Mencatat tengah malam 2
00:07
Jam dinding berdetak laiknya orang yang mengetuk pintu rumah kosong. Ketukan pelan yang malah terasa menggedor-nggedor dan mengganggu lubuk hatiku. Aku merasa perlu mencatat satu kata, atau satu kalimat, atau satu paragraf, atau satu catatan utuh pun tak utuh; sebab hanyalah tengah malam yang sudi mendengar kalimatku sampai habis. Tengah malam, barangkali satu-satunya kengerian dalam titik nadir yang mampu kutatap matanya.
Aku duduk di kursi warung kopi biasanya yang hampir tutup. Lagi-lagi, di hadapan Chromebook yang kini jumlah papan tik yang njepat bertambah menjadi empat. Di sampingnya ada bekas kopi siang tadi yang sudah kering. Di sampingnya lagi ada dua asbak yang penuh. Sedang di dalam kepalaku ada setumpuk kertas yang lembab oleh entah apa.
Setelah lampu terang terakhir berubah menjadi remang, semuanya kembali menjadi milik kucing ingin kawin dan jangkrik yang gugup menghadapi dini hari. Seluruh dunia sepakat untuk bersitirahat, sialnya, aku lupa menandatangani kesepakatan itu.
01:24
Beberapa kali aku kepikiran untuk pulang hanya agar bisa segera merebahkan badan di atas ranjang. Lantas mengambil kesepian sebagai selimut yang menutupi tubuh, persis mayat yang dibungkus beberapa lapis kain sebelum ditanam.
Tetangga timur yang selalu pesta miras dan tetangga barat mengerang keenakan karena entah, dan aku berada di antaranya. Yang tanpa basa-basi hari baru datang untuk memaksaku bangkit kembali seolah malam terlewat begitu saja. Setiap bagian tubuhku ingin mengutuki pengulangan keparat itu tetapi masih merasa takut akan sesuatu.
Membayangkan semuanya membuatku semakin yakin bahwa berdiam di warung kopi sendirian adalah salah satu pilihan masuk akal. Dan mungkin yang kurasakan bukanlah marah --atau sudah kelewat marah. Marah hanyalah untuk manusia; sedang aku tidak lain bangku di ruang kelas sekolah dasar hari Minggu.
02:03
Kupikir pengorbanan adalah mata uang. Kuberikan waktu, tenaga, dan separuh diriku, lalu suatu hari akan ada yang menukarnya dengan semacam perhatian. Ternyata tidak ada kasir di ujung jalan itu. Hanya ada aku dan selimut, dan kantong kosong, yang masih berdiri di antrean yang kubayangkan. Sayangnya, di antara semua orang yang kutemui, benar-benar tidak ada yang jahat. Seharusnya ada. Seharusnya. Agar aku punya alasan untuk pergi yang tidak akan pernah kembali.
Pada akhirnya, tengah malamku tak ubahnya kaset pita kusut yang diputar hantu-hantu dan nenek-nenek saat surup. Didengarkannya sembari menyapu halaman berluas-luas. Mereka mendengarnya dengan seksama, sementara aku yang masih terjaga mendengar bisikan aneh bahwa Gusti Allah mboten sare.
03:21
Aku tak akan berpura-pura imanku kokoh seperti gunung. Itu barangkali lebih menyerupai lilin di ruang berangin yang bergoyang-goyang dan yang nyaris padam dan yang setiap kali aku menutupinya dengan telapak tangan yang gemetar maka itu akan menari-nari. Dan aku agaknya juga perlu berpikir apakah itu kekuatanku atau kebaikan-Nya yang tak hingga atau dua-duanya atau tak perlu aku berpikir apa-apa selain menjalaninya begini saja.
Dalam degup jantung satu-satu dan perut keroncongan, lagi-lagi aku meyakini bahwa keajaiban itu nyata. Aku sering mendengar orang-orang suci memperolehnya melalui jalan yang entah. Bahkan, beberapa cerita juga mengatakan keajaiban menjumpai orang-orang biasa. Bahkan, beberapa cerita juga mengatakan keajaiban menjumpai setengah manusia di waktu-waktu paling buruk ketika semua jalan buntu sehingga mereka berhasil menghindari nasib celaka.
Dan, lagi, aku tak akan berpura-pura bahwa aku begitu mengharapkannya. Dan, lagi, jika aku begitu mengharapkannya maka dia akan datang. Yang tidak kutahu, apakah kedatangannya dalam bentuk yang kuinginkan atau berupa pagi yang sebentar lagi dan aku yang masih bernapas menyambutnya.
Dari masjid di ujung entah mana terdengar suara orang membersihkan tenggorokan di depan pengeras suara. Sebentar lagi azan. Langit di sela tirai berubah dari hitam menjadi biru yang malu-lau sepert tinta yang diencerkan setetes demi setetes.
Setelah semuanya, aku perlu merampungkan catatan ini yang tidak akan bermakna apa-apa selain menjadi seorang saksi bahwa pernah ada seorang nyaris celaka bertahan sampai subuh sendirian di warung kopi yang itu-itu saja. Dan kalau perlu ada harapan, semoga aku masih punya cukup tekad untuk percaya bahwa keajaiban sedang dalam perjalanan mendekat.
Cepat!
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi