Mengharap imbalan

Pukul 9.24 malam.

Saya baru keluar dari warung kopi sekira satu jam setelah Hari Niskala pulang duluan.

Saya pakai kata pulang, sebab jika pakai keluar akan berkesan menjijikan. Sedang kalau pakai mangkat akan tidak sopan.

Kabar baik, beberapa bentar di sore tadi saya mendapati pemberitahuan klien sudah transfer.

Sesuatu yang jarang terjadi nyaris tiga bulan ke belakang.

Tidak banyak. Jelas. Hanya cukup untuk membeli dua bungkus pempes anak dan sekotak susu.

Kalau banyak, sudah pasti semua website saya tidak akan saya biarkan masuk liang lahat terlalu cepat!

Berhubung keduanya masih ada, jadi saya berencana menggunakan rupiah yang terlampau sedikit itu untuk membeli makanan.

Di sinilah saya sekarang...

...sebuah gerobak usang penjual somay dan batagor.

Duduklah saya di satu-satunya kursi yang ada setelah memesan apa yang saya kehendaki.

Aih, kehendak, kelinci jenis apa itu?

Tidak berselang lama, palingan empat menit, ditandai dengan roko di apitan jari tengah dan telunjuk masih terbakar seperempat, datang seorang perempuan.

Jangan berpikir kalau ini akan menjadi narasi curhat romantisme. Saya sudah menikah, dan belum kepikiran menambah istri.

Lagian, perempuan itu datang diantar laki-laki yang kemungkinan besar adalah suaminya. Alasan saya beranggapan demikian adalah si perempuan menggendong bayi sekira setahun setengah.

Sebagai seorang laki-laki yang gampang tergoda dengan kepolosan anak, saya buanglah rokok meski masih begitu panjaaang... Anda tidak akan merasa eman melakukannya jika belum benar-benar mengalami kondisi nol rupiah.

Baik. Sekarang apa yang harusnya dilakukan?

Benar. Berdiri dari kursi, lalu mempersilakan si perempuan dengan bayi satu setengah tahun di gendongannya, duduk di kursi itu.

Satu-satunya kursi yang ada di sana, dan itu saya lakukan.

"Selamat, engkau melakukan hal yang benar," kata hati abu-abu saya memuji dirinya.

Saya yang akhirnya berdiri agak di belakang. Tetiba merasakan sensasi yang luar biasa aneh.

Si bayi dalam gendongan menatap saya dalam enam atau tujuh detik tanpa berkedip. Seolah menyelidik. Sebelum akhirnya tertawa yang menunjukkan dua gigi bawah yang sudah tumbuh.

"Oh, berterima kasih," katanya lagi.

Saya hendak mengatakan kepada si bayi agar tidak berterima kasih. Saya tidak melakukannya dengan percuma, sebab jelas mengharap imbalan.

Namun, bayi usia segitu mungkin saja tidak paham apa yang saya katakan.

Jadi saya diam saja.

Apa imbalannya? Mari terus terang saja. Saya memiliki anak yang agaknya lebih dewasa, dua setengah tahun, dan mengharap kebaikan selalu berpihak kepadanya.

Itu saja.

Laki-laki tidak mengharap imbalan untuk dirinya sendiri, kan?

Apalagi laki-laki itu adalah seorang ayah dari bocil yang lucu.

Abang gerobak memanggil, memecah lamunan tentang anak.

"Terima kasih," kata saya akhirnya.

Dua bungkus ini jugalah untuk mereka yang di rumah.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi