Berlindung dari diri sendiri

Ada serigala yang gemar melolong di balik rusuk,
ia lapar, meski perjamuan baru usai.

Aku sibuk memadamkan sumbu yang mulai berasap,
sebelum api melahap seluruh tiang sandaran.

Tangan ini jugalah pemahat yang ceroboh,
menggores retak pada kaca yang mestinya bening,
maka kubangun sebuah benteng tanpa jendela,
tempat aku menyembunyikan jemari dari bayangannya sendiri.

Aku belajar berjalan di atas karpet beludru,
agar derap tak memecah kesunyian,
sebab aku tahu, di dalam labirin ini,
ada naga yang hanya bisa tidur jika aku berhenti bicara.

Akhirnya, kupintal benang sengkarut jadi selimut,
guna membungkus duri yang tumbuh dari telapak kaki.

Sebab musuh yang paling lihai menyusun siasat,
ialah yang memakai wajahku tatkala muncul di pantulan kaca.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi