Mencatat istri dan kambing
Keluarga miskin yang belum punya rumah ini mendapatkan jatah daging kambing dari musala yang berjarak empat rumah ke arah barat. Meski musala kecil, jangan salah, di sana siang tadi disembelih empat ekor sapi dan 15 kambing yang gemuk-gemuk.
Istri saya teramat senang mendapat daging kambing. Ia tampaknya sudah mengabaikan asas demokrasi rumah tangga. Yang mana saking senangnya langsung buru-buru mengolah daging tersebut menjadi hidangan sesuai keinginannya.
Dimasaknya begitu lama dari pukul satu siang hingga siap santap tepat setelah azan magrib. Sebuah hidangan yang benar-benar --kalau boleh saya katakan-- memuakkan. Tentu saja, sebagai seorang suami yang lebih memilih diam daripada harus memulai krisis 98 rumah tangga, saya tidak mengatakan itu secara langsung kepadanya.
Saya mulai curiga istri saya sebagai awantara mertua presiden Indonesia terkini. Kalau mendengar kritik, apalagi tentang masakannya, bisa didor di tempat. Jadi, sikap diam yang saya ambil semata-mata hanya untuk bertahan hidup --tidak lebih.
Berkali-kali telah saya layangkan surat terbuka bahwa tidak akan memakan daging kambing yang diolah penuh santan dan garam. Sepertinya surat-surat itu hanya berakhir di meja tanpa pernah disentuh, apalagi dibaca. Sebetulnya, saya tidak pilih-pilih makanan, sejak dulu, hanya saja beberapa sendi kaki tidak mampu kompromi jika memakannya.
Sepiring daging kambing dan secentong nasi putih sudah berada di hadapan saya. Itu terlihat seperti petaka. Secara aneh saya langsung terbayang beberapa bulan lalu ketika berjalan dengan kesakitan karena asam urat. Daging kambing itu sehat, saya sangat setuju. Namun memasaknya dengan kekentalan bahan yang demikian mengerikan lain soal.
Setelah memberikan petaka itu di depan saya, ia tak kunjung pergi. Istri saya senyum-senyum ganjil yang seolah mengatakan, Ayo, Sayang, makan masakan istrimu, apalagi ini daging. Dengan agak enggan, saya buka mulut dan menikmatinya. Enak... di mulut. Entah nantinya. Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada sendi jempol kaki kanan, pergelangan kaki kiri, atau sendi-sendi lain yang menyakitkan dan merepotkan. Senyumnya masih belum berubah sejak tadi, seolah menunggu tanggapan, dan saya mengatakan dengan semangat 45, Mantap!
Mantap ndasmu! (yang ini dalam hati)
Tetapi, terlepas dari semua keterpaksaan itu, saya benar-benar menyadari niat tulus istri saya agar mencicipi daging. Ia terlalu menyedihkan untuk ditolak masakannya. Daging, sesuatu yang terlampau mewah untuk kita yang miskin. Dan soal sendi-sendi sepenuhnya bukan salahnya, hanya karena laki-laki ini yang kelewat ringkih saja.
Sayangnya, sungguh disayangkan, harusnya ia sudah belajar menyelami lebih dalam alam imaji di pikiran dan perasaannya. Saya jadi bertanya, apakah ia peduli dengan saya? atau apakah ia cinta dengan saya?. Jika memang kepedulian dan cintanya fitrah, mestinya segera menjual daging kambing tadi, lantas membelikan sebotol Red Wine K (RWK) di warung Mat Ayam, dan pada akhirnya kita saling-menuang di sebuah seloki secara merdu.
Toh keduanya sama-sama akan merusak tubuh ringkih laki-laki ini. Daging kambing penuh santan-garam menyerang sendi, RWK memberi kehangatan sebelum menyerang lambung dan ginjal. Wahai istriku, masih ada kesempatan untuk bertaubat!
Kau bisa memperbaiki kesalahan karena memaksa suamimu ini memakan makanan memuakkan itu dengan sekarang juga berlari ke warung Mat Ayam! Kau bisa menjual dulu ponsel itu yang entah gunanya apa. Kembali lagi ke sisi saya dengan membawa sesuatu yang lebih berguna, beberapa botol RWK itu dan dua bungkus kretek dan sekantung cemilan.
Kita dapat menikmati kesengsaraan dengan lebih merdu, seperti dahulu.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi