Mencatat diam

Aku bisa membayangkan mengetik dalam keadaan sakit punggung. Tetapi, aku belum sempat membayangkan mengeluh karenanya.

Kupikir, sakit punggung dan mengetik adalah satu kelindan. Orang yang mengetik sudah hampir bisa dipastikan merasakannya. Sedang orang yang sakit punggung belum tentu akibat mengetik. Bisa jadi dia menghabiskan malam dengan pergumulan bersama bini bahenol seukuran beruang, atau bini tetangganya, atau adu jotos dengan banteng peliharaan Rudin. Wah... Sungguh banyak cerita dan kemungkinan-kemungkinan atas suatu kejadian yang sederhana.

Setelah membayangkan semuanya, aku diam. Merasakan nyeri di tulang belakang dan kekosongan dompet yang belum kunjung terisi. Yang ternyata sama-sama nyeri.

Punggung yang sakit seharusnya datang pukul sebelas malam sebelum tidur. Bukan sembrono memperlihatkan batang hidungnya siang bolong. Menghadapi sore dan malam yang masih antre panjang di depan sana, rasanya semakin nyeri saja.

Tetapi biarlah. Sakit punggung niscaya datang pada waktunya.

Sekarang aku meringis karena nyeri itu. Juga karena membayangkan seseorang menanggung nyeri punggung karena pergumulan dengan beruang; terlebih ada seseorang lain yang menulisnya menjadi sebuah cerita.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi