Melihat orang-orang dari bawah jurang

Konon katanya hidup ini seperti roda, kadang berada di atas, kadang berada di bawah. Namun, tidak seperti kehidupan Joni.

Joni memiliki keyakinan yang aneh kalau roda kehidupnnya sedang rusak. Ia sudah berlari-lari untuk cari bengkel roda terdekat. Sejak enam tahun lalu, sampai sekarang belum pula lekas ia temukan bengkel itu. Sehingga roda kehidupan Joni tetap berada di bawah. Kempes. Menyatu dengan tanah menjadi sarang serangga dan cacing.

Lain cerita dengan Jeni, teman karib yang kata orang-orang antara keduanya kembar. Satu-satunya yang membedakan mereka adalah jenis kelamin. Joni memiliki sejenis torpedo kecil di antara dua kakinya, sedang di tempatnya Jeni itu tidak ada.

Kata orang seringkali berbeda dengan kenyataan. Bagi Joni perbedaan mereka bukan semata-mata jenis kelamin. Semuanya berbeda. Joni yang yatim, Jeni yang utuh keluarganya. Joni yang murung, Jeni yang selalu tersenyum hari-harinya. Dan yang paling membedakan menurut Joni adalah ia miskin. Jeni... terlampau kaya.

Hanya ada dua aktivitas yang akan Joni kerjakan setiap hari. Pertama, ia akan mencari kerja. Kedua, ia akan mencari bengkel roda.

Tak jarang ia harus melakukan keduanya sekaligus dalam satu waktu.

Sempat dua hari lalu ketika bertemu Tono --salah satu karib masa kecilnya dulu-- yang sekarang menjadi carik di desa. Tono menyarankan kepada Joni bahwa ia sebaiknya lebih fokus pada program pemerintah untuk mengentas kemiskinan di negeri ini.

Joni langsung berbalik dan mengatakan bahwa lebih masuk akal mengharap pada hantu di Gunung Kawi daripada pemerintah negeri.

Wajah Toni entah mengapa memerah.

Samar-samar dari jarak lima langkah Joni mendengar pelan di belakangnya, "Manusia ini mustahil bisa ditolong."

~

Jumat siang itu gerimis turun meski matahari masih bersinar terang. Layar ponsel setiap orang di warung kopi juga menyala. Sibuk sekali mereka dengan sesuatu entah apa.

Di pojok warung yang paling sunyi dan angker, kita akan menjumpai Joni yang sibuk dengan aktivitasnya. Ia membolak-balik majalah tahun 2006 yang teramat lawas, mencari informasi yang barangkali membantunya dalam usaha mencari pekerjaan dan bengkel roda.

Sampul kusam majalah menampilkan sosok perempuan dengan teks besar mirip patung di negari tetangga yang konon melambangkan kebebasan itu.

Joni teramat serius membaca setiap teks di dalamnya seolah tidak ingin ada satu pun yang terlewat darinya. Ia bahkan membaca iklan Mak Erot yang kemudian melipat halaman itu jika suatu saat membutuhkan untuk suatu urusan penting.

Beberapa halaman selanjutnya matanya terbelalak. Sepertinya Joni menemukan informasi yang berkaitan dengan apa yang selama ini ia cari selama enam tahun belakangan.

...cerita bersambung

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi