Mencatat mimpi buruk

Mimpi buruk bagiku hanyalah mimpi. Ini membuktikan kalau kenyataan bagiku sudah lebih menakutkan darinya. Aku, pada akhirnya, kehilangan apa yang disebut hasrat.

Kemelaratanku yang brutal dan utangku yang membabi buta di tengah kecamuk kegagalan pemerintah memberi rasa aman membuat otakku rasanya meledak.

Belum lagi tulisan-tulisanku yang tak kunjung membaik.

Mimpi hanyalah bunga tidur tanpa arti, sedangkan buruk adalah sehari-hari.

Saat kutulis catatan ini, hampir seluruh bagian kepalaku masih berdenyut. Aku juga telah kehilangan hasrat sekadar untuk berkata kotor. Sedang kotor adalah citraku di benak orang-orang.

Ini bukan lagi hanya kesendirian. Yang kurasakan jauh lebih runyam. Aku ingin terbebas dari perihal duniawi yang memusingkan, namun hal itu konon akan dibawa sampai mati.

Aku tidak lagi ingin untuk apa-apa.

Merokok dan menulis catatan seperti ini membuatku merasa lebih tenang. Setidaknya dapat meletakkan dulu pikiran tentang bunuh diri. Sesuatu yang tidak akan kuperoleh jika aku hanya mengunci diri di kamar sempit dan gelap.

Membaca catatan Amato Assagaf berjudul Mencatat Kesepian juga memberikan ketenangan.

Amato mengatakan, bahwa pada pertengahan jalan menuju kearifan, atau apapun yang kita sebut dengan istilah sejenis itu, seseorang akan menemukan dirinya sebagai manusia paling sepi. Dalam arti tertentu, itulah yang membawa Muhammad ke Gua Hira, prosesi khalwat Yesus di Getsemani, dan tiga belas tahun pencarian spiritual Siddharta Gautama.

Kondisiku bukan kesepian. Ini kuanggap sebagai implikasi logis dari kebodohan di masa lalu. Tidak ada kebangkitan spiritual. Bahkan kalau mimpi burukku serupa mimpi Pramoedya dalam bui, aku hanya akan mengabaikan macan sebesar sapi yang sekonyong keluar dari tembok.

Dan kehilangan hasrat, akan lebih tepat jika kusebut sebagai kondisi tidak mau menolong diri sendiri.

Dalam relung pikiran, kulihat diriku tenggelam di sungai keruh. Aku biarkan diri itu semakin sesak, bergejolak, dan akhirnya diam begitu saja. Semakin dalam secara perlahan. Hingga sampai ke dasar di sebelah kerangka Dazai yang berpegangan tangan dengan pacarnya. Aku melepas harapan yang sudah cukup lama kugenggam.

Pukul 03.03 dini hari, aku terbangun dengan dada sesak. Kututup wajah dengan bantal, memejamkan mata, dan berharap agar bisa kembali masuk ke dalamnya. Mimpi buruk, secara aneh, terasa begitu indah.

Aku sudah menduga, tidur di lantai kamar sempit dan gelap dapat memunculkan sesuatu yang paling berarti. Itulah kematian. Kematian, untuk sementara aku hanya bisa menemui kau dalam mimpi. Dan hanya kaulah yang dapat membuat kehidupanku punya arti.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi