Mancing malam di kali irigasi pinggir warung kopi

Mancing malam hari di kali irigasi pinggir warung kopi. Kamu bisa membayangkan, itu cukup menakjubkan meski tidak membawa anggur atau semacamnya.

Apalagi di sungai itu memang banyak ikannya.

Kali irigasi pinggir warung kopi terasa lebih berkesan daripada hanya warung kopi tanpa ada kali. Terlebih kalau kita memang hobi mancing ikan. Menjadi tempat singgah yang terasa menggoda ketika pulang dari sebuah perjalanan.

Aku cukup kelelahan dengan banyak kegagalan yang barangkali tidak perlu disampaikan pula di sini. Ada lebih banyak persoalan genting atas negeri yang lebih layak mendapat perhatian kita.

Sehingga, di sini aku hanya berbicara omong kosong yang entahlah mau kaubaca atau tidak.

Syahdunya mancing malam

Mancing malam di kali irigasi pinggir warung kopi

Tahukah kau? Mungkin tidak tahu. Bahwa ada suara yang terdengar semakin jelas seiring malam yang semakin larut.

Kau dapat mendengar gemericik air yang padahal magrib tadi suaranya tidak disadari. Dan, kalau sudah tengah malam atau setelahnya, suara-suara yang muncul justru berasal dari hatimu.

Pikiran kita telah mengalami kelelahan brutal atas segala hal yang sejatinya fana belaka.

Mancing malam hari --seperti yang selalu aku katakan-- tidak lebih dari alibi.

Kita jadi punya semacam alasan untuk hantu-hantu mengapa perlu duduk di pinggir kali. Atau, alasan untuk orang di rumah yang sebenarnya tidak peduli amat apakah kita akan pulang atau menghilang.

Kita hanya perlu mengatakan, "Baru pulang mancing ikan". Sehingga tidak perlu menjelaskan bahwa kita sedang duduk di pinggir kali, mendengar suara hati, berbincang dengan hantu-hantu penunggu, mengurai sengkarut di kepala, mencoba mencari keajaiban.

Ditambah dengan segelas kopi hitam yang akan membuat kita sempurna tidak seperti orang gila.

Tidak ada orang gila (dalam pengertian sakit mental) yang berada di pinggir kali sambil membawa joran pancing, apalagi di sebelahnya ada segelas kopi.


Membiarkan pikiran mengembara ke mana saja

Belakangan, aku lebih senang menggunakan pancing reel dengan menarget ikan besar karena harus menunggu waktu yang cukup lama.

Lantas setelah kupikir baik-baik, tampaknya menunggu itulah yang menjadi tujuan.

Waktu menunggu saat mancing --di mana pun-- akan membuat pikiran mengembara ke mana saja. Kita tengah melepas belenggu yang mengikat leher pikiran, membiarkannya melayang-layang di angkasa atau menyelam di dasar lautan.

Apalagi ini malam hari. Erat kaitannya dengan hitam. Dan gelap, tentu saja. Yang dari mana saja di antara itu semua membuat cahaya yang kecil tampak lebih jelas.

Itulah mengapa mancing malam dapat membuka lebih banyak mata daripada mancing siang.

Sementara itu, mancing malam menawarkan jam-jam yang lebih banyak. Tidak ada suatu alasan yang terlampau mendesak untuk memaksa kita buru-buru pulang.

Semakin malam semakin sepi. Tidak ada keramaian yang menuntut perhatian kita.

Yang ada hanya waktu --banyak sekali waktu-- yang tiba-tiba terasa longgar setelah seharian dikejar (atau mengejar) hal fana.

Jika kau sudah melupakan mancing malam. Barangkali perlu kembali duduk tiam tanpa terburu-buru menyelesaikannya.


Kopi dingin, angin dingin, kepala pening

Mancing malam di kali irigasi pinggir warung kopi banyak ikan

Warung kopi pinggir kali itu sederhana saja. Bangku panjang dan meja seadanya. Serta seorang bapak penjaga warung yang lambat laun niscaya hafal wajah-wajah pemancing yang melipir setiap malam ke sana.

Aku memesan kopi, kembali duduk di tepi kali, sesekali menyesap kopi yang asapnya masih mengepul.

Beberapa bentar saja gelas kopi itu akan dingin. Bersamaan dengan udara malam yang turut semakin dingin.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi