Mencatat tengah malam

Di tepian malam menuju hari baru serupa vagina yang melahirkan tulisan baru. Keluar lewat lorong waktu karena pergantian waktu menembus apa saja yang ada di situ. Di situlah aku duduk menghadapi tulisan-tulisan rancu dan pada akhirnya tersipu malu. Mengapus satu-satu dan menulis dua-dua untuk kembali pada kerancuan yang sama.

Sebuah gelas kopi kosong menemani hari ini bersalaman ganti giliran dengan hari berikutnya. Di sampingnya ada asbak yang penuh putung rokok. Dia bersaksi bahwa akhir malam menuju tepian tidak pernah dilewati dengan kosong pikiran.

Beberapa tulisan di blog bajakan kubaca untuk menemukan penulisnya. Beberapa penulis telah lebih dulu berjabat tangan dengan kematian hingga mereka melebur menjadi tulisan. Membacai tulisan-tulisan orang mati rasa-rasanya juga berbicara dengan mereka seorang diri. Di sebuah ruangan yang terlepas dari ruang dan waktu namun tidak dengan kematian.

Aku tidak memahami satu pun teori dari orang-orang terdahulu yang menjadi fondasi pemikiran orang-orang terkini. Sehingga apa yang kuhasilkan di tepian malam hanyalah asap yang terbang-malas. Juga kentut ganas tak terbendung. Ditambah garuk gatal saat semut merayapi lubang pantat dengan sembrono.

Dengan semua itu tengah malam berada di tepian menyambut esok yang sebentar lagi datang.

Di antara kenangan ada ingatan samar-samar tentang percakapan lewat pesan singkat kepada seorang perempuan. Namun kini, percakapanku hanya kepada Tuhan agar karunia-Nya juga terpancar untuk para penulis yang tulus di alam baka.

Aku tidak pernah melepaskan kegelisahan pada apa-apa tawaran fana selainnya. Lantas kusadari waktu telah berganti menjadi dini hari meski tulisan belum selesai. Pada beberapa (atau lebih banyak) ketidaksempurnaan tulisan justru kutemukan (semacam) keindahan. Aku akan tersenyum geli sebelum malu mengapus satu-satu untuk kesekian kalinya.

Kalau ada yang perlu kutulis saat tengah malam tentu saja soal lapar. Waktu-waktu ini lapar menjadi raksasa yang justru karenanya aku menyukainya. Tidak banyak kesempatan dengan bebas menanggung lapar selain tengah malam. Sehingga sebagian doa-doa adalah mampu memelihara lapar agar terhindar dari keserakahan.

Sekelumit hari celaka tidak ada di kalender. Hari celaka hanyalah ada di anggapan manusia yang rawan dan rapuh. Aku mencium aroma garam dari angin yang telah terbang ratusan kilometer menghantam batu dan karang, hati dan pikiran, tulisan dan catatan. Kemudian membiarkan aroma tersebut mengendap di tulisanku tentang tengah malam.

Begitu jugalah kokok ayam yang seolah memiliki arloji di atas taji. Mereka lebih tahu sekarang pukul berapa daripada seorang pemancing malam yang menunggu datangnya keajaiban atau wahyu yang dibisikkan di belakang telinga.

Setelah sampai pada ampas kopi paling kering dan batang rokok terakhir dan tetes peras otak terpelintir dan hati yang menanggung sengkarut sama, sekarang adalah tengah malam, aku tidak tahu lagi harus mengucapkan selamat tinggal untuk hari ini atau selamat datang untuk hari ini.

Tengah malam adalah bilangan imajiner serupa anomali yang waktu sendiri tidak memiliki kuasa atasnya. Dan yang lebih ganjil adalah seorang asing menulisnya dengan bahasa aneh untuk mengenangnya.

Dengung dan erang kadang terdengar; namun belakangan yang lebih sering hanyalah isak yang sembunyi di balik bantal. Beriringan dengan detik jam dan detak jantung bergantian.

Dan bukankah tengah malam sama dengan kematian untuk kehidupan? Aku melintasi mati untuk menuju hidup yang baru, yang kemudian akan melintasi hidup hingga sampai pada tepi mati dan menuju hidup yang baru melalui lorong vagina waktu.

Dan perasaan pada tengah malam selalu terombang-ambing seperti sekoci di tengah lautan antara pulang mencari rumah atau lanjut mendayung menuju entah.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi