Mencatat "aku" dan "saya"
Saya --aku-- sering dipusingkan justru oleh perihal sepele yang jelas-jelas tidak beririsan dengan sesuatu yang dianggap penting. Pusing memilih antara tegek cutit atau tegek kolong, pusing juga dengan memilih antara 'aku' atau 'saya' sebagai kata ganti orang pertama tunggal. Toh mau pakai 'aku' atau 'saya', seluruhnya tulisan hanya akan jatuh pada ke-aku-an dan ke-saya-an.
Berdiam di dasar sana, muncul sebentar untuk bernapas, dan menghilang seperti tidak pernah ada. Tulisan-tulisan itu akan menempati ruang tersendiri untuk yang hidup. Itulah alasan mengapa aku harus tetap hidup. Setidaknya untuk sekarang, untuk tulisan yang belum memiliki tempat layak sehingga bisa kutinggal selamanya.
Hanya saja, alasan semacam itu malah terkesan bias. Tulisan memiliki hidupnya sendiri. Jika tidak di kertas, barangkali melayang-layang di angkasa raya yang begitu luas. Hinggap di kepala orang-orang kosong yang menerimanya. Lantas tertuang kembali di atas kertas sebelum akhirnya luruh entah ke mana.
Oleh sebab itu, tulisanku sejatinya bukanlah tulisanku. Tulisan saya sejatinya juga bukanlah tulisan saya. Aku bukan saya. Sehingga, aku dan saya itu siapa?
Aku sangat mungkin memasukkan saya dalam sebuah tulisan bersamaan. Menggunakannya secara bergantian. Meloncati pagar batas aturan penulisan omong kosong itu. Jika meniadakan aturan akan membuat tulisan saya menjadi buruk, akan kutunjukkan apa itu tulisan yang sejatinya buruk. Pun jika membuat tulisanku jadi berantakan, akan saya tunjukkan apa itu tulisan yang sejatinya berantakan. Sehingga bagaimana pun bentuk tulisan itu, hanya aku dan saya yang akan memahami; kecuali sedikit orang yang menerima.
Namun, tidak menutup kemungkinan saya kan lebih sering menggunakan aku karena sebuah alasan. Alasan itu tidak lain adalah kepuasan yang saya dapatkan tatkala membacai tulisan-tulisan Amato Assagaf, yang memberi porsi lebih besar untuk aku, dan sedikit porsi untuk saya --kepuasan yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya.
Aku sama sekali tidak tahu siapa Amato. Nama itu secara wajar muncul dalam sebuah pembicaraan ringan di warung kopi bersama seorang kenalan. Lantas kuketik nama itu di pencarian, menemukan sebuah blog sepi, dan itulah perjumpaan pertama dengan Mencatat Kesepian di waktu saya paling sepi. Tulisan yang terlalu pendek namun betapa itu tepat sasaran mengisi relung kosong di hatiku.
Jadi, apakah kemudian akan menggunakan 'aku' atau 'saya'? Aku pun tak tahu, sebagaimana saya tak tahu harus pakai tegek cutit atau tegek kolong.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi