Mencatat ban motor bocor 2

Setelah tiga hari tidak memancing, aku memaksakan untuk berangkat pada sore ini. Seperti keberangkatan memancing sebelum-sebelumnya, hari ini pun juga boncos. Akhirnya aku pulang sore hari setelah azan selesai. Nahas, lima meter setelah naik motor mertua, aku merasai ada yang tidak beres dengan ban belakang. Memancing kali ini tidak hanya mendapat tangkapan kosong, itu jugalah sebuah paku berkarat berukuran lima sentimeter yang tertancap di ban setelah kuperiksa di depan warung kelontong yang buka. Sekalian, aku minta pinjam pompa angin. Pemilik toko memperbolehkan. Namun setelah mengetahui tertancap paku, dan pakunya sudah dilepas, dia lantas menyarankan untuk buru-buru ngebut ke tukang tambal ban yang masih buka di sebelah barat tikungan. Aku ucapkan terima kasih sebelum menarik tuas gas ke tempat yang dituju.

Tukang tambal ban itu benar-benar ada. Di desa beginilah kejujuran. Kupikir ini perlu aku sampaikan degan gamblang. Bahwa orang-orang tidak khawatir jika saat magrib ada orang kumal tidak dikenal mendatangi rumah untuk meminjam pompa angin. Bahkan, kau juga bisa mempercayai bahwa di sebelah barat tikungan ada tukang tambal ban yang masih buka tanpa bertanya apakah itu benar atau hanya kebohongan!

Aku hampir menghabiskan waktu magrib di rumah tukang tambal ban ini. Dia bekerja kurang cekatan, tidak seperti anak SMP dalam catatan sebelumnya. Aku perlu kompromi, sebab tukang kali ini seusia ayahku jika dia masih hidup, sedang kedua kakinya tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Dia membutuhkan lebih banyak usaha (dan waktu) untuk mengambil obeng, engkol, dan kompresor.

Dia sempat bertanya aku orang mana. Kujawab bahwa aku orang desa ini. Lalu kulanjutkan bahwa aku habis memancing ikan di sungai di atas jembatan di timur sana. Dia tidak menaggapi karena barangkali tidak hobi memancing. Pukul enam lebih seperempat diselesaikannya pekerjaan menambal ban bocor.

Inilah saat yang cukup mendebarkan, yaitu membayar. Rencana A adalah aku menemukan uang terselip di saku celana, dalam sempak, atau mana pun saja. Rencana B adalah aku meninggalkan satu-satunya alat pancing, pulang ke rumah, lantas mencari uang terselip di tas, jaket, atau mana pun saja. Rencana C adalah harapan tolol tukang tambal ban itu tidak butuh uang sama sekali untuk hidup di Indonesia. Yang terakhir kali ini benar-benar tolol sampai aku bingung mengapa ada rencana C.

Dia mengatakan dua belas ribu. Jantungku rasanya lebih cepat berdetak. Aku bangkit dari kursi kayu yang penuh debu --yang lebih berdebu daripada tempat dudukku di pinggir kali. Aku mulai agak curiga bahwa usaha tambal ban ini sepi belaka. Kurogoh dengan keyakinan aneh agar menemukan beberapa lembar uang. Semua kantong hanya menghasilkan angin, sampai-sampai sudah kurogoh hingga menyentuh buah peler yang ikut berdebar.

Pikiranku kalut. Tanganku gemetar. Dia tampaknya menyadari gerak-gerik kemelaratan dari wajahku. Pandanganku beralih ke timba yang terisi alat pancing, kemudian melihat kunci tergantung di sana. Sekonyong kuambil kunci itu, lantas membuka jok motor. Puji Tuhan kau, mertua! Aku menemukan dua lembar; satu Imam Bonjol dan satu Frans Kaisiepo. Aku serahkan kedua-duanya kepada tukang tambal ban karena jasanya. Dia berusaha bangkit untuk mengambil kembalian dan aku mengatakan bahwa itu tidak perlu. Aku berterima kasih dan dia berterima kasih dua kali.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi