tatkala menulis buku ini?

Dazai menggunakan orang pertama dalam narasi yang kemudian diterjemahkan sebagai "aku".

Catatan pertama

Saya mencoba tidak menceritakan ulang. Namun kalau tetap hanya jatuh pada itu, harap maklumlah! Atau, Anda bisa menganggapnya sekadar catatan pribadi biar saya tidak lupa.

Epilog, tiga foto lelaki. Sudah mulai muncul aroma-aroma muram saat ia menjelaskan tentang satu per satu foto yang digambarkan sebagai timeline itu.

Tidak ada manusia yang tersenyum dengan tangan terkepal sedemikian rupa.

Lantas dilanjutkan dengan:

Itu monyet. Wajah monyet yang menyeringai. Senyum itu tidak lebih buruk dari kerutan-kerutan pada seorang buruk rupa. Foto itu mereproduksi mimik yang sangat ganjil, sekaligus sangat kotor dan bahkan menjijikkan...
Hal. iv

Jangan salah paham. Di awal, Dazai memang cukup emosional. Ternyata setelah saya ketahui hingga bagian terakhir Epilog, yang emosional bukan tokoh utama, melainkan narator yang menulis novel --atau mengupulkan buku-buku catatan dari tokoh utama.

Namun setelah masuk ke catatan pertama, ia seperti luruh belaka. Nuansa muram menjadi makin muram.

Menggambarkan topeng yang selalu dipakai tokoh utama muda di mana pun berada. Topeng yang ditampilkan secara sengaja untuk keluarganya, teman sekolahnya, dan guru-gurunya.

Tandai bagian secara sengaja

Sebab, nantinya tokoh muda kita akan bertemu dengan tokoh lain yang seolah merasakan kegelisahan serupa atas manusia, namun hanya menunjukkan ekspresi spontan yang alami.

Tidak seperti tokoh kita yang sudah terlatih untuk memakai topeng sejak kecil. Sedang versi diri aku yang sebenarnya tersimpan rapi dan rapat di sebuah lemari; tepatnya di lukisan. Serta di ingatan seorang teman sekolah paling tidak mencolok yang terlanjur tahu tentang kebusukan kepura-puraan tokoh kita.

Apakah Anda merasakan bahwa tokoh utama itu adalah diri Anda?

Jika iya, maka selamat, Anda terlambat menuliskannya. Dazai sudah rampung dengan persoalan itu dengan menuliskan naskahnya pada 1948, dan rampung dengan hidupnya sendiri di dasar Kanal Tamagawa beberapa hari kemudian setelah bagian terakhir naskah ini selesai.

Catatan kedua

Hidupnya tokoh utama yang terjamin berkat bapaknya anggota parlemen, berubah 180 derajat. Dari semula mahasiswa hedon suka marxis dan lukis menjadi mahasiswa bohemian-kapiran yang miskin.

Saya cukup suka kutipan ini, dan juga agak setuju.

Harapan terindahku adalah mabuk-mabukan sampai teler, tapi aku tidak punya uang.
Hal. 39

...dan, Hari Niskala barangkali lebih setuju lagi.

Di bagian ini, lagi-lagi, Dazai mengungkapkan kalimat yang terasa seolah-olah terlepas dari narasi tokoh, kemudian berbicara dengan para pembaca.

Aku kabur, tapi tindakan itu tidak memberikan kepuasan: Aku memutuskan untuk membunuh diriku.
Hal. 40

Aih, saya curiga ini dimaksudkan sebagai surat wasiatnya sebelum berjalan mendekati Kanal Tamagawa saat itu.

Atau pada bagian ini.

...aku memang tipe orang yang bahkan bisa melupakan nama perempuan yang mencoba bunuh diri bersamaku
Hal. 43

Setelah membacanya saya agak merasa percaya diri. Ternyata ada orang lain yang tidak bisa mengingat nama orang dengan begitu parahnya.

Saya semakin menikmati narasi yang disampaikan oleh Dazai di Catatan kedua ini alih-alih yang pertama. Siapa pula yang tertarik dengan masa sekolah yang penuh topeng? Inilah yang kedua, kehidupan sesungguhnya manusia.

Dazai mulai terang-terangan mengajak kita bicara. Sebuah potongan paragraf yang seperti mengatakan kepada kita, "Hei, saya sudah tidak takut mati berkat perempuan ini.

Perempuan ini tidak berkata, "aku merasa sangat tidak bahagia" dengan panjang lebar, tapi sesuatu yang seperti arus kemalangan sunyi mengalir di sekujur tubuhnya. Ketika rebah di sebelahnya, tubuhku tenggelam dalam arusnya, yang berjalin dengan arus kemurunganku sendiri yang lebih kasar seperti "daun layu yang akhirnya jatuh di batu di dasar kolam". Aku telah membebaskan diriku dari ketakutan dan kegelisahan.
hal. 45

...dasar kolam... ia sudah benar-benar merencanakannya, sepertinya. Dan ...aku telah membebaskan diriku dari ketakutan... terdengar laiknya pernyataan untuk menghadapi itu.

Dazai memang mengajak kita bicara.

malam yang kulalui bersama istri penjahat itu adalah malam pembebasan dan kebahagiaan. (Penggunaan istilah segamblang itu, tentu saja, tidak salah dan tidak akan muncul lagi dalam buku catatan ini.)
Hal. 45

Dari kutipan di atas, saya tahu bahwa Orang Gagal atau No Longer Human atau Ningen Shikkaku memanglah sebuah buku catatan; sebagaimana penamaan di tiap bagian di daftar isi. Sebab Dazai sendiri melalui tokoh utama yang mengatakannya. Dan, sah-sah saja pun menganggapnya sebagai surat wasiat.

Kadang, muncul paragraf yang rasanya tidak seharusnya berada di sana. Saya jadi beranggapan kalau selain mendeskripsikan narasi tokoh utama, Dazai juga menyisipkan narasi tentang kehidupannya sendiri sebagai penulis tokoh utama.

Ya, meski tetap ada bagian yang barangkali kita sama-sama tidak setuju. Seperti menyatakan dengan secara gamblang itulah sifat asliku, yang seharusnya tidak perlu Dazai menuliskannya karena sudah tersirat dalam deskripsinya yang begitu panjang itu. Atau, tentang penggunaan diksi pokoknya (entah apa di bahasa aslinya), yang seolah mengikis rasa demokrasi di dada kita.

Apakah ini semacam takdir yang aneh? Saya perlu cerita sedikit yang lagi-lagi tentang ke-aku-an.

Tepat sebelum mendapatkan buku ini, saya sempat menulis tentang Mencatat sisa umur di liang lahat, lantas mengirimkannya ke seorang kenalan. Beberapa saat kemudian setelah berbalas pesan ia menyarankan buku ini. Mungkin ini yang saya cari, sebuah cerita jujur dan bebas yang ditulis menjelang kematian, wasiat.

...suara perempuan pertama yang kucintai ternyata bisa menyakitkan. "Cuma segitu?" Tidak, bahkan itu mengisyaratkan dia punya lebih banyak uang daripada yang kupunya --tiga koin tembaga tidak dianggap sebagai uang sama sekali. Penghinaan ini lebih aneh daripada yang pernah kucicipi sebelumnya, penghinaan yang tidak dapat kutanggung. Sepertinya aku belum bisa membebaskan diriku dari peran sebagai anak orang kaya. Ketika itulah aku memutuskan, kali itu sungguh-sungguh, untuk bunuh diri.
Hal. 50

Saya tahu apa yang ingin Anda sampaikan. Biar saya bantu menyampaikannya: Terima kasih, Dazai (atau Yozo) telah mewakili, 'kan?

Di akhir Catatan kedua, percobaan pertama Dazai untuk membunuh dirinya gagal.

Catatan ketiga, bagian satu

Dazai mulai memasukkan Tuhan dalam deskripsinya. Apakah ini terlalu terlambat? Atau bisa jadi merupakan sebuah kesadaran yang muncul lantaran pada Catatan kedua sebelumnya, tokoh utama berpelukan erat dengan alkohol dan pelacuran.

Aku bahkan ketakutan pada Tuhan. Aku tidak dapat meyakini cinta-Nya, hanya hukuman-Nya. Iman. Kurasa, itu artinya menghadapi pengadilan jaksa dengan kepala tunduk menerima deraan Tuhan. Aku dapat mengimani neraka, tapi mustahil bagiku untuk mengimani surga.
Hal. 71

Di bagian ini, ia juga memasukkan sepenggal puisi lawas.

... et puis on recommence encore le lendemain
avec settlement la meme regie que la veille
et qui est d'eviter les grandes joies barbares
de meme que les grandes douleurs
comme un crapaud contourne une pierre sur son
chemin...

...dan kemudian kita memulainya lagi keesokan harinya
dengan aturan yang persis sama seperti hari sebelumnya
yaitu menghindari kegembiraan besar yang liar
begitu pula dengan kesedihan yang mendalam
seperti seekor kodok yang menghindari batu di jalannya..
Hal. 75

Saya perlu memasukkannya ke sini soalnya terdapat catatan kaki bahwa, sepenggal puisi di atas diciptakan Guy-Charles Cros dari Les Fêtes quotidiennes (1912). Namun bukan soal itu, saya tidak tahu siapa orang itu --pun buku puisi berjudul itu. Ada alasan yang lebih mendasar, bahwa Guy-Charles Cros lahir 2 Februari 1879 dan wafat 28 November 1956. Itu saja.

Masih di bagian ini, tokoh utama untuk kali pertama berdoa kepada Tuhan. Jadi, lagi-lagi, saya akan memasukkannya. Sebab, sesuatu yang pertama atau terakhir terasa perlu dicatat. Kira-kira begini.

Mereka bahagia, mereka berdua. Konyolnya aku masuk dalam hidup mereka. Bisa saja aku menghancurkan mereka kalau tidak hati-hati. Kebahagiaan yang sederhana. Ibu dan anak yang baik. Aku berpikir, Tuhan, kalau Engkau mau mendengarkan doa dari orang-orang sepertiku, berkati aku dengan kebahagiaan sekali saja, sekali saja seumur hidupku cukuplah! Dengarkanlah doaku!
Hal. 76

Di zaman sekarang, kita akrab dengan media sosial. Begitu banyak orang --kelihatan-- bijak yang mengatakan tentang pengandaikan menyisakan nasi saat makan.

Dazai, pada 1948 atau sebelumnya, telah menuliskannya --atau setidaknya memikirkannya, dan sempat mempercayai.

kalau sepuluh miliar orang menyisihkan tiga butir nasi dari makan siangnya, berapa karung nasi yang dimubazirkan dalam sehari; kalau sepuluh miliar orang menghemat satu lembar tisu per hari, berapa banyak pohon pulp yang akan selamat?
Hal. 79

Yang tepat setelahnya langsung disangkal dengan menyebut sebagai kebohongan ilmu dan kebohongan statistik dan matematika.

Catatan ketiga, bagian dua

Tokoh utama menikah, menjalani kehidupan layaknya keluarga bahagia. Namun pada akhirnya sebuah bencana yang cukup besar muncul, hingga membuatnya melaksanakan prosesi bunuh diri yang kedua.

Bencana itu adalah istrinya yang lebih muda dan semula perawan, dan polos, kemudian entah mengapa melakukan sesuatu yang tercela dengan penjaga toko.

Berkat dikasih tahu --kalau boleh disebut-- sahabatnya, tokoh utama mengetahui kejadiannya dengan mata kepala sendiri.

Di sana muncul gejolak batin, seharusnya ia tidak tahu. Kemarahannya justru lebih banyak menyerang ke sahabat yang memberi tahu itu. Seharusnya bejalan begitu saja tanpa ada pengetahuan apa-apa tentang apa-apa yang terjadi.

Tokoh utama merasa dilema yang semakin diperparah dengan tuak Tuban. Ia tidak bisa meninggalkan istrinya yang masih dianggapnya polos, begitu juga tidak bisa menerima dan memaafkannya.

Akhirnya, ia melaksanakan prosesi bunuh diri dengan spontan tatkala mencari sirup Marjan di dapur yang remang-remang. Eh, malah menemukan sekotak obat penenang di sana. Begitu saja. Ia masukkan seluruh isi kotak itu ke dalam mulut lalu mendorongnya dengan air.

Hanya saja, usaha itu gagal belaka.

Dazai di dunia nyata melakukan lima kali usaha membunuh dirinya sendiri, dan yang terakhir kali berhasil.

Saat tokoh utama itu siuman, ia mengatakan sesuatu yang berangkali kita juga setuju.

"Aku akan pergi ke tempat tidak ada perempuan."
Hal. 99

Dazai boleh saya katakan berhasil tampil sebagai sosok paling sedih dan menderita sedunia. Dunianya sendiri, tentu saja. Andaikan bisa membaca dengan pemaknaan penuh dari bahasa ibu Dazai, barangkali Ningen Shikkaku akan menjadi lebih muram dan kelam.

Tak khayal dalam kartun Jepang berjudul Bungō Sutorei Doggusu (2016), dikisahkan ia menjadi musuh utama dari Fyodor Dostoyevsky. Sebab di novel wasiat ini pula, dengan bahasa yang kelewat lugas menyebut Dostoyevsky sebagai benak yang kacau.

Aku merasa mulai memahami apa yang ada di benak Dostoyevski yang kacau itu, dasar kolam keruh penuh sampah...
Hal. 93

Bagian ini tokoh utama masih kecanduan tuak Tuban yang rasa lokalnya begitu luar biasa menenangkan. Hingga pada akhirnya ia menemukan penggantinya atas saran apoteker pincang, obat bernama suntikan morfin. Sejak saat itu, setetes tuak pun tak pernah ia sentuh.

Kekacauan dalam pikiran tokoh utama masih raksasa. Semula satu suntikan, menjadi dua, tiga, dan untuk pamungkasnya sepuluh suntikan dalam semalam disusul menjatuhkan diri ke sungai. Percobaan yang ketiga, ia masih selamat.

Akhirnya, keinginan tokoh ingin berada di tempat tidak ada perempuan benar-benar terwujud. Ia berakhir di bangsal rumah sakit jiwa, terkurung bersama para laki-laki gila, di mana semua perawat juga laki-laki.

Saya tersenyum kecut yang miris tatkala sampai pada ini.

Aku tentu tidak gila. Aku tidak pernah sekejap pun merasa gila. Aku tahu, katanya orang paling gila juga berkata demikian.
Hal. 108

Dan... untuk pertama kalinya... saya menemukan kalimat gagal jadi manusia berada satu paragraf denga kata Tuhan di halaman 108, beberapa lembar menjelang akhir.

Tuhan, aku bertanya padamu, apakah pasrah adalah dosa? Aku meratap atas senyum indah Horiki, lupa berhati-hati dan melawan, aku sukarela masuk ke mobil yang membawaku ke sini. Dan sekarang aku telah menjadi orang gila. Bahkan kalau aku dibebaskan, selamanya di jidatku akan ada cap "orang gila" atau mungkin "orang buangan". Gagal jadi manusia. Detik itu juga aku sama sekali berhenti menjadi manusia.
Hal. 108

Hanya saja itu tidak selamanya. Di akhir Catatan ketiga, bagian dua ini, tokoh utama dikeluarkan oleh kakaknya. Dibelikan rumah sederhana di kampung pinggir pantai, lengkap dengan babu tua yang dengan sembrono memberi obat pencahar agar tokoh utama bisa tidur.

Sekarang aku tidak memiliki kebahagiaan maupun kesedihan. Segalanya berlalu. Itu dan hanya itulah yang menurutku nyaris mendekati kebenaran...
Hal. 110

Epilog, menceritakan proses bagaimana si penulis menerima buku-buku catatan itu pada 1930-an. Sempat menyarankan untuk menerbitkan di majalah tanpa menambahkan narasi yang ceroboh. Namun akhirnya semua buku-buku itu tetap diterima. Dan hasilnya merupakan novel yang barusan kita bahas di atas.

Sudah sepuluh tahun. Saya pikir, dia mungkin sudah mati...
Hal. 114


Setelah membaca novel ini di usia tiga puluhan, dimasak dengan kecepatan mengolah data otak saya yang agaknya biasa-biasa saja, saya mendapatkan beberapa hal.

Pertama, sepertinya narasi muram dan kelam dari novel ini akan lebih terasa di bahasa Jepang. Sebab, terbitan Basabasi ini merupakan terjemahan dari versi bahasa Inggris, No Longer Human terbitan A New Direction Book.

Kedua, sebuah disklaimer yang mungkin terlambat. Setelah saya tulis resensi ini, melihat ulang bentuknya, agak berlebihan kalau menyebutnya resensi. Anda bebas menyebutnya apa, misalnya: metode mengumpulkan kata-kata indah sebuah novel.

Ketiga, sebenarnya novel yang ringkas, hanya 116 halaman efisien. Dapat saya selesaikan dalam sekali duduk, itu pun kalau tidak datang si Hari Niskala.

Keempat, aura menceritakan dirinya sendiri sangat terasa. Semacam autobiografi, yang ternyata juga dijelaskan di bagian Tentang penulis.

Kelima, Dazai tidak sekadar bergurau. Ia cukup berani untuk melaksanakan apa yang ia tuliskan. Membunuh dirinya sendiri, misalnya.

Keenam, ini agak sembrono, tetapi akan lebih syahdu kalau judulnya kita kembalikan ke semula, Gagal jadi manusia.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi