Mencatat susu habis

Mencatat susu habis, untuk ke sekian kali.

Betapa orang tuaku dulu telah menelan segala macam pedih dan kelam menganggap bahwa diri mereka gagal menjadi orang tua tatkala memberiku tajin hanya karena susu habis. Semacam perasaan pedih dan kelam yang kini kurasakan sebagai orang tua. Bagian paling pamungkas dari apa yang kusebut pedih dan kelam adalah anak perempuanku berusia dua tahun rela tidur dengan empeng hanya berisi air putih.

Kemelaratan yang berkepanjangan ini tak lantas membuatku ingin menempuh jalan pintas dengan memanjat Gunung Kawi. Aku akan lebih suka terus memanjatkan doa kepada-Nya. Terlepas dari betapa doa-doa itu kering dan dangkal.

Ada semacam ketenangan saat menyadari diri sebagai hamba yang tak mampu melakukan apa-apa tanpa pertolongan-Nya. Dan, aku ingin terus menjadi hamba hingga akhir hayat dengan atau tanpa kemelaratan seperti ini selamanya. Harapan-harapan dalam doa-doa itu melangit lewat bisikan di lantai dingin dini hari. Keniscayaan yang pasti, bahwa selain Dia Yang Maha Kaya, Dia jugalah Yang Maha Mendengar. Semua isak didengarkan-Nya dengan atau tanpa telinga.

Aku tak lagi marah kepada orang-orang terdekat, kecuali kepada pemerintah yang keparatnya sudah melebihi batas toleransiku. Pemerintah yang terlalu tolol, tidak memiliki wibawa, dan hanya tersusun dari daging busuk penuh belatung membangkitkan bulu kudukku ketika coba kupikirkan lagi. Tidak ada sisi baik dari pemerintah. Ini merupakan keniscayaan lain yang dibawa oleh kenyataan.

Aku tak juga lagi marah kepada aku. Tidak pula kepada seorang kenalan yang sering kupinjam uangnya sekadar untuk membeli susu, kemudian di satu waktu darurat yang lain habis susu, dia tidak bisa memberi pinjaman. Membelikan susu untuk anakku sama sekali bukan tanggung jawab orang-orang terdekatku atau kenalanku.

Kemelaratan ini terlalu panjang hingga kurasai marah sudah hambar.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi