Mencatat kegagalan

Aku memiliki keyakinan aneh bahwa tidak ada proses yang sia-sia --termasuk kegagalan. Kegagalan niscaya meninggalkan perasaan sakit. Dalam kerangka ini, jika usaha yang sudah kita kerahkan belum juga membuah hasil sesuai harapan, itu berarti belum cukup rasa sakit yang kita kumpulkan sebagai bahan bakar menuju sesuatu yang lain. Banyak, aku tidak mengatakan semua, keberangkatan dimulai dari rasa sakit. Semakin kita banyak gagal, semakin menumpuk pundi-pundi kesakitan itu. Kelak saat tiba waktunya untuk mengunduh tabungan itu, mau tidak mau kita harus siap dengan keberhasilan. Pertanyaannya, kelak itu kapan? Entahlah. Semua dalam kehidupan ini serasa rahasia yang tertutup banyak tabir berlapis yang begitu jauh namun terasa begitu dekat. Tidak ada yang tahu kelak itu kapan. Kecuali Dia Yang Maha Tahu. Manusia fana yang nyaris seluruhnya tersusun dari kegagalan ini hanya akan menulisnya pada sebuah pagi ditemani kopi semalam dan sebatang rokok oleh-oleh genduri. Dalam isapan kedua atau ketiga, aku akan mengingat-ingat kembali bagaimana kegagalan-kegagalan yang sudah terjadi membentuk semacam pola yang bukan mustahil kubaca. Pola yang kemudian membuatku lebih hati-hati agar kegagalan tidak muncul terlalu dini.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi