Kampus: indekos paling megah
Siapa pun yang berhubungan dengan indekos, nyaris semua berhubungan djuga dengan uang.
Baik penyewa maupun inang.
Penyewa-penyewa tersebut di antaranya: pelancong, karyawan, sepasang kekasih yang sange, dan yang paling banyak adalah mahasiswa.
Mahasiwa adalah pelajar di perguruan tinggi. Bangunan di perguruan tinggi tersebut, yang digunakan sebagai tempat belajar dan membodohi mengajar disebut kampus.
Mahasiwa di suatu kampus lebih dari 8.000. Ini angka yang sedang-sedang saja, kampus besar di kota yang besar pula, angka 8.000 bukan sesuatu yang mengagetkan.
Sebenarnya judul Kampus: indekos paling megah berasal dari pengalaman empiris.
Saya pernah kuliah di sekolah tinggi. Pernah pula mencoba menyewa indekos di sekitar kampus.
Namun lebih sering nomaden.
Kegiatan berpindah-pindah indekos tersebut malah memperkaya daftar saya tentang indekos di sekitar kampus serta karakter orang-orang berengsek.
Uang di antara penyewa dan inangnya
Seharusnya, tidak ada kalkulasi di antara kita.
Tapi bagaimana lagi, biar uang berputar, biar kehidupan berjalan, dan biar saya tidak tidur di jalanan, harus saya siapkan uang.
Yang lantas kemudian diserahkan kepada pemilik indekos --yang kita sebut sebagai inang.
Kami menyewa rumah, setahun 800 ribu yang dibagi enam anak.
Uang itu diserahkan pada bulan pertama di awal tahun, meskipun lunasnya bisa sampai bulan terakhir di tahun tersebut.
Para penyewa indekos juga memerlukan keberuntungan agar mendapat inang yang baik.
Sebenarnya keberuntungan macam begitu bisa dibuat, dengan bertanya pada tetangga sekitar atau mencari data dari pengalaman mahasiswa lapuk lain yang pernah tinggal di sana.
Bukan hal yang mustahil.
Sedangkan uang yang mesti disiapkan untuk inang pemilik indekos adalah: ia mesti juga membayar pajak hotel.
Perda Kabupaten Tulungagung No. 16 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah (sekarang diubah dengan Perda No. 12 Tahun 2012) indekos masuk salah satu bangunan yang kena pajak.
Dalam hal ini dikategorikan sebagai pajak hotel. Tetuang dalam pasal 4 poin 3j.
Rumah Kos dengan penghuni lebih dari 10 (sepuluh) orang.
Beberapa orang memandang sebagai peluang usaha. Sebab kampus yang berkembang di negara berkembang akan terus melonjak mahasiswanya. Prediksinya begitu.
Artinya, semakin banyak yang menjadikan indekos sebagai kebutuhan wajib mereka.
Di sekitar kampus di Kabupaten Tulungagung banyak sekali indekos-indekos. Sedang yang tercatat memiliki izin gangguan (HO) bisa dihitung jari.
Sebab pada pasal 4 tersebut tertulis di poin 3j: Rumah Kos dengan penghuni lebih dari 10 (sepuluh) orang.
Indekos saya tidak masuk kena pajak, artinya inang indekos ini tidak perlu mengurus perizinan.
Banyak indekos lain juga demikian, menerima maksimal 9 (sembilan) penghuni.
Sisanya, dibangunkan di tempat lain dengan jumlah penghuni sama-sama tidak sampai 10.
Mereka cerdas.
Itulah berdasarkan pengalaman saya sekitar tiga tahun lalu.
Sekarang, saya malah menemukan indekos ideal bagi seluruh mahasiswa di seluruh pojok bumi. Berikut fasilitasnya.
- GRATIS (terlepas dari UKT/SPP)
- Koneksi internet 24 jam selama 7 hari
- Banyak kamar tidak dipakai
- Semua kamar bisa dipakai
- Bangunannya besar
- Tiap malam ada penjaga yang berkeliling
- Area parkir kendaraan aman
- Dekat dengan toko rokok dan anggur
- Lapangan bola
- Musala
- Dan masih banyak lainnya
Indekos yang saya maksud bernama kampus.
Cara agar bisa tinggal di kampus
- Jika kalian adalah mahasiswa anyar, segeralah masuk organisasi intra di sana
- Akrabi para senior dan beri mereka rokok
- Tertawalah pada gurauan yang sama sekali tak lucu dari senior, ingat, senior itu akan lulus pada akhirnya
- Ajak ngopi secara pribadi, bangun relasi dengannya
- Mulai ceritakan kisah sedih yang kalian karang, terutama tentang uang dan senggol sedikit tentang tempat tinggal
- Akarabi juga satpam dan tetangga organisasi
- Jika perlu, akrabi sekalian rektor kampus kalian
- Tara... Beberapa waktu kemudian kunci ruang organisasi itu menjadi milik kalian
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi