Bersepakat dengan usia, Daruz Armedian

Dalam setiap kata yang ia tulis, Daruz Armedian seperti mengupas kulit pikirannya sendiri, memperlihatkan daging kegelisahan yang tak pernah sembuh.

Membacanya adalah menatap cermin yang retak, di mana setiap pecahan memantulkan wajah kita yang mungkin tak ingin kita akui.


Aku ingin melepas manusia dari penjara kepala ini

Manusia yang selalu berharap hidup seribu tahun lagi

Betapa hanya sesal kupintal,

begitu tahu di sepanjang usiaku,

tak bisa apapun kulakukan kecuali kesia-siaan

Harusnya aku bersepakat dengan usiaku,

tak perlu memanjangkan angan-angan

Hidupku tak mungkin bisa setua waktu

Aku tak hendak berteriak lagi:

kenanglah aku kenanglah!

Aku ingin mayatku dikuburkan,

dan jejak-jejakku dimusnahkan

Aku tak ingin menjadi sampah,

di kepala orang-orang!

2016

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi