Menulis pakai AI, menebang pakai kapak tumpul

Seperti esensi dari blog ini. Aku akan mencatat apa pun sebebas-bebasnya. Aku tidak terikat pada kaidah kepenulisan artikel SEO, hasil test rich result, atau hal mengikat lainnya. Biarlah ini jadi catatan. Catatan. Ya, tidak lebih.

Dua hari aku menulis berita menggunakan AI di sebuah blog baru. Sejak dua hari itu, tidak ada blog yang kuurus. Memecut AI dengan begitu rupa. Habis limit, ganti AI yang lain. Habis limit semua, ganti akun. Siklus itu berulang sampai aku lupa bahwa pukul dua dini hari sebaiknya sudah tidur.

Dan hari ini, hari ketiga, aku mengistirahatkan AI hanya agar aku juga bisa beristirahat.

Kupikir istirahat bukan hobiku. Sehingga, aku login ke blog mancing, mulai menulis artikel mancing tanpa menggunakan AI --karena memang AI mustahil memahami memancing ikan.

Dapat dua paragraf, kepalaku mengeluarkan asap. Tidak bisa ini dipacu terus! Rasa-rasanya tulisan kehabisan kata-katanya. Tulisan juga buta, tidak mampu melihat ke mana arahnya.

Untuk menulis catatan ini saja harus aku luangkan lebih banyak waktu dan energi. Sialan betul! Menulis pakai AI, yang kemudian menulis manual, seperti menebang pohon pakai kapak tumpul.

Otakku kini tumpul. Sedang untuk menajamkannya kembali harus diasah. Dan mengasah otak akan lebih rumit dan menyakitkan daripada mengasah kapak.

Anggapan bahwa otakku kini tumpul saja barangkali keliru. Siapa tahu sebelum-sebelumnya otakku memang tidak pernah tajam. Hanya aku saja yang belum menyadarinya.

Entahlah. Yang jelas sekarang aku pusing. Sangat.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi