Mencatat kata ganjil
Kepekaan kita sebagai manusia sudah tumpul. Keberanian mati, terkubur jauh di dalam tanah selama tiga dekade. Terkubur lebih dulu daripada sang diri itu sendiri.
Tubuh masih muda, bergejolak, bisa ngaceng, dan ketawa-ketiwi atas apa yang terjadi. Tidak jauh-jauh. Kita kadang menertawakan rasa gugup tatkala lupa bawa uang saat bayar kopi Cethoel seharga 4.000 secangkir. Si pemilik warung kopi membiarkan kita membayarnya keesokan harinya. Sedang setelah kopi disajikan, kita ketiwi lantaran cara itu berhasil. Tetap bisa ngopi meski dengan kesadaran penuh memang tidak memiliki uang sama sekali.
Kita di sini sekarang. Di hadapan dua cangkir kopi Cethoel yang kita peroleh dengan muslihat.
Kita tidak lagi mau membicarakan tentang sesuatu itu. Misalnya, pejabat korupsi. Sudah jelas bahwa jika korupsi berarti pejabat, sebab hanya pejabat yang mampu korupsi.
Semakin sering kita bahas, kata-kata itu justru menjadi biasa, turun tekanan kejahatannya. Sesuatu yang barangkali lebih berbahaya daripada korupsi itu sendiri.
Perlu ada sebuah gebrakan yang nyata dan tidak bisa mereka lupa, bahwa pejabat korupsi itu SALAH. Misalnya, menato permanen di jidat setiap koruptor yang sebenar-benarnya koruptor dengan kata "KORUPTOR" yang seluruhnya pakai huruf besar.
"Kau besok pasti bayar, kan?"
"InsyaAllah."
Keblingeran saya sendiri
Sialan betul.
Beberapa waktu lalu saya sempat menulis tulisan panjang yang membahas tentang sastrawan Indonesia sedang micek atas kondisi negaranya. Namun, agaknya anggapan itu tidak berdasar. Keliru belaka.
Belakangan saya mendapat kesadaran yang aneh.
Sebab, mustahil jika saya bisa tahu tentang suatu hal tanpa membaca selain tulisan saya sendiri yang beraroma amis ikan hasil pancingan. Atau, bisa melihat tentang hal lainnya tanpa mengamati sikap orang-orang selain wajah saya sendiri yang terpantul di layar ponsel retak yang habis baterainya.
Ada cukup banyak bentuk ketidakpuasan atas kondisi negara. Mulai dari yang paling umum seperti artikel berita yang gratis kita baca itu, buku mahal yang harganya tergantung tinggi di langit itu, atau jangan remehkan stand up comedy tepi jurang yang menyampaikan kebenaran.
Humor yang jenaka jugalah salah satu alat untuk menyampaikan semuanya dengan aman. Pram barangkali juga begitu, dalam bentuk narasi panjang yang dibalut kesan fiksi.
Namun sayangnya, semuanya belum cukup mendobrak pintu kolot di dada para pejabat keparat. Pintu itu masih tertutup rapat oleh serangkaian ambisi imajinasi yang jelas-jelas menyengsarakan.
Mana tahu mereka yang berada di sana... keberhasilan seorang rakyat jelata menertawakan penipuan yang dilakukan olehnya atas secangkir kopi senilai 4.000 rupiah dengan mengatakan lupa bawa uang?
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi