Mengapa masalah hidup saya betapa itu berat?
Menghadapi beban hidup yang terasa tak berujung adalah pengalaman manusiawi yang melelahkan. Anda tidak sendiri, ada jutaan manusia yang merasakan hal serupa, dan juga saya. Rasanya itu mengapa hidup, atau mengapa tidak kunjung ada meteor yang menghantam bumi dan memusnahkan kita semua? Kita sedang terombang-ambing dalam badai samudra anggapan manusia lain. Di mana posisi kita tidak (atau belum) sesuai dengan harapan manusia-manusia itu.
Jika Anda sedang dimarahi bini dengan, mengapa engkau ini begitu miskin! Barangkali Anda akan langsung melakukan pembelaan dengan, ini juga bukan keinginan saya, kalau bisa, saya pun ingin kaya-raya. Dalam kondisi yang demikian, Anda tidak akan menjadi benar meski pembelaan Anda benar. Sekarang kita perlu jujur, saya miskin, ya. Saya mau mati? Ya. Berengsek. Saya tidak tahu lagi harus menulis apa selanjutnya.
Konon, perasaan bersalah yang bahkan lebih tinggi derajatnya cacing daripada diri kita adalah sinyal sistem internal baik secara psikis maupun spiritual sedang memproses sesuatu yang besar. Anda tidak akan percaya dengan hal-hal yang aneh semacam itu, termasuk saya, jika belum mendapatkan dan merasakan sendiri keajaiban itu.
Dalam biologis, ada istilahnya negativity bias. Sialan pula, siapa yang mengemukakan ilmu sok tahu tentang otak manusia itu? Otak manusia secara evolusioner konon dirancang untuk lebih peka terhadap ancaman dan masalah daripada kebahagiaan. Konon lagi, itu merupakan mekanisme bertahan hidup, namun dampaknya membuat satu masalah terasa menutupi sepuluh kebaikan lainnya.
Ketika terlalu banyak masalah yang harus kita selesaikan secara bersamaan, seperti bini ngambek, kebutuhan sehari-hari macet, dan utang menggunung; prefrontal cortex (bagian otak yang mengatur logika) menjadi lelah. Akibatnya, masalah akan terasa seperti puluhan gunung yang bertengger-mengangkang di atas ubun-ubun kita.
Bagaimana masalah yang berat membuat seseorang ingin mengakhiri hidupnya? Pertanyaan itu sudah menyentuh realitas yang sangat dalam dan sensitif. Keinginan untuk mengakhiri hidup, sejatinya bukan karena kita "ingin mati", melainkan karena kita ingin menghentikan rasa sakit yang terasa sudah melampaui batas kemampuan untuk menanggungnya.
Kita hanya ingin berhenti menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi dan bersamaan itu. Mengeroyok kita yang sudah terlanjur dalam kondisi babak-belur luar-dalam. Sialan betul dunia ini, ada juga yang disebut sebagai Pakar Bunuh Diri. Orang sialan itu bernama Thomas Joiner, secara psikologis ada kondisi yang disebut sebagai Psychache (sakit psikis yang tak tertahankan).
Orang yang mau bunuh diri menurut si pakar sialan itu, konon memiliki tiga faktor yang saling bertemu. Pertama, thwarted belongingness alias rasa terasing. Seseorang merasa tidak lagi memiliki ikatan dengan orang lain atau merasa kesepian di tengah keramaian. Apakah kita sudah merasa terasing dengan ingar-bingar dunia ini? Sudah. Toh kemarin Anda mengatakan bahwa dunia terlalu bisin untuk saya yang hening. Aih, kimak, pantek pula kata-kata kau ini.
Kedua, perceived burdensomeness alias merasa menjadi beban. Muncul keyakinan yang salah bahwa "orang-orang di sekitar saya akan lebih baik jika saya tidak ada." Ini adalah distorsi kognitif yang sangat berbahaya. Dan, kita sedang berada dalam kondisi ini. Kita menjadi beban keluarga, bahkan keluarga mertua. Telah mencoret wajah mereka dengan banyak coretan hitam yang mengerikan. Barangkali memang sebaiknya kita tidak ada. Menghilang, kabur, lari, dan meninggal diam-diam di kedalaman sungai tak dikenal.
Ketiga, acquired capability yaitu ketika seseorang terus-menerus terpapar rasa sakit atau tekanan yang hebat, ambang batas rasa takut mereka terhadap kematian menurun, sehingga pikiran untuk mengakhiri hidup terasa seperti "solusi" yang masuk akal. Kita juga sudah sampai pada fenomena tunnel vision atau pandangan terowongan. Apa pula itu? Saat kita kehilangan kemampuan untuk melihat jalan keluar selain bunuh diri itu.
Apakah kita sudah siap berjabat tangan dengan Izrail sekarang? Atau, lebih memilih kabur dan mati dengan perlahan? Pembicaraan dengan kematian semacam ini bukan kali pertama. Kita sudah membahas cukup panjang beberapa tokoh yang mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi sialnya lagi, kita bukan tokoh. Kita hanya manusia biasa, beban luar biasa, dan seonggok daging yang jiwanya sudah babak-belur dihantam masalah yang betapa itu berat.
Kalau pun memutuskan berjabat tangan dengan Izrail sekarang. Apakah ada yang berubah pada dunia? Tidak ada. Dunia akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Angin akan tetap bertiup, sungai akan tetap mengalir, dan orang-orang yang engkau tinggalkan akan bersenang lagi setelah sepenuhnya melupakan kehadiran kita. Kecuali Anda tinggalkan utang segunung kepada mereka. Maka mereka setiap hari akan menangis, jelas bukan karena kehilangan Anda, melainkan harus menanggung sesuatu yang Anda tinggalkan itu.
Mari coba kita pakai kacamata Islam dalam melihat beban dan masalah hidup yang berat nian ini. Ternyata, kesulitan tidak dipandang sebagai hukuman, melainkan sebagai bentuk interaksi antara Khalik dan makhluk-Nya. Anda barangkali sudah bosan dengan kata-kata Islami sebagai obat pereda sakit sementara, yang nyatanya masalah Anda tidak berkurang setingkat pun.
Namun, cobalah sekali saja membaca ini: Prinsip dasar dalam Al-Baqarah: 286 menyatakan bahwa beban tidak akan melebihi kapasitas pundak pelakunya. Jika beban terasa berat, itu adalah indikasi bahwa kapasitas Anda sebenarnya sedang diperbesar. Layaknya emas yang harus dibakar untuk mencapai kemurnian, manusia akan dipertemukan dengan kesulitan untuk menggugurkan kekhilafan masa lalu atau mempersiapkan mental untuk tanggung jawab yang lebih besar di masa depan. Islam memandang dunia sebagai tempat beramal (darul bala'), bukan tempat peristirahatan abadi.
Apakah ada yang berubah dari pundak Anda? Apakah Anda mulai yakin bahwa Anda adalah pemeran utama dalam kehidupan ini? Hahaha... Sebagaimana yang sudah kita bahas mati-matian, dunia tetap berjalan semestinya meski pun Anda tiada. Itu membuktikan kalau Anda bukan pemeran utamanya. Anda hanyalah seonggok daging tak berharga, yang sengaja Allah ciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Jadi, Anda tidak penting bagi Allah, apalagi bagi keluarga Anda, tetangga Anda, atau Anda sendiri.
Tetapi, ada sebuah cara yang agak manjur untuk mengurai masalah hidup kita yang begitu berat itu menjadi serpihan kecil yang seolah-olah mampu kita selesaikan. Padahal ya belum tentu. Lha wong tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah, kan?
Misalnya begini, beri ruang untuk merasa sedih atau lelah. Menolak emosi negatif justru akan memperkuatnya. Praktikkan mindfulness atau sekadar berjalan kaki untuk menurunkan kadar kortisol. Kita sekarang punya jadwal untuk sumpek pada pukul 10 malam sampai tiga dini hari. Setelah waktu-waktu itu, kita harus ceria seperti tidak memiliki masalah hidup sama sekali.
Atau, kita ubah narasi dari Mengapa ini terjadi pada saya? menjadi Apa yang ingin Engkau ajarkan padaku melalui ini?. Perubahan sudut pandang itu bisa jadi mendatangkan ketenangan dalam hidup Anda. Dan, yang tidak kalah penting adalah berzikir. Secara medis, repetisi kalimat thoyyibah (zikir) memberikan efek relaksasi pada sistem saraf pusat, sekaligus mengembalikan kesadaran bahwa ada Kekuatan yang jauh lebih besar dari masalah tersebut. Se-sumpek-sumpeknya kita, kita akan tetap percaya bahwa Dia-lah yang Maha Besar. Sedangkan masalah yang selama ini kita anggap sudah raksasa, ternyata hanyalah remah roti yang tercecer saat kita buat umpan mancing.
Islam pun mengakui bahwa manusia bisa mencapai titik nadir dalam kesedihan. Keputusasaan dianggap sebagai celah di mana seseorang kehilangan koneksi dengan sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih) Allah. Al-Qur'an mengingatkan untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya sebagai jangkar perlindungan agar manusia tetap memiliki harapan.
Kita juga sudah melantunkan doa-doa yang kering dan hambar dan hanya di permukaan itu.
رَحْمَةً تُغْنِينِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ
...dengan kasih sayang-Mu sehingga aku tidak membutuhkan selain-Mu
Tetapi apa yang kita dapatkan? Keputusasaan yang lain. Apakah ini sudah waktunya untuk kita menyelesaikan segala-galanya dalam satu waktu dengan mengambil tali tambang itu? Atau kita hanya perlu sedikit lagi memanjatkan doa, atau kita perlu memanjat Gunung Kawi saja?
Dan, sembrononya, kita mengatakan bahwa Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, ya Allah, aku tidak peduli. Apakah kita bisa sehebat itu menahan semua gelombang masalah yang datang bersamaan ini?
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi