Mancing malam di sungai besar, sebuah nostalgia masa dahulu
Saya sudah lama tidak mancing malam di sungai besar. Kalau tak salah ingat, terakhir kali melakukannya tahun 2019 silam.
Ternyata benar kata orang, memancing itu seperti naik sepeda. Sekali suka, tak akan bisa lupa.
Mancing malam memiliki kesan tersendiri. Termasuk ngeri-ngeri sedap, adem, sejuk, dan hening.
Sebenarnya, saya ini bukan orang yang berani-berani amat. Jika mancing malam pasti ada teman. Kalau sendiri, saya mungkin akan lebih memilih mangkring bersama bini daripada mancing.
Lagi-lagi tulisan ini sekadar refleksi saya secara subjektif. Kesan nostalgia zaman dulu saat masih bujang, terulang kembali dengan adanya mancing malam.
Khusus untuk saat ini, saya menerapkan lebih baik minta maaf daripada minta izin.
Bukan tanpa alasan, bini saya sebenarnya bisa mutung satu minggu penuh jika mendapati saya nekat mancing malam di sungai besar.
Niat saya sesungguhnya bukan untuk melanggar larangan bini. Hanya saja, ajakan teman untuk mancing malam ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, bahkan dua tumpukan.
Mumpung ada info p mancing, pikir saya, ya saya gas saja.
Malam itu kami menggunakan umpan alakadarnya; cacing dan roti. Cacing untuk mancing ikan, roti untuk pakan pemancing.
Jika melihat yang terdahulu, yang effort begitu tak terkira, mestinya kita bawa usus bacem, ayam tiren, racikan tempe, pisang Raja Jambe, brodot patin, atau umpan lain yang membutuhkan persiapan khusus.
Teman saya, berdasarkan pengakuannya, sebenarnya sering mancing malam. Hanya saja ia mancing tidak di sungai besar. Lebih sering mancing di waduk yang notabene tempatnya bersih, aman, dan cukup ramai.
Menurutnya, mancing di sungai besar seperti masuk ke dunia lain. Hanya ada bunyi arus sungai yang mengisyaratkan kematian kalau nekat mencebur ke sana. Hanya ada suasana dan warna hitam belaka sejauh mata memandang. Hanya ada semburat sinar hijau mungil dari starlet yang terpasang di ujung joran pancing.
Serta sebuah harapan agar hantu tidak muncul, dan harapan agar ujung joran segera bergetar karena umpan dimakan ikan.
Memang demikianlah, mancing malam sebagaimana mancing pagi atau mancing sore. Tidak melulu akan dapat ikan.
Dari kami bertiga yang memasang masing-masing dua buah joran pancing. Saya seorang yang berhasil mengangkat seekor ikan berukuran dua jari, dan sebuah ingatan nostalgia zaman dulu.
Saya memiliki dua harapan terkait hal ini; pertama, semoga mancing malam menjadi lebih rutin. Kedua, semoga bini saya berubah pikiran memperbolehkan mancing malam di sungai besar, atau setidaknya kalau tetap tidak boleh, ia hanya tahu saya mancing malam di tempat wisata.
Ya, saya boleh-boleh saja mancing malam, namun bukan di sungai besar. Demikianlah, mancing seperti ini membawa hal baik sekaligus menghindari hal buruk.
Contohnya, Anda yang kecanduan slot online dan sudah habis segala-galanya, cobalah untuk memancing. Sehingga hobi mancing agaknya sedikit lebih mulia.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi