Harus ditampar kenyataan agar sadar

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan orang yang memiliki harapan yang terlepas dari ranah kenyataan, sebuah harapan begitu menggebu yang tergantung tinggi di langit.

Tampaknya memang sah-sah saja harapan itu begitu tinggi. Misalnya ingin menjadi penerus Mahatma Gandhi, menciptakan aplikasi seluler paling akurat untuk menemukan barang hilang (tidak hanya HP), atau memecat seluruh anggota DPR; masih bisa diwujudkan.

Lain cerita jika harapan itu berbenturan langsung dengan kebutuhan pokok.

Katakanlah papan, sandang, dan pangan. 

Orang itu ingin mencapai kesejahteraan finansial dengan jalur terjal, yaitu menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia.

Lebih buruk lagi, ia berencana lolos semua tes tanpa menjual lahan.

Sungguh terlepas dengan kenyataan, setidaknya di negeri ini sekarang.

Sedangkan pada saat yang sama, ia tetap butuh makanan untuk dimakan setiap harinya. Tentu, kita mustahil makan harapan semata.

Harapan tidak akan membuat perut kenyang. Jika bisa, niscaya di seluruh dunia tidak ada ceritanya busung lapar dan kekurangan gizi.

Justru orang-orang kelaparan itu memiliki harapan yang jauh lebih raksasa daripada orang yang kenyang perutnya.

Saya lantas mengatakan dengan lemah lembut bahwa ia harus berpijak pada kenyataan. Bahwa ia memiliki anak dan istri untuk diberi makan, atau setidaknya menjaganya tidak terkena busung lapar. Anaknya masih kecil, membutuhkan sosok kehadiran ayah, namun ayahnya malah terbuai harapan semu di negeri yang begitu sakit. Jangan sampai anakmu menderita stunting dan kekurangan gizi, kata saya menutup nasihat panjang itu.

Ia tampak berpikir sebentar. Kemudian membantah dengan keyakinan buta, bahwa setelah ia diterima PNS, ia akan langsung membalikkan keadaan. Ia akan segera memiliki rumah, pamit dari rumah mertua, dengan cara menggadaikan SK PNS. Katanya, ia juga akan menuruti permintaan istrinya untuk membeli motor baru, serta menggandeng anaknya ke pasar terdekat untuk membeli makanan yang sebelumnya hanya sebatas dilihat dari pinggir jalan raya.

Dalam hati, saya berpikir bahwa berharap bisa masuk surga lewat jalur WNI jauh lebih rasional daripada harapan orang itu.

Saya kasihan, akan lebih kasihan jika yang mengingatkannya adalah kenyataan itu sendiri.

Ditampar kenyataan agar sadar bukan sesuatu yang baik, apalagi lembut. Sebab, saya sudah berulangkali merasakannya.

Setelah itu tidak ada percakapan tentang harapan yang terjadi lagi, kita berdua bermain Magic Chess.

Namun di hati justru berdoa:

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ   

Semoga kehidupan kita baik. Pun kalau di dunia dianggap tidak baik, setidak-tidaknya di akhirat kelak memperoleh kehangatan dan kelembutan dari Allah SWT.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi