Mencatat lempeng

Hidupku lempeng. Itu bisa berarti lurus. Tetapi akan lebih tepat jika kita sepakat dengan definisi lempeng sebagai lurus-hambar.

Tidak ada gejolak yang menarik. Semuanya berjalan tidak kentara seperti angin selatan yang membawa aroma garam. Seseorang menyebutnya getah bening. Aku lebih suka menyebutnya angin.

Kemalanganku belum sedalam jurang. Kebahagiaanku setinggi langit-langit rumah. Sedang di antara keduanya harus aku lumat apa-apa tanpa rasa.

Banyak orang sebelum aku yang memiliki utang segunung. Pada akhirnya setiap satu-satu dari mereka mati juga. Hal serupa juga berlaku untuk orang-orang setelahku.

Hanya segelintir manusia pilihan yang mampu menjangkau titik yang lebih tinggi (atau lebih rendah) sehingga hidupnya tidak lempeng. Merekalah orang-orang yang menonjol. Seperti siswa di kelas yang paling pintar, atau siswa di kelas yang paling nakal, yang hanya selain yang pertama adalah yang kedua dapat menarik perhatian guru.

Sementara itu, dua puluh delapan siswa lainnya lempeng-lempeng saja. Mereka ada sebatas untuk membubuhkan nama di absensi. Paling banter, mengisi ruang kelas agar tidak terlihat kosong. Dalam sebuah gim model apapun, mereka hanyalah NPC yang tidak memiliki manfaat kecuali mendukung tokoh utama.

Setelah segelas kopi yang dibuatkan bini, tawa anak perempuan berusia dua tahun dari dapur, dua batang rokok murah, dan sebuah catatan tentang hidup lempeng; aku diam.

Hidupku sekarang lempeng. Aku ingin kembali pada masa-masa penuh gejolak gairah sewaktu muda itu. Masa-masa memancing ikan malam hari di kali tengah sawah sendirian, lalu pulang perlahan dengan dua botol anggur kosong. Merebahkan diri tiga jam merasai dunia berputar, sebelum mengenakan sarung dan peci untuk salat subuh berjemaah di musala.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi