Empat nama baru dalam obrolan malam ini

Percakapan dengan sastrawan betulan Tulungagung, Hari Niskala malam ini menelurkan empat nama.

Ia sering begitu, mengatakan nama-nama yang tidak saya ketahui siapa. Juga, sering berbicara tentang hantu-hantu sastrawan zaman purba.

Dari keempatnya nama yang tadi, hanya Gus Dur yang saya tahu. Sebab, beliau pernah menjabat sebagai presiden keempat Indonesia Raya.


Pembicaraan ringkas yang diburu waktu karena kangen anak itu berlangsung cepat saja.

Saya sempat bertanya siapa penyair yang menurutnya apik. Jelas, dong, mengantongi gelar sebagai sastrawan betulan Tulungagung pastilah memiliki beberapa deret nama yang membuka sesuatu entah apa di dadanya.

Ia menjawab Amato Assagaf sebagai yang pertama. Aduh, saya kikuk saat itu, pengetahuan tentang penyair begitu dangkal sama sekali.

Katanya, beliau itu orangnya memang sengaja tidak terkenal. Kalau mau tampil ke permukaan, dapatlah jadi panutan para penyair-penyair muda. Atau, bahkan membikin sekte puisi baru yang jelas-jelas akan lebih masuk akal daripada puisi esai.

Baiklah, ada beberapa istilah yang belum bisa saya pahami. Pertama, sengaja tidak terkenal. Kedua, puisi esai.

Saya diam saja, menutupi kebebalan pemahaman tentang apa yang sedang ia bicarakan. Iseng pula saya tanya, apakah ada lagi?

Ternyata ada. Ia menyebut nama John Kuan. Buru-buru saya membuka laptop dan mencari namanya di internet. Penyair juga? tanya saya. Penyair betulan, jawabnya.

Ia kemudian menjelaskan tanpa saya minta, bahwa John Kuan dengan puisi-puisinya menjadi kiblat (guru sastra) dari nama penyair yang lebih terkenal.

Sialan, saya sudah tidak ingat nama murid John Kuan yang ia sebut dua detik lalu itu. Kalau tidak salah terdiri dari tiga kata.

Daripada terus terlihat bodoh, saya gantilah pembicaraan, atau sesi wawancara, atau apa pun Anda menilainya, dengan pembahasan tentang penulis Indonesia yang terkenal.

Si Hari itu mengatakan ada Gus Dur. Untuk yang satu ini, saya ingat pernah membuka situs yang merangkum tulisan-tulisan dari Gus Dur, gusdur.net.

Satu-satunya hal yang mengingatkan dengan situs itu adalah jumlah arsipnya begitu banyak. Tersusun dari 78 halaman di mana per halaman memiliki 21 tulisan, terangkum sejak 1971 hingga 2005.

Saya yakin masih ada tulisan yang ketlisut, belum terangkum di sana. Tulisan yang memiliki hidupnya sendiri entah di mana.

Kita mulai membahas tentang setiap judul dari tulisan Gus Dur di arsip gusdur.net dari yang paling lama.

Si Hari terkesima dengan pembuatan judul yang ringkas tapi nyakot.

Salah satunya adalah arsip tahun 1978 berjudul "Agamawan dan Pembangunan Desa", yang menurutnya begitu luar biasa.

Sampai-sampai ia menunjukkan eskpresi yang sama jika mendapat bongkahan emas dari langit.

Saking kagumnya, ia seketika membagikan tautan arsip tersebut ke Grup Sastra Intra Kampung miliknya yang sudah tergabung ratusan ribu anggota.

Gus Dur memiliki kepekaan luar biasa bahkan di saat itu. Ia lanjutkan dengan celoteh tentang teori tentang agawaman pembangunan desa yang lewat begitu saja di kuping saya.

Kemudian muncul nama lain di sela pembahasan tulisan Gus Dur. Itu adalah Faiz Ahmad Faiz yang kata Si Hari berasal dari Pakistan, dan Chaim Potok dengan My Name Is Asher Lev yang menurutnya, lagi, adalah novel yang dikatakan Gus Dur sebagai bagus.

Ia lagi-lagi kagum dengan sosok Gus Dur, bagaimana seorang kiai betulan Indonesia yang kental akan Islam mendapat bacaan dari novelis Yahudi yang ketat.

Sembari memakai jaket, ia mengatakan nama keempat, Nuruddin Asyhadie.

Katanya, itu seorang kritikus, sudah keburu waktu karena kangen anak, jadi tidak memberi kesempatan kepada saya menunjukkan raut wajah bertanya-tanya, siapakah gerangan?

Berhubung saya barusan nulis tentang tengara.id, bisalah saya sedikit masuk dalam pembahasan kritik sastra itu.

Lalu, saya tanyakan bagaimana dengan Cep Subhan yang menjadi salah satu redaktur utama tengara?

Ia memberi pendapat tentang Cep Subhan, dan mengatakan bahwa Nuruddin itu cukup kereng alias garang. Dari tengara hingga nama-nama sastrawan besar pernah ia lontari kritik tajam, kecuali Sulak (A.S. Laksana).

Nuruddin, menurutnya, seolah memiliki ta’dzim kepada Sulak entah karena alasan apa.

Hingga pada akhirnya ia selesai memakai jaket dan mengulurkan tangan pamitan, ia berpesan bahwa jangan pernah membicarakan tentang puisi esai di hadapan Nuruddin.

Aduh... Ada dua hal fatal, kata saya. Mustahil saya bertemu dengannya, dan untuk apa membicarakan sesuatu yang saya sendiri tidak mengerti.

Begitulah, Hari Niskala sedang dalam perjalanan memperpendek jarak dengan anaknya yang salah satu dari tiga kata namanya menyandang Kafka itu.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi