Siapa orang yang boleh tidak puasa Ramadhan?
Kita? Jelas wajib menjalankan ibadah puasa. Jika tidak, sama saja kita menghina bulan suci Ramadhan, melampaui para pendahulu yang --dengan cara apa pun-- tetap berusaha berpuasa, dan secara terang-terangan melanggar perintah Allah.
Lantas, kau mencoba berkilah dengan argumen kosong dan dangkal itu. Bahwa, kau sedang berada dalam perjalanan yang begitu jauh. Lebih dari 80 km, perjalanan dari kondisi terlilit utang ke kondisi yang lebih terlilit lagi. Sialan.
Kau lantas tidak berpuasa, mengajakku, dan sialnya lagi aku mengikutinya. Ya Allah!!! Allahumma inni a'udzubika minnii.
Beberapa bentar setelah berpikir sebentar. Yang sepertinya kau sudah menggunakan seluruh kemampuan berpikir itu, nyeletuk bahwa kau merupakan orang sakit. Orang yang sakit hatinya lantaran direndahkan oleh orang-orang materialistik di lingkungan sekitar.
Kau begitu sakit dan tersiksa. Betapa itu membuat kau tidak bisa berpikir jernih. Pikiranmu sekarang keruh seperti air buangan limbah kolam yang sudah tidak pernah diganti airnya sejak anak pertama pemilik kolam meninggal dunia sepuluh tahun enam bulan yang lalu.
Hal serupa juga pernah diungkapkan oleh anak pemilik kolam itu. Saat itu kita masih bocil tanpa beban. Aku mengingatnya dengan jelas. Bahwa dia mengungkapkan kalau sedang sakit hatinya melihat sang ayah menindih tetangganya yang janda dan membuat sang ibunda meringis-menangis tiap malam.
Anak itu entah terkena tekanan yang seberapa besar di usia tersebut. Sering mengigau saat kita ajak mancing di kali pinggir kolam miliknya. Dengan sengaja membiarkan kita melempar umpan ke kolamnya, bukan ke kali lagi.
Seminggu kemudian anak itu ditemukan menggantung di gudang sebelah barat kolam ikan. Sejak kejadian itu, lokasi itu menjadi gudang yang keramat. Seminggu lagi, orang-orang percaya sang anak gentayangan, dan percaya sang anak punya kekuatan gaib yang aneh yang mampu mengabulkan permintaan duniawi.
Seorang di hari Senin pernah datang ke sana membawa dupa, mainan mobil-mobilan, boneka, dan JasJus tujuh warna. Siapa sangka tepat di hari Rabu malam orang itu menemukan setumpuk emas batangan di pinggir kali. Sayangnya berita begitu cepat tersebar. Ia sama sekali belum sempat melebur emas menjadi potongan-potongan kecil dan menjualnya untuk memperbaiki ekonominya, sudah ditemukan oleh pemerintah desa.
Kau juga mengingat hal itu. Orang yang mestinya dapat mengubah nasib dari yang paling terhina dan paling miskin di desa, dapat menjadi orang yang paling terhormat dan paling kaya saat itu juga. Kesempatan yang barangkali hanya muncul sekali dalam tujuh puluh turunan. Lenyap segera setelah pemerintah desa memberitahu pemerintah kota, dan tersebar cepat ke pusat negara.
Di hari Kamis pagi, sepeleton tentara bersenjata lengkap datang menggerebek gubuknya yang dilihat dari sudut mana pun lebih mirip kandang ayam bekas alih-alih rumah manusia. Mereka menangkapnya, sempat kita melihat salah seorang tentara menghantam gagang senapan laras panjang ke pelipisnya sampai terdengar mirip bunyi kodok tergencet ban motor. Kita hanya melongo.
Dua hari setelahnya dikabarkan di toa masjid orang penemu emas itu meninggal dunia karena sakit jantung mendadak. Siapa orang tolol yang percaya? Bahkan bocah-bocah dan balita pun tidak ada yang percaya.
Pengumuman di toa masjid itu ditambah dengan pengumuman dari pemerintah kota yang penyebutkan "Orang itu sebagai pahlawan negara yang memberi sumbangsih terhadap sejarah Indonesia". Konyol benar.
Alasannya dikatakan bahwa "berhasil menemukan emas batangan tahun 1911 yang sangat langka", dan "emas-emas akan dipajang di museum untuk mengingatnya". Museum apa? Emasnya mana? Tidak ada yang pernah tahu kalau sejak dua hari yang lalu emas itu sudah dibagi rata dengan para penguasa.
Kejadian itu membuat gempar seisi desa. Orang itu sampai kini memiliki sebuah julukan "Orang Emas", dan semua orang di desa sepakat untuk memanggil kakak laki-laki atau orang asing laki-laki sebagai "Abang", "Akang", "Bro", atau "Cak" saja. Semuanya sepakat untuk tidak memanggil siapa pun dengan "Mas". Sebab, sejak saat itu, "Mas" sudah dimiliki orang yang mati dua hari setelah dibawa aparat yang konon penegak hukum negara.
Kau lantas berkilah lagi dengan mengatakan bahwa kau tidak berpuasa karena merupakan seorang lansia. Mana mungkin itu terjadi? Kau masih berusia 29 tahun, dan Februari tahun depan baru 30 tahun. Mana ada sejarahnya manusia usia segitu sudah disebut sebagai lansia alias lanjut usia? Tidak ada, bahkan Nabi Adam masuk usia 850 tahun baru disebut lansia.
Kau mengatakan kalau lansia di sini bukan soal usia. Melainkan suatu keadaan yang sudah merasakan semua hal sejak kelahiran di dunia kecuali satu: kematian. Kau mengatakan sudah merasakan lahir, tumbuh, besar, menikah, bercinta, marah, menangis, memancing, bercerai, dan lain sebagainya kecuali yang satu tadi.
Sebenarnya, kataku kemudian, kau tidak perlu merasakan semuanya itu kalau hanya bertujuan untuk mati. Kau tinggal lahir dari rahim seorang pelacur di lokalisasi mirip Gali Gongli. Kalau beruntung, kau akan hidup, kalau tidak, barang sebentar lagi kau akan langsung mati.
Kau manggut-manggut aneh sebentar. Aku juga manggut-manggut karena secara tidak sadar (atau setengah sadar) mengatakan sesuatu yang sepertinya agak puitis. Kau tampak berpikir lagi, dan aku buru-buru menyanggah bahwa kau seorang laki-laki!
Kau tidak mungkin boleh tidak puasa dengan alasan menjadi wanita hamil dan menyusui. Ada dua alasan. Pertama, kalau pun kau menjadi bencong, tetap tidak punya organ biologis yang menjadikanmu sebagai wanita hamil. Kedua, kau lebih sering menyusu daripada menyusui.
Sekarang ini yang paling masuk akal, katamu lagi, bahwa kau merupakan anak-anak yang belum dewasa secara mental. Alasan ini cukup sulit kusangkal. Karena memang kau benar-benar masih kekanak-kanakan, yang bahkan lebih dewasa anakku yang usianya masih dua tahun.
Tetapi, kan, kalau kau masih belum dewasa dianjurkan untuk berlatih. Sedangkan kau, jangankan berlatih, mencoba pun belum pernah. Sejak hari pertama hingga sekarang hari ke-28 puasa Ramadhan. Sialan. Terkutuk sekali kau ini. Dan sialnya lagi, kau selalu mengajakku masuk ke jurang hitam yang legam itu setiap hari.
Sambil menenggak seseloki terakhir di botol Aqua di malam ini, kau tersenyum yang lebih aneh dari senyummu seumur hidup. Siapa... yang... boleh... tidak... puasa..., katamu pelan dan sangat pelan. Kau berteriak, bahwa itu jelas! Siapa lagi kalau bukan mereka yang gila dan hilang akal?!
Aku menggelengkan kepala pelan. Jelas keliru lagi. Kau masih bisa mengenakan celana dalam dengan benar, mencukur bulu jembut di satu waktu dan mengurut urat di sana di waktu yang lain. Kau masih bisa dengan gamblang membedakan mana Aqua mana anggur putih. Kau juga bisa membedakan mana JasJus dan anggur merah. Bahkan, kau masih mengingat kejadian sepuluh tahun enam bulan yang lalu setelah Orang Emas terkenal seantero desa, orang-orang sebagai "calon Orang Emas berikutnya" datang ke gudang tempat si anak gantung diri. Dan sehari setelahnya gudang itu dirobohkan, diganti dengan kolam ikan lele buat memakan tahi ayah si anak yang sekarang beristri dua.
Kau tidak gila, kau tidak hilang akal. Kau hanya menyangkal semua kesalahan yang dengan sadar kau lakukan. Tidak lebih. Sekarang, kau harus berjabat tangan denganku. Anggaplah aku sebagai pastor yang siap menerima segala pengakuan dosamu.
Mari kita tidur di ruangan gelap ini sendirian. Kemudian menyambut dengan lapang dada segala kejadian yang akan datang. Menyambut Hari Raya Idul Fitri yang akan datang satu-dua hari ke depan tergantung kesepakatan para kiai di atas itu.
Aku sudah sangat setengah sadar. Kau mestinya paham mengapa daritadi aku hanya berbicara dengan bayangan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi