Mengalah di jalan yang (semoga) benar

Saya setuju jika seorang laki-laki mustahil menceritakan masalah hidupnya. Namun, tidak dengan menuliskannya.

Setiap orang pernah berada dalam situasi genting. Seolah berdiri di selembar kain, atau berjalan di sebatang tongkat kayu. Sedang di punggungnya menggendong pohon, gunung, dan lautan.

Masalah setiap manusia berbeda-beda, tidak bisa disamakan, pun seberapa mirip kondisi yang dialaminya.

Mengalah menjadi salah satu jalan keluar yang --agaknya-- makan hati. Sulit ikhlas, sulit menerima. Apalagi kalau seorang laki-laki harus mengalah dari seseorang yang, menurutnya, keputusan yang diambil orang itu tidak tepat sama sekali.

Padahal, ada keputusan lain yang lebih masuk akal dan mungkin sangat dilakukan untuk mengubah keadaan dari sulit menjadi lapang, dari kekurangan menjadi kecukupan.

Ia, yang mengalah, mungkin dianggap tidak berdaya. Bagi kalian para pembaca, itu orang mungkin memang tidak berdaya. Dan, kenyataannya, bisa jadi benar-benar tidak berdaya.

Hanya saja, seorang laki-laki dengan pengalaman hidup dan pengalaman nyaris mati yang luar biasa pernah menuliskan begini: Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.

Saya cukup memahami bagaimana 'mengalah' begitu sulit dilakukan, berat dijalankan, mustahil dilupakan.

Jika kalian para pembaca yang budiman melihat hanya mengalah-lah yang menjadi satu-satunya jalan keluar, tanamkan harapan ini: Harapan bahwa keputusan mengalah itu sejalan dengan perintah Tuhan, dan semata-mata untuk mendapatkan kelembutan takdir-Nya serta kehangatan kasih-Nya.

Tidak ada yang lembut, selain takdir-Nya. Tidak ada (pula) yang hangat, selain kasih-Nya.

Dengan harapan itu, saya berhasil (atau setidaknya merasa optimis), mampu menelan segala macam getir kehidupan.

Biarlah kehidupan ini getir dan pahit, asalkan itu sesuai dengan takdir-Nya. Biarlah hidup manusia ini dianggap gagal oleh manusia lain, asalkan keyakinan akan kasih-Nya tidak pernah goyah di sanubari.

Saya benar-benar merasakan bagaimana agama menjadi obat bius yang saya telan setiap hari, setiap waktu.

Namun jangan salah, manusia satu ini masih hidup, bergerak, dan tetap berkeringat.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi