Kabut pagi di seperempat ketinggian

Keindahan itu mustahil bisa dilupa
hawa dingin yang menyentuh kulit tak berjaket
pukul setengah lima
meninggalkan bulir bening air embun
di spion motor tua

Jarak pandang sepuluh meter
mungkin kurang
perjalanan itu lamban saja
menara listrik di pinggiran jalan
terlihat hanya sebagian

Justru menunjukkan ketinggian palsu
seolah tak ada batasnya
juga rumah-rumah lantai dua dan tiga
serta jalanan aspal yang biasanya

Kabut pagi di atas Brantas
lembut menyentuh permukaan kali
ikan melihatnya sebagai awan
manusia melihatnya sebagai keindahan

Sebentar perjalanan kabut itu memberi keajaiban
seorang kepala keluarga melupakan sedang menganggur
popok dan susu anaknya sedang habis
beras di gentong menipis, utang kian menggunung

Andaikan hari selalu diselimuti kabut pagi
siang tidak pernah datang
kabut akan senantiasa memberi keajaiban
orang-orang tidak kabur was-was

Doa-doa semakin sering dipanjatkan
pada ketinggian Tuhan yang tak terbatas
harapan yang itu-itu saja
biar segala takdir dibalut kelembutan

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi