Menolak tawaran pekerjaan padahal sangat membutuhkannya

Dunia ini lucu, dan fana, dan lucu.

Di tengah kondisi benar-benar membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Muncul sebuah tawaran untuk bekerja.

Saya senang, akhirnya segera memiliki pekerjaan sebagaimana manusia (manusia laki-laki) pada umumnya.

Hanya saja, kesenangan saya ditepis oleh beberapa alasan yang lebih krusial. Persoalan yang memaksa saya menjadi bapak rumah tangga alih-alih tulang punggung keluarga.

Seharusnya, semua yang kita lakukan adalah pekerjaan. Setiap kata kerja yang diawali dengan me-, seperti menulis, memarkir, menjual, mengangkat, menawarkan, dan ribuan me- me- lainnya.

Dari sini tampak sebuah keganjilan yang aneh, bahwa yang sebenarnya kita butuhkan bukanlah pekerjaan, melainkan uang.

Terus terang, nyaris semua manusia akan menerima jika bisa mendapatkan uang tanpa harus bekerja. Waktu, tenaga, dan sisa usianya dapat dihabiskan sesuai dengan keinginan. Untuk aktivitas-aktivitas yang luar biasa bebasnya.

Mereka tidak akan tergantung pada manusia yang lain (seperti atasan). Mereka menentukan nasib dan arah hidup sendiri.

Tidak ada tuntutan untuk bangun pagi, kecuali mereka yang memahami bahwa salat subuh adalah wajib.

Saya katakan kepada HRD yang memberi undangan wawancara kerja itu apa adanya. Dan, setelah itu barangkali saya mendapat satu coretan hitam yang lain di wajah saya.

Tetapi biarlah, semua adalah risikonya. Biar pun orang lain menganggap saya orang yang tidak konsisten, namun mengatakan ketidakhadiran lebih baik daripada diam-diam menghilang, kan?

Aih, tentang konsistensi, tentu saya tidak sekonsisten dan tidak seistikomah para penulis-penulis gila itu. Hari Niskala misalnya; bagaimana seorang manusia laki-laki dewasa yang merangkap sebagai ayah bagi anaknya dan suami bagi istrinya, bisa menggantungkan hidup dari tulisan-tulisan ceker-ayam itu selama bertahun-tahun.

Pada titik yang lebih dalam, saya menyadari bahwa ia tidak menggantungkan hidup pada menulis. Ia menggantungkan hidup pada penangung jawab utama, Dialah yang bertanggung jawab karena menciptakan kita ke dunia.

Hal rumit dan runyam macam ini mudah saat dikatakan, namun tidak semudah itu menjalaninya.

Ada pula seorang penerjemah yang mengabdikan seluruh hidupnya lebih dari setengah abad untuk mengalihbahasakan ilmu pengetahuan Timur Tengah. Ada pula seorang pembaca buku yang memaksa dirinya harus membaca buku setiap hari meski hanya satu paragraf.

Lihat, begitu lucu dan fana dunia ini. Konsistensi dan istikomah orang-orang itu begitu bulat, jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan konsistensi dan istikomah saya.

Sebenarnya, menolak tawaran kerja seperti ini bukan kali pertama yang (terpaksa) saya lakukan.

Dulu, saya menolak tawaran bekerja di sebuah agensi kreatif penulisan artikel SEO di Jogja, saya pernah menolak menjadi pengajar di sebuah sekolah tahfidz, saya menolak bekerja di sekolah kejuruan hanya karena mengurangi waktu saya memancing, saya juga pernah menolak anjuran orang tua agar berjualan sembako.

Yang terakhir itu yang paling membekas. Andaikan dulu saya mengikuti anjuran orang tua, kondisi sekarang barangkali tidak terlalu terlilit sengkarut.

Kehidupan terus berjalan, penyesalan yang berlebihan bukan sesuatu yang baik. Menolak tawaran pekerjaan, (semoga saya) tidak berarti menolak rezeki dari Allah SWT.

Jika saya diberi kesempatan mendapat peran sebagai tulang punggung keluarga, pastilah segala macam pekerjaan asalkan halal akan saya lakukan.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi