7 mulut kakus dalam sehari
Pertama-tama, aku menyarankan agar kau tidak sedang makan saat membaca catatan ini. Alasannya jelas, sejelas judul, sebab akan kubahas perihal sesuatu yang jorok tentang kakus dan sesuatu di dalamnya.

Mulutku dapat tahan makanan dengan kepedasan di tingkat tinggi; lain perutku.
Catatan ini keluar dari lubang anus karena semalam sembrono makan mi ayam ditambah dua sendok sambal.
Mengangkangi mulut kakus
Perhentian pertama tentu saja sebelum subuh atas kakus di rumah. Dia merupakan kakus yang cukup setia menelan semua yang dimasukkan ke dalam mulutnya.
Pagi hari belum terasa apa-apa di perut. Hanya menyampaikan hajat seperti biasanya.
Perhentian kedua merupakan yang paling pamungkas. Perutku seperti ditinju dan diremas jeroannya. Dipelintir ususnya untuk dikeluarkan dengan paksa apa pun yang berada di dalamnya.
Sialnya, itu merupakan sebuah Minggu pagi di lapangan pinggir kali tempat orang-orang menggelar jajanan pasar.
Mustahil rasanya aku menurunkan celana lalu jongkok di kali itu.
Sehingga, aku perlu berlari kecil sambil keringat dingin mencari kamar mandi yang ada kakusnya. Akhirnya ketemu di jarak 200 meter. Itu merupakan salah satu perjalanan panjang paling berkeringat.
Dalam kondisi darurat seperti ini, melihat kakus tak ubahnya oase di padang pasir. Aku segera memposisikan pantat agar tepat di lubang. Jongkok, lalu mengedan seadanya mengeluarkan tahi cair yang aromanya langsung semerbak di seluruh ruang kamar mandi persegi.
Astaga. Lubang anusku langsung panas tak keruan. Sialan. Sialan betul dua sendok sambal di warung mi ayam.
Setelah tuntas dengan urusan cairan itu, aku menghadapi masalah baru tentang rasa tidak nyaman di anus. Itu agak runyam. Tidak lagi bisa merasakan meriahnya acara pameran jajan pasar.
Dan lebih memilih pulang.
Nahas! Saat perjalanan pulang menjadi perhentian ketiga. Aku dibuat kalang kabut mencari kakus secepatnya di tengah jalan lengang pukul tujuh. Sepeda motor berbelok tajam ke SPBU.
Pada saat-saat itu, tahi encer yang keluar sudah jauh lebih sedikit daripada yang pertama. Tetapi, sensasi panas yang berdenyut di anus masih belum juga reda.
Sampai di rumah aku langsung minum dua gelas air. Ada kekhawatiran kekurangan cairan lalu pingsan, atau lebih buruk lagi, koma. Agaknya kurang keren jika koma hanya karena buang tahi encer terlalu banyak.
Minggu ini akan lebih menyenangkan jika dihabiskan dengan memancing ikan. Oleh karenanya, aku mempersiapkan beberapa alat pancing. Di tengah persiapan itu digempur lagi perut ini yang memaksaku kembali ke kakus. Ini merupakan perhentian keempat yang berlangsung cepat di rumah.
"Hai, kakus subuh!" kataku kepada lubang kakus sebelum mengangkangi mulutnya.
Sial pula ini. Tidak ada sesuatu pun yang keluar meski perutku masih mulas.
Keinginan memancing ikan sudah luruh bersamaan dengan kondisi perut yang belum juga membaik.
Aku memutuskan untuk pergi ke warung kopi biasa. Keputusan itu mempertemukan aku dengan kakus warung kopi sebagai perhentian kelima.
Selesai.
Kenapa tujuh? Kupikir membuat judul "7 mulut kakus dalam sehari" akan lebih menarik daripada "5 mulut kakus dalam sehari".
Setelah semuanya, aku duduk menghadapi Chromebook untuk menulis catatan ini.
Semoga saja tidak benar-benar menjadi tujuh. Sebab, masih dapat separuh ini hari Minggu.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi