Mencatat blog sepi

Blog sepi ternyata ada gunanya. Berangkat dengan anggapan bahwa tidak ada yang membaca tulisan di sini, membuatku merasa agak leluasa mencatat apa saja.

Tiga hari ini aku puasa bicara. Mencoba untuk menahan kata-kata yang barangkali dapat mengantarkan aku pada jurang celaka. Aku merasai keberuntungan. Sebab, dapat terhindar dari hal-hal buruk yang mungkin terjadi jika bicara. Meski untuk beberapa hal buruk yang lain mustahil bisa aku hindari.

Kemarin malam seorang penulis tiba-tiba lewat depan rumah. Dia mampir. Sebelumnya, memang menghubungiku lewat pesan singkat --tidak ada pesan yang kubalas, termasuk darinya.

Dua jam tiga puluh menit pada malam itu aku berbuka puasa. Berbicara lumayan berisik kepadanya.

Kemudian, aku mengatakan bahwa harap maklum! Aku juga mengatakan bahwa aku menyadari kalau sengkarut yang tengah aku tanggung bukanlah yang paling rumit. Aku adalah seseorang di pinggir pantai yang berteriak memiliki masalah paling agung di harapan lautan masalah.

Harap maklum.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi