Sebuah usaha menjaga lapar
Saya teringat nasihat Cak Nun tentang lapar dan kenyang.
Yang paling baik adalah lapar
Yang baik adalah kenyang
Yang buruk adalah kekenyangan
Yang paling buruk adalah kelaparan
Catatan: saya tidak bisa mengingat dengan jelas dalam ceramah yang mana Cak Nun berkata demikian.
Kita bisa melihat sebuah perbedaan yang sangat tipis antara lapar dan kelaparan.
Lapar bisa menjadi kondisi perut terbaik.
Jika kebablasan, jadi kelaparan, langsung berubah jadi yang terburuk.
Ini opini saya pribadi setelah menerapkan kondisi lapar itu.
Bahwa, saya jadi tidak gampang mengantuk. Entahlah... Aneh saja...
Kalau setelah makan, bawaannya itu selalu mengantuk.
Ini cocoklogi saya sendiri:
- Kelaparan cenderung bikin kita marah-marah
- Lapar cenderung bikin kita waspada
- Kenyang cenderung bikin kita ngantuk (seperti orang nomor dua di Konoha)
- Kekenyangan cenderung bikin kita sangat loyo dan menumpuk terlalu banyak dosa di perut
Mengurangi porsi makan akan menghilangkan kantuk, membikin saya lebih lama dalam kondisi sadar.
Sehingga dapat melakukan lebih banyak aktivitas.
Tinggal mengikat tali di leher aktivitas itu agar tidak melenceng dari jalur kebaikan. Itu saja.
Atau, sebenarnya nasihat Cak Nun tentang urusan perut tersebut merupakan anjuran agar kita berpuasa?
Wah... Bisa jadi.
Lebih bagus menjaga lapar dengan puasa
Jika menahan lapar saja, sedangkan tetap ngopi dan nyebat, itu seperti paket custom.
Paket yang hanya diambil manfaat kesadaran dan kewaspadaan saja.
Sedangkan kalau lewat jalur puasa, berarti pilih paket lengkap.
Include:
- Kesadaran dan kewaspadaan
- Menahan berahi
- Aktivitas positif
- Pahala besar
- Dan yang paling penting: ridho Allah
Mana ada sesuatu yang lebih kita butuhkan dunia-akhirat daripada ridho-Nya?
Semua di atas sekadar opini saya yang didasari oleh nasihat Cak Nun belaka.
Sekarang saya mau makan dulu, soalnya lapar ini sudah nyaris berubah jadi kelaparan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi