Memberi itu terangkan hati, termasuk memberi slat pancing
Ini sekadar catatan, bukan bermaksud mengatakan bahwa saya orang baik yang gemar memberi. Kalau saya orang yang sepenuhnya baik, tentunya tak sampai mendapat julukan dewa mabuk dan dewa judi.
Baik, kita abaikan hal di atas…
Mengutip salah satu lirik lagu dari Virgiawan Listanto, Seperti Matahari:
Ada benarnya nasehat orang-orang suci
Memberi itu terangkan hati
Seperti matahari yang menyinari bumi
Yang menyinari bumi
Tadi, kakak laki-laki dari ibu mertua (pak dhe) saban Jumat selalu datang. Orang Jawa mengatakan dolan, dan dolan itu rutin setiap Jumat sebelum pergi mancing.
Saya bertanya bahwa apakah masih sering mancing, ia mengatakan bahwa sudah cukup jarang dinas perairan.
Berbagai sengkarut dalam kehidupan itu tampak di gelambir wajahnya yang sudah uzur. Entah mengapa saya tiba-tiba mengatakan bahwa ada beberapa pancing yang tidak dipakai, dan kalau mau boleh dibawa pulang.
Ternyata, gelambir wajahnya menunjukkan segaris keceriaan. Ia ingin melihat dulu. Lantas, saya keluarkan empat buah alat pancing itu.
Ia memilih dengan cermat, sebuah pilihan jatuh pada Xuancai 360. Sebenarnya, itu bukan merek pancing mahal, namun juga enggak murah-murah amat.
Seketika saya mengatakan bahwa ia memilih pancing yang paling tepat. Itu adalah pancing dengan spesifikasi medium-kaku, kuat, dan relatif langka. Xuancai 360 stok lama yang tutup bawah masih bulat (bukan datar seperti di keluaran Threefish baru).
Melihat gelambir wajahnya yang senantiasa ceria, saya kemudian menawarkan pancing yang lain.
Termasuk Jianghome 300, Oregon Mamba 240/270/300, dan Shimano DX 44. Namun ia merasa cukup dengan pancing itu.
Saya tahu betul, ia sama sekali tidak paham dengan merek-merek pancing. Ia hanya ambil yang menurutnya cocok saja.
Jika saya menawarkan kepada Anda, kemungkinan besar Anda akan pilih Shimano DX 44, atau malah mau ambil semua, bukan begitu?
Orang tua memang demikian, kebanyakan mengutamakan fungsi alih-alih estetika. Hanya saja, Xuancai 360 juga cukup indah, dan saya berikan lengkap dengan kotak sekaligus sarung bawaan.
Terakhir sebelum pamit pulang, saya ingat betul, ia berterima kasih sebanyak lima kali. Menjabat tangan saya dua kali, dan gelambir di wajahnya sudah sepenuhnya berubah menjadi kebahagiaan.
Sebenarnya, saya ingin berpesan bahwa alat pancing pemberian jangan sampai dijual. Tetapi, berpesan kepada orang yang jauh lebih tua kiranya bukan sesuatu yang pandai saya lakukan.
Demikianlah Virgiawan Listanto muda membuat lagu, saya lumayan setuju dengan liriknya bahwa, memberi itu terangkan hati seperti matahari yang menyinari bumi.
Bagaimana menurut Anda? Apakah merasakan hal serupa saat memberikan sesuatu?
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi