Kopi air mata

Dalam kehidupan yang bimbang
membayang, ada sebuah lentera harapan
Berwujud manusia jelita
Datang tangan terulur
Jalan tangan memukul
Sesal, dibuang di jalan, dipermalukan

Kecewa ini teruntuk lentera itu
Diwakili air mata yang hitam

Lentera harapan, sebagai penerang
Nyatanya bukan nur, tapi nar!
Terang yang panas dan membakar
bukan yang hangat dan memeluk

Bakar saja semua rasa cintamu!
hingga habis, bersih
agar orang lain yang pantas
Dapat hadir mengisi cemas.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi