Melihat kembali tulisan "Berat" yang agaknya runyam
Malam yang mengakhiri perhitungan 2024, sekaligus menyambut tahun baharu 2025. Google --seperti biasa-- menampilkan doodle pergantian tahun itu. Toh, apa pentingnya itu, hanya angka yang berubah, pikir saya.
Tak ada yang benar-benar saya rasakan dari perubahan "angka" itu.
Sengkarut-sengkarut tetap menjadi kumpulan sengkarut. Utang menggunung tak pernah berubah jadi utang membukit. Dan itu, malam tetaplah hitam dan siang hanyalah jeda menyambut malam yang hitam.
Tampaknya semua tetap sama saja, kecuali kalender-kalender akan menjadi 2025. Atau anak-anak sekolah akan salah menulis tahun di buku barunya.
Iseng saja, saya klik doodle di Google pencarian itu. Menampilkan puluhan ragam judul berita bombastis yang membahas perihal "Malam Tahun Baharu", dan jelas tidak menarik sama sekali bagi saya.
Belakangan saya memaksa tutup mata terhadap kenyataan yang terjadi di Indonesia. Tepatnya, setelah mengetahui tentang 300 triliun dan enam tahun.
Biarlah, sejarah akan mencatat bahwa 300 triliun di tahun 2024 bukanlah nominal yang sedikit. Juga bukanlah nominal yang sedikit meski angka sudah berubah menjadi 2025.
300 triliun yang kalap di tengah banyak warga negara diteror kolektor. Banyak warga negara yang kepalanya pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana cara merebus batu biar bisa jadi nasi. Serta di tengah banyak warga negara yang sengkarut dan utangnya tumbuh lebih cepat daripada bulu jembut.
Setelah saya klik doodle itu, beberapa bentar kemudian saya langsung menutup Chromebook seharga 1,2 juta (mengapa perlu mengatakan berapa harganya? Sebab, dengan uang 300 triliun bisa mendapat 250 juta unit Chromebook ini, belum termasuk diskon karena beli banyak).
Lantas memejamkan mata, tidur, tidak menulis, mencoba melupakan segala sengkarut sementara waktu. Ya, semua itu pasti akan segera saya lakukan jika tidak melihat salah satu website keislaman muncul di atas puluhan website media pemberitaan daring yang membahas perihal Malam Tahun Baharu.
Sebuah website yang membuat saya berpikir, kok bisa website dengan otoritas sederhana bisa mengangkangi raksasa pencarian.
Saya tak jadi menutup Chromebook, tetapi masuk ke website tersebut, dan entah bagaimana takdir mengatur pertemuan dengan tulisan-tulisan "berat" dari akademisi yang saya kenal.
Jangan salah paham, saya hanya kenal orang itu, dan sudah jelas orang-orang itu mustahil mengenal saya yang notabene hanyalah seorang pemancing ikan belaka.
Agaknya memang enak membaca tulisan di mana kita mengetahui bagaimana logat bicara penulisnya. Setelah lebih dari lima tahun menjelajahi internet untuk hal-hal remeh, melihat kembali tulisan "berat" membawa sensasi yang mampu menghilangkan kantuk.
Ooo, dengan secuil pengalaman menjelajahi internet, saya menemukan siapa pemilik website, pantas saja, pikir saya lagi. Namun, saya tidak tahu bagaimana caranya website (atau platform) itu yang dirilis 2023 kemarin bisa menggandeng banyak akademisi betulan.
Kejadian klik doodle Google yang tidak disengaja, bertemu dengan website sederhana, dan akhirnya membaca tulisan ilmiah dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan oleh akademisi yang saya kenal. Ini cukup runyam.
Kejadian yang dapat menjadi contoh untuk menjelaskan efek kupu-kupu (butterfly effect). Perubahan kecil di malam terakhir 2024 menuju awal 2025, kiranya membawa dampak yang besar.
Sebuah fakta yang tak terelakkan, bahwa di tengah banjir tulisan berita bombastis yang mana satu fenomena dapat ditulis menjadi sepuluh judul berbeda, masih ada tulisan betulan yang berasal dari riset panjang dan serius akademisi.
Setelah mendapati kejadian tersebut, saya tak bisa membendung hasrat untuk menulis tulisan selain hobi memancing maupun tutorial blogging. Pada akhirnya, inilah yang terjadi, saya menulis tulisan yang sedang kamu baca, sebuah tulisan runyam lain, yang dengan sembrono masuk rubrik sastra.
Perlu juga saya tulis di sini bahwa sekarang pukul 23.40, Selasa, 31 Desember 2024 sedang hujan gerimis. Sedangkan sekitar 20 menit lagi adalah Rabu, 1 Januari 2025.
Tampaknya, 2024 ke 2025 nantinya bukan hanya perubahan angka. Peluang 0.01% tetap niscaya terjadi jika Tuhan menghendaki, tidak ada yang lain.
Seperti website sederhana yang muncul di atas berita-berita mainstream, atau pertemuan tiba-tiba dengan tulisan ilmiah orang-orang itu yang tak pernah terpikirkan sejak 2019 silam.
Nyatanya tidak ada kejadian yang benar-benar kebetulan. Kejadian kebetulan hanyalah istilah dari sisi manusia, sedangkan dari sisi entitas ilahi, segala-galanya sudah terencana.
Sehingga, bolehlah saya juga berharap agar tahun 2025 menjadi lebih baik. Bukan, harapan saya bukan mendapat sedikit jatah dari 300 triliun. Melainkan sebuah harapan paling lugas: agar kumpulan sengkarut menjadi sengkarut saja, dan utang menggunung menjadi utang membukit saja.
Ya, itu pun kalau saya masih diberi kesempatan untuk terus melanjutkan hidup. Semoga saja, ya, semoga masih.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi