Pagi di suatu waktu yang entah

Bangun pagi itu menarik juga, ya. Pagi benar, maksud saya. Sebelum pukul setengah empat.

Saya pikir bangun pukul segitu sudah jadi manusia pertama yang membuka mata.

Nyatanya ketika keluar pintu, ada orang yang belum menutup matanya sedari malam kemarin.

Ada pula orang yang sudah mandi, menenggak kopi, dan berangkat kerja.

Orang itu adalah ibu saya.

Beliau ini selalu bangun pukul dua, bahkan bisa sebelumnya.

Di waktu beberapa orang barangkali masih mencoba untuk tidur, beliau sudah bangun.

Jangan bangun kesiangan. Ada keajaiban-keajaiban yang nanti terlewat, katanya kepada saya yang terlampau sering beliau sampaikan.

Saya tidak pernah lupa dengan kata-kata itu, hanya saja beberapa kali kesiangan adalah nasib buruk sebelum memulai hari.

Benar saja. Tidak bohong. Ada keajaiban-keajaiban yang entah bagaimana tidak terasa jika bangun kesiangan. Terlewat begitu saja. Hilang, terembus bersama bau kenalpot yang sudah ramai di jalanan itu.

Parameter kesiangan menurut ibu saya juga tidak jelas pukul berapa. Saya pikir pukul setengah enam. Ternyata itu sudah sangat kesiangan.

Barangkali pukul setengah empat, atau pukul tiga. Ini masih gelap benar. Hanya saja lebih tepat untuk menggambarkan jangan bangun kesiangan.

Keajaiban yang tadi misalnya mandi, bikin kopi, dan menyulut sebatang rokok sembari menantang matahari.

Halo, Matahari. Kali ini kau terlambat, kata saya barusan.

Matahari juga tersenyum indah itu. Dibarengi tawa renyah anak perempuan berusia dua setengah tahun, dan sebuah garis melengkung sederhana dari ibunya.

Oh, seperti ini keajaiban itu, ternyata.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi