Mencatat sisa umur di liang lahat
Tulisan tentang sisa umur dan liang lahat selalu menarik. Seorang penulis akan menulisnya dengan kejujuran, dan kebebasan.
Lain cerita dengan narasi yang bersumber dari kebahagiaan, kemapanan, atau sesuatu yang memabukkan dan bikin terpingkal. Terlalu banyak kekosongan --atau kebohongan-- yang bersembunyi di relung sudut mata paling pinggir. Bersanding dengan lendir dan kotoran. Berwarna kuning pucat mirip nanah yang baru saja terpegang akan langsung terbuang.
Tidak ada kekhawatiran jika tulisan yang ia hasilkan menjadi begitu liar.
Tulisan itu hidup serupa anak singa yang tidak pernah melupakan siapa dirinya. Itu akan membesar, bergejolak, memunculkan riak yang kian waktu menggelombang. Tinggi dan deras. Menghanyutkan apa saja. Menyapu tanpa sisa.
Demikianlah... tulisan yang tercipta di ujung jalan usia adalah tulisan yang dibuat dengan sebenar-benarnya.
Saat ini saya tengah dalam kondisi yang sama belaka. Tidak memiliki harapan sebagaimana hari-hari sebelumnya. Datar. Monoton. Mengerikan.
Hanya saja, setelah membaca ulang Marah tanpa wajah, Amato Assagaf, kehidupan datar yang abu-abu dipenuhi dengan merah membara kemarahan.
Jika Anda benar-benar ingin mengetahui bagaimana sebuah tulisan menjadi liar, pun setelah ditinggal penulisnya, Marah tanpa wajah dapatlah menjadi contoh yang berada di urutan pertama.
Tulisan akan menunjukkan warnanya, atau taringnya, atau kelaminnya, tepat ketika pembacanya berada dalam kondisi yang senada.
Aroma-aroma keputusasaan terasa begitu datar sejak paragraf pertama. Apa yang tersisa bagiku dalam hidup yang tak akan lama lagi hanyalah kemarahan...
Saya sempat ingat tentang puisi Bersepakat dengan usia yang diciptakan Daruz Armedian pada 2016 silam. Aku ingin melepas manusia dari penjara kepala ini... Manusia yang selalu berharap hidup seribu tahun lagi... Betapa hanya sesal kupintal, begitu tahu di sepanjang usiaku, tak bisa apapun kulakukan kecuali kesia-siaan...
Aduhai, aroma mengerikan yang selalu saya rindukan, keputusasaan. Nikmat benar!
Puisi, diciptakan. Narasi, dituliskan. Begitulah kiranya saran Amato di sebuah tulisan yang saya lupa judulnya.
Sayangnya, saya tidak mampu memahami puisi yang bertingkat-tingkat dan berlapis-lapis maknanya. Mustahil saya sampai pada pemahaman yang sama dengan Hari Niskala. Orang itu agak aneh juga, dibilang zuhud namun masih memikirkan mencari uang di negara kaya yang dipimpin para keparat. Tidak bisa pula dibilang kedonyan, sebab hidupnya sederhana saja.
Anda tahu apa itu sederhana di sini? Datar. Monoton. Mengerikan.
Bagaimana saya --atau kita-- dapat hidup jika sudah tahu apa yang akan terjadi esok hari? Hal yang sama belaka. Lendir dan kotoran di sudut mata paling pinggir, berwarna kuning pucat mirip nanah yang baru terpegang akan langsung terbuang.
Tidak akan ada yang berubah ketika saya --atau kita-- menghilang saat ini juga. Dan... itulah juga yang membuat Bersepakat dengan usia menjadi lebih bermakna. Aku ingin mayatku dikuburkan, dan jejak-jejakku dimusnahkan...
Atau, aku mau mayatku dilarung agar jadi makanan ikan. Kerangka yang tersisa menjadi bagian kecil yang membangun fondasi sungai di sana.
Atau, aku mau mayatku hilang agar kuburanku tidak ditemukan untuk mewujudkan apa yang disebut jejak-jejakku dimusnahkan. Tidak akan ada itu blog mengetik, cerita seorang manusia yang sempat hadir di dunia, pun nisannya.
Saya hanya akan kembali ke relung di sudut mata paling pinggir yang disebut Jiwa Buana. Amato pernah mengatakannya, juga Coelho dalam The Alchemist.
Lantas di sana, di waktu luang saya akan memancing ikan, dan di waktu yang lebih luang menulis cerita.
Lebih dari sering aku telah mengangkat muka dan membuka mata hanya untuk menyaksikan impianku luruh satu demi satu tanpa pernah tahu kenapa aku [kita] harus punya mimpi.
Suatu waktu dengan imajinasi. Aduhai juga si keparat yang saya sebut dengan imajinasi itu. Saya bisa mendapatkan apapun di dalamnya tanpa gangguan, seperti membayangkan bagaimana akhir hayat yang cukup menarik.
Andaikan saya Aeschylus, saya akan menunggu burung dan kura-kura itu di alam baka, lantas memeluk mereka berdua sembari berbisik penuh ketulusan: terima kasih telah memberikanku kematian yang berarti.
Atau, andaikan saya Mishima, saya akan menunggu tanto itu di alam baka, lantas mengutukinya karena tidak bisa memberikan kematian yang segera.
Dan atau, andaikan saya Hemingway, saya akan menunggu senapan tersayang itu di alam baka, lantas mengatakan kepadanya dengan penyesalan bahwa sesungguhnya saya harus membersihkannya dengan lebih hati-hati.
Tulisan yang baik tidak seharusnya membicarakan tentang kedalaman kematian. Pun itu merupakan sisa umur dan liang lahat karena memiliki nuansa gelap yang aneh.
Sedang di sini, saya tidak sedang menulis tulisan yang baik. Sama seperti tulisan-tulisan lain sebelum pun sesudah ini yang hanya akan menjadi lendir dan kotoran di sudut mata paling pinggir, berwarna kuning pucat mirip nanah yang baru terpegang akan langsung terbuang.
Oooh... macan sebesar sapi... mengapa engkau tidak kunjung datang ke dalam mimpi?
Pramoedya benar juga, tatkala manusia lahir kedunia, ia dijatuhi hukuman mati. Murakami manggut-manggut karena memiliki keyakinan bahwa cepat atau lambat orang pasti mati. Kematian adalah niscaya belaka.
Jika kematian adalah satu hal, maka menghadapinya adalah hal lain.
Kehidupan yang datar apakah hanya mendatangkan kematian yang datar pula?
Orang akan mengingat kematian orang lain dalam tujuh hari atau empat puluh hari, kecuali orang yang arif. Orang-orang arif akan menjadi ingatan tersendiri di sebuah relung kedalaman tertentu bagi yang masih hidup. Jadi, bukankah mereka tidak benar-benar mati dalam arti menghilang? Lenyap?
Selawat untuk Muhammad!
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi