Celana pendek dan kerudung

Dua jam sebelum catatan tentang mulut kakus terjadi, ada sebuah kejadian yang luput aku catat.

Itu adalah dua pelanggan lain di warung mi ayam. Pertama, seorang ibu muda dengan celana pendek yang memperlihatkan paha seukuran pohon pisang. Sedang satu lainnya adalah seorang anak usia sekolah dasar dengan kerudung. Aku tidak berani menatap lama yang pertama karena sedang diawasi istri.

Istri menyeletuk begitu saja bahwa pemandangan itu sangat kontras.

Kupikir tidak kontras (atau belum). Mungkin, kalau ibu muda itu pakai rok pendek sambil mengangkang baru kelihatan kontrasnya. Ada bagian yang bersih, yang mana semakin ke atas akan lebih gelap. Dan setelah lamunan singkat tentang warna kontras, aku menyadari yang dibahas istri adalah cara mereka berpakaian.

Dengan gagap aku mengatakan bahwa i-iya.

"Seharusnya ibunya pakai pakaian yang sama-sama tertutup," kata istriku kemudian.

Istriku, sebagaimana kebanyakan perempuan, mampu menemukan kesalahan orang lain hanya dari pengamatan yang sangat singkat.

Aku mencoba mengingatkannya dengan niat karena Allah di samping sepertinya aku agak cinta dengannya, bahwa setiap orang tua pasti ingin anaknya lebih baik daripada dirinya.

Dia menanggapi dengan enteng bahwa mengapa tidak menjadikan saja dirinya contoh yang baik untuk anaknya.

Aku terdiam sejenak. Di depanku seolah muncul cermin yang besar.

"Barangkali dia belum punya uang untuk membeli kerudung dan rok panjang karena dimiskinkan," kataku kemudian.

"Lah... Beli mi ayam bisa. Dua porsi. Satunya full toping pakai bakso besar. Ditambah dua es jeruk, empat tusuk ampela, dua belas tusuk telur gemak."

"Duh..."

"Tidak lain. Dia berpakaian begitu hanya karena egois bagian paha dan kelangkang ingin diperlihatkan ke suami orang," katanya sambil melirik padaku dengan aneh. "Sedangkan mengapa dia tidak membeli pakaian adalah hanya karena nuraninya sudah membatu. Aku setuju denganmu kalau setiap orang tua pasti ingin anaknya lebih baik daripada dirinya. Tetapi untuk yang satu ini, kalau bukan istri pejabat berarti simpanan pejabat. Tidak lain."

Begitulah. Tidak ada yang mampu kulakukan jika kata-kata yang keluar dari mulut cerewet itu sudah kelewat panjang. Aku perlu kompromi dengan mulut itu, sebab pada beberapa waktu yang lain kulumat juga.

Akhirnya, pesanan mi ayam datang, memberi jeda pada gunjing atas pelanggan. Aku masukkan dua sendok sambal ke mangkuk yang menjadi sebab keesokan harinya memaksaku mencoba lima kakus di tempat yang berbeda-beda.

Saat aku mulai kepedasan, ibu muda itu sudah selesai makan dan beranjak. Berjalan pelan membonceng anaknya masuk ke mobil plat merah.

Istriku melirik padaku dengan aneh untuk kedua kalinya.

"Kau benar. Kau selalu benar, Istriku," ucapku sebelum menenggak sebotol air mineral dingin.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi