Mencatat menulis cerita
Saya tidak berhenti menulis sastra dalam satu malam! Tidak ada bunyi pintu tertutup apalagi upacara perpisahan yang khidmat penuh makna itu. Mereka, para cerpen saya, mati perlahan seperti hewan yang terluka di sudut gelap rumah, mengembuskan napas terakhir tanpa saksi. Akhirnya dikeloni oleh kesendirian yang brutal. Saya sebagai orang tuanya agaknya merasa sedih juga. Satu-satunya alasan munculnya rasa itu adalah tersebab saya masihlah manusia.
Mereka, jugalah novel yang belum sempat terbit, sudah membusuk di folder kenangan, hilang secepat mereka datang. Sementara mereka, jugalah puisi saya berubah menjadi debu yang beterbangan hingga luruh dengan semesta. Seolah... tidak pernah ada.
Entah kapan tepatnya saya kehilangan keyakinan pada tulisan naratif semacam cerpen dan novel itu. Atau, tulisan berupa luapan jiwa penulis berbentuk sesuatu yang kita sepakati sebagai puisi itu. Yang saya ingat hanya sebuah biji peler kemarahan yang terlanjur tertanam, tumbuh perlahan mencuat dari rusuk dada, warnanya merah menyala laiknya larva gunung yang meleleh dari sudut mata.
Sejak saat itu, saya tidak lagi ingin menyusun kata-kata dengan hati-hati. Saya ingin merobeknya. Ingin menulis tanpa sopan santun, tanpa pagar, tanpa kondom pengaman, apalagi sekadar sesepele belas kasihan. Sehingga apa yang saya telurkan selanjutnya hanyalah onggokan tahi-tahi yang nikmat bukan kepalang.
Aromanya akan semerbak lebih menyeruak daripada tahi kucing. Aroma itu pula yang bakal membikin sebagian besar orang menjauh, dan sebagian kecil mendekat. Memeluknya. Menciumi dan melumatnya. Lantas menyantapnya dengan 40 kunyahan sebelum benar-benar menelan dengan keyakinan serupa iman. Tahi itu bersarang di dada mereka yang doyan. Menjadi biji peler kemarahan untuk melengkapi milik saya jadi dua.
Jadi, inilah saya. Sedang berbicara seorang diri, sendirian, kesepian di tengah runtuhnya kehidupan.
Saya tidak meninggalkan sastra. Sastra yang meninggalkan saya lebih dulu! Si keparat itu menatap dari kejauhan dengan wajah munafik dan bodohnya purna yang selama ini malah saya puja.
Bertahun-tahun saya mengasah kalimat seperti kesatria melakukannya atas pedangnya, percaya bahwa ketajaman yang tercipta dapat menyelamatkan apa pun yang retak dalam diri saya. Saya menulis banyak cerpen, sedikit novel, mencipta seikat puisi, menumpuk metafora demi metafora. Tidak ada bedanya dengan orang yang menambal lubang di lambung kapal dengan kertas basah. Lantas hari itu kenyataan berkata, "Semua tidak berguna."
Kata-kata yang rapi senyata-nyatanya hanya membikin kehidupan terlihat lebih indah. Jika benar demikian, mestinya saya sekarang sedang memancing ikan di sungai paling tenang. Akhirnya, saya muak. Busuk cukuplah busuk, tak perlu pula merangkai bunga di atas bangkai. Hanya busuk.
Apa pula kebijaksanaan. Kebijaksanaan sudah saya ikat lehernya, saya seret hingga bertekuk lutut penuh ketakutan tatkala berada di atas altar. Yang tersisa kini hanyalah kelam yang marah. Berubah jadi sabit biru Izrail yang mengayun kencang ke leher kebijaksanaan. Biru dan merah itu tampak lebih indah dari omong kosong sastra.
Karya, sastra, cerpen, novel, cerita, ... puisi. Ada lebih banyak kata yang sempat saya kagumi. Namun kini mereka, kata-kata itu, hanyalah onggokan tahi tanpa arti.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi