Andaikan kembali ke masa lalu
Saya adalah bocah usia 15 yang lugu. Kehidupan berjalan begitu lambat di desa. Di situlah rumah kami sekeluarga, di seberang sungai irigasi persawahan yang akan banjir setiap Kamis. Dan anak-anak di desa akan buru-buru pergi ke kali yang sudah surut pada Jumat setelah pulang sekolah untuk memancing ikan. Sedangkan pada sore hari, anak-anak seperti saya ke masjid untuk mengaji Al-Qur'an. Dilanjut malam setelah isya untuk mengaji kitab. Jadwal kita semua padat dalam menjalani kehidupan di desa yang lambat.
Pagi sebelum berangkat sekolah saya mencium tangan ayah-ibu. Saat itu saya akan mengingatkan kepada ayah agar tidak memikirkan semuanya sendirian. Saya juga sempatkan untuk menemani ayah yang sedang merokok di depan rumah setelah pulang mengaji kitab. Hingga pada akhirnya saya ketiduran di bangku tempat duduknya, hingga pada akhirnya ayah menggendong anak laki-lakinya ke kamar, hingga pada akhirnya ayah kembali ke depan rumah melanjutkan merokok setelah tuntas menyelimuti saya.
Di sekolah saat itu sedang ada sebuah tradisi dari para penguasa sekolah. Tradisi adu jotos yang dimulai dengan salaman, lalu diakhiri dengan memaafkan. Anak-anak yang berani bertarung akan dikawal oleh nyaris semua anak laki-laki di sekolah menuju lantai dua gedung yang baru saja dibangun. Ruangan kelas tanpa bangku, sebuah tempat yang luas untuk melayangkan satu-dua pukulan telak ke wajah atau dagu, hingga salah satunya mengakui kekalahan. Mereka yang berani mengajukan diri sebagai petarung, apalagi keluar sebagai pemenang, akan mendapakan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang: kehormatan.
Saya akan maju ke sana. Mengangkat tangan dengan percaya diri. Menunjuk salah seorang yang sudah berkali-kali memenangkan pertarungan. Kemudian, saya akan keluar sebagai pemenangnya. Mendapatkan kehormatan yang selama ini saya inginkan. Lantas memacari beberapa perempuan paling cantik di sekolah yang masih saya ingat wanginya itu.
Setelah pulang sekolah, saya akan minta pinjam KTP ibu untuk mendaftar di platform kripto, jelas, membeli sepuluh bitcoin yang tiap satunya seharga sepuluh ribu itu. Saya akan mendapatkan ketenangan finansial pada usia 31 nanti. Lanjut dengan membuat akun media sosial profesional untuk menawarkan layanan di kemudian hari. Membagun website yang konsisten hingga sekarang. Membuat video review setiap kali membeli alat pancing baru. Dan sudah sangat siap meski segala-galanya akan digempur kecerdasan buatan di kemudian hari.
Ayah tidak jadi mati karena saya selalu mengingatkannya untuk menjaga kesehatan sekaligus menemaninya di waktu-waktu paling sulit itu. Ibu menjadi lebih bahagia karena anak-anaknya begitu mampu bersikap dewasa. Saya akan kuliah, tidak berjudi, lantas menemui seorang perempuan, dan memiliki anak pertama perempuan darinya yang begitu lucu. Saya juga akan bersalaman mencium tangan mertua yang betapa mereka itu sabar.
Kehidupan yang lambat di desa dapat saya jalani sekeluarga dengan lebih semangat dan bahagia. Saya akan lebih banyak berbagi, lebih banyak membantu, dan lebih banyak bersyukur bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua penyesalan dan mendapatkan kehidupan yang benar-benar baru.
Aih, omong kosong aneh apa ini? Entah mengapa sewaktu menghadiri genduri malam ini sangat mengantuk. Hingga saya melantur pada imajinasi yang seolah-olah menolak takdir Tuhan. Engkau mengetahui segalanya, kan? Engkau pasti tahu yang hamba maksud bukan demikian, kan? Dan, Engkau tidak akan marah gara-gara hamba menulis ini, kan? Asalkan Engkau tidak marah, ya Allah, hamba tidak peduli.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi