Microfishing, serba-serbi mancing ikan kecil

Microfishing, serba-serbi mancing ikan kecil

Aku dan kau boleh sepakat bahwa kepopuleran microfishing tidak lepas dari tidak adanya ikan besar yang bisa dipancing karena beberapa alasan. Sedikit dari alasan itu di antaranya illegal fishing (setrum dan obat), membuang limbah pabrik ke sungai langsung, kurangnya kesadaran masyarakat, abainya pemerintah.

Sehingga, yang tersisa adalah ikan-ikan kecil yang cukup banyak, untuk tidak mengatakannya melimpah, untuk kita semua pancingi.

Andaikan, kita berandai-andai sekarang, kalau sungai di Indonesia penuh nila babon seperti sungai-sungai di Malaysia dan Taiwan, atau penuh ikan carp seperti di Belanda dan Amerika, atau penuh ikan hera seperti di Jepang; microfishing tidak akan menjadi sepopuler ini.

Dan dengan ketabahan serupa purnama, pemancing Indonesia tetap mengharapkan joran melengkung. Maka, aku dan kau mencari joran tegek paling lentur agar sensasi mancing ikan kecil seperti mendapat tangkapan besar.

Sungguh ironi yang menyedihkan.

Mengapa aku katakan demikian?

Aku bukanlah pemancing kemarin sore. Bahkan, aku sudah memancing sejak di kandung badan. Aku menyadari bahwa tidak banyak pemancing yang menarget ikan kecil (seperti wader, uceng, atau nilem), benar-benar menghayati esensi microfishing secara fitrah.

Mereka, katakanlah begitu, mencari ikan kecil sebanyak-banyaknya. Melupakan seni yang berada di tiap prosesnya.

Mari ingat kembali sebuah kalimat yang sempat populer pada 2019 di grup microfishing sebelum kini dilupakan: pemancing bukanlah nelayan.

Dalam catatan ini, aku mau terus-terang saja. Tidak ada tabir yang menutupi. Dan aku juga terbuka untuk semua kritik-saran atas apa yang aku sampaikan.

Jadi, ayo mulai.


Apa itu microfishing?

Jika kamu mencari pengertian microfishing lewat mesin pencari, jawabannya sangat sederhana: mancing ikan berukuran kecil. Selesai.

Tetapi, definisi semacam itu bagiku terlalu dangkal untuk suatu aktivitas yang sebenarnya memiliki jiwa.

Microfishing, secara fitrah, adalah cara pandang menghargai setiap ekor ikan terlepas dari ukurannya yang kecil.

Dalam penghargaan itu, ada semacam kekuatan untuk memperlambat diri, memperhatikan detail-detail kecil yang kebanyakan dianggap remeh belaka.

Jika aku teruskan, akan ada beberapa hal yang begitu lembut akan terasa di sana. Contohnya kerumitan saat merangkai perantinya, sambaran yang nyaris tak terasa, gerak halus pelampung mungil, dan jangan lupakan suasana saat kita duduk di pinggir sungai untuk mengagumi alam. Yang entah bagaimana mengantarkan aku dan kau pada kekaguman pada Sang Pencipta.

Dengan cara pandang ini, memancing ikan kecil bukan semata-mata mencari sebanyak-banyaknya, apalagi sebesar-besarnya. Dengan cara pandang ini, tidak ada satu detik pun yang terlewat tanpa kita menikmatinya.

Barangkali kau kurang setuju dengan pendapatku tentang teknik mancing ikan kecil ini. Dan sebenarnya, kau bebas mendefinisikan apa itu microfishing sesuai persepsi masing-masing.


Microfishing, mengapa teknik ini menarik?

Kita yang menjadikan ikan kecil sebagai target niscaya pernah mendapat cibiran tentang apa serunya memancing ikan yang bahkan lebih kecil dari jempol kaki.

Kembali lagi pada esensi teknik microfishing bahwa ini bukan mencari yang banyak dan besar. Dan kalau diperluas lagi, ini bukan mencari ikan. Ada sesuatu yang lain, yang lebih luhur sedang kita tuju.

Sesuatu itu sangat besar, bisa jadi bahkan sangat kecil, atau malah sangat sederhana seperti duduk menikmati aliran sungai dalam kesendirian sembari mengagumi setiap ciptaan-Nya.

Alasan lain karena panggung untuk microfishing tampil di mana saja. Entah itu di sungai irigasi sawah, kali kecil pinggir jalan raya, pinggiran danau, sampai selokan dengan air mengalir.

Seperti yang aku katakan, microfishing juga demokratis. Yang mana siapa saja bisa menggunakannya, pun mendefinisikan sesuai keinginannya.

Artinya, aku tidak akan menyalahkan apa pun anggapanmu tentang microfishing. Pun kalau kau menganggapnya sebagai mancing ikan kecil sebanyak-banyaknya.

Sedang bagiku, setiap proses di dalamnya sudah cukup untuk memberi kehangatan.


Peranti microfishing yang ideal

Alat microfishing yang ideal

Peranti (bentuk tidak baku: piranti) untuk microfishing sebenarnya sangat banyak.

Namun, kau tetap bisa menggunakan tegek, senar, kail. Dan masih tetap disebut sebagai microfishing.

Sedangkan dalam catatan ini, akan kucoba untuk menuliskannya lengkap.

1. Tegek micro

Tegek yang ringan, pendek, dan lentur. Sebenarnya tidak perlu mahal, meski kebanyakan memang memiliki harga selangit; apalagi yang berasal dari Negeri Matahari Terbit di mana istilah microfishing dan tanago lebih dulu dikenal.

Tegek Keterangan
Panjang 90 cm s/d 210 cm
Bobot <50 gram
Kelenturan Medium-slow /slow

2. Senar micro

Benang atau senar (line) berukuran kecil dan sangat tipis. Semakin kecil diameternya, maka akan memberikan sensasi tarikan yang lebih baik. Selain itu, mancing ikan kecil umumnya berada di pinggiran, senar kecil juga mengurangi kewaspadaan ikan terhadap umpan.

Senar Diameter
Mono 0.06 atau setara

3. Line indicator

Berikutnya, merupakan alat microfishing yang bersifat opsional. Line indicator merupakan alat kecil yang membantu kita membaca sambaran ikan yang nyaris tidak kelihatan di pelampung.

Mengapa microfishing membutuhkan alat ini?

  • Microfishing menggunakan timah berukuran sangat kecil. Artinya, umpan akan melayang-layang dan senar tidak tegang.
  • Dampak dari umpan melayang-layang yaitu saat umpan dimakan ikan, pelampung tidak kunjung memberi respons.
  • Line indicator menjadi penanda visual yang memperlihatkan pergerakan senar meski pelampung diam.

4. Assist hook

Bagian ini juga tidak wajib. Kamu bisa langsung mengikat kail ke senar utama yang ukurannya memang sudah sangat kecil dan tipis itu. Assist hook sebenarnya membantu agar senar yang tipis tidak kusut/ruwet. Soalnya, bahan assist hook berbeda dengan senar umumnya.

5. Kail micro

Ikan kecil memiliki mulut yang sama-sama kecil. Sehingga untuk memancing menarget ikan tersebut, perlu kail yang berukuran kecil (kail micro/micro hook).

Ukurannya berapa?

Soal kail, sebenarnya aku bisa menuliskan di catatan lain karena ada banyak hal yang perlu kita bahas. Termasuk jenis kail, merek, dan ukuran.

Namun, biar ringkas saja untuk catatan ini, berikut ukuran idealnya.

Jenis kail Ukuran
Sode 0.1, 0.3, 0.5, 0.8
Akita kitsune 0.1, 0.3, 0.5, 0.8, 1
Kiwame -

Khusus jenis kail kiwame, tidak ada ukuran yang pasti (beda merek, beda pula standar ukurannya).

Kail kiwame memang dikhususkan untuk tanago dan microfishing, jadi ukurannya pun tidak ada yang besar. Semuanya mungil-mungil, dan setipis rambut dibagi tujuh.

6. Umpan micro

Berbicara tentang umpan, mancing microfishing sebenarnya justru umpannya yang paling tidak ribet.

Ada begitu banyak jenis umpan siap pakai yang tersedia, dan siap pakai. Kau cukup menyeduhnya dengan sedikit air biasa. Lalu umpan sudah bisa kaupakai.

Namun, kalau ingin menggunakan cacing kecil, ulat belimbing, potongan tahu, atau semacamnya pun juga tidak masalah.

7. Pelampung micro

Umumnya, mancing microfishing menggunakan pelampung (floater). Oleh karenanya juga, banyak pengrajin pelampung micro handmade di Indonesia.

Sebagian pemancing merasakan kepuasan tatkala melihat pelampungnya bergerak. Lagi-lagi, ada begitu banyak jenis dan bentuknya. Beberapa di antaranya seperti:

Jenis Bentuk
Jepit 1 kaki Seperti tetesan air, bisa juga custom
Jepit 2 kaki Pelampung umum yang juga tersedia dalam ukuran micro
Stopper Pelampung model stopper
Busa Bentuk cabe atau bawang
Kayu balsa Bahan terbaik untuk custom handmade

8. Timah micro

Ada yang menggunakan timah pemberat, ada juga yang menggantinya dengan kili-kili atau anting saja. Karena sudah dirasa cukup mengantarkan umpan ke hadapan mulut ikan di dalam air.

Jika menggunakan timah pemberat, pilih tipe timah lipat, timah merica, atau timah jepit (premium).

Timah-timah tersebut (selain merica) tidak ditahan dengan stopper. Melainkan langsung kita tempel ke senar utama.

9. Tippet connector

Alat ini berfungsi sebagai penghubung antara senar utama dengan leader atau assist hook. Sifatnya juga tidak wajib.

Semakin banyak alatnya, rasa-rasanya rumit, ya? Padahal, tippet connector ini justru memudahkan jika terjadi insiden yang tidak kita inginkan.

Misalnya, tiba-tiba kail nyangkut di tanaman air, yang kemudian tidak sengaja senarnya putus. Jika harus mengikat senar yang begitu tipis ke kail yang sama-sama sangat kecil, itu akan merepotkan.

Tippet connector memperingkasnya dengan langsung mengikatnya ke senar utama. Lanjut mencantolkan assist hook yang sudah siap ke bagian satunya --tanpa harus mengikat senar ke kail lagi.

Namun, dengan catatan sudah siap sparepart assist hook.

10. Bait pump

Bait pump merupakan alat untuk mengeluarkan umpan microfishing tanpa perlu menyentuhnya. Bentuknya ada banyak, umumnya tabung.

Jadi, kita tinggal menekan pelan bagian pangkal agar umpannya keluar lewat lubang kecil di bagian ujung.

11. Hook remover

Ada hook remover atau pelepas kail dari mulut ikan yang khusus digunakan untuk ikan-ikan berukuran kecil. Bentuknya sederhana seperti kawat.

Alat ini akan sangat berguna jika kamu kombinasikan dengan kail jenis kiwame karena kail tersebut tidak sungguh-sungguh menancap ke mulut ikan. Sehingga, kail bisa cepat terlepas tanpa usaha berlebih.

12. Viewing box

Viewing box merupakan kotak kaca kecil yang berguna untuk mengamati dan mengagumi ikan hasil tangkapan. Kalau di Indonesia, ini berguna untuk foto-foto, lantas hasilnya dibagikan ke grup microfishing.

Faktanya, fungsi viewing box tidak sebatas sebagai studio ikan semata. Ada juga fungsi untuk menikmati detail warna hingga identifikasi spesies sebelum nantinya ikan kita lepas kembali.


Tidak ada yang ribet jika menikmati setiap prosesnya

Melihat daftar peranti di atas barangkali akan membuatmu langsung mengernyitkan dahi. Mengapa microfishing begitu ribet?

Tetapi, memang begitulah microfishing yang ideal, dan ingatlah sebuah catatan yang mungkin perlu aku ulangi lagi, bahwa semua peranti tersebut bukan syarat wajib. Sebagian hanya bersifat opsional sebagai alat bantu.

Kau bahkan bisa saja turun ke parit hanya dengan tegek lentur seadanya, senar sisa gulungan lama, dan kail kecil yang kaubeli di warung pancing dekat rumah tanpa pernah tahu apa itu jenisnya.

Ikan-ikan kecil itu sebenarnya tidak peduli seberapa lengkap kotak peralatanmu. Tidak melihat pula apakah tegekmu berasal dari Jepang atau lidi aren dari kebun.

Yang justru sering luput dari pemancing microfishing adalah esensi dari kata "menikmati".

Kita terlampau sibuk mengejar apa-apa alat yang kita anggap ideal. Hingga lupa pada microfishing yang sejatinya merupakan setiap proses itu sendiri.

Hmm... Ribet atau tidaknya teknik mancing ikan kecil ini, pada akhirnya, tergantung dari mana kita memandangnya.

Aku dan kau hanya perlu menikmatinya. Tidak perlu mengejar apa-apa. Satu joran, satu ikan, serta sepuluh menit di pinggir parit barangkali sudah terasa nikmat dan cukup.


Target ikan microfishing di Indonesia

Target ikan microfishing di Indonesia

Apa ikan yang menjadi target dari teknik ini?

Sejujurnya, tidak ada target yang pasti. Kau bisa mancing di mana saja menggunakan peranti micro andalan, kemudian mendapat kejutan dari apa yang kauangkat dari air.

Entah itu wader, uceng, cetol, sepat, betok, daker, nilem, yuyu, keong sawah, atau bahkan spesies lain yang kau sendiri belum tahu namanya. Semua bisa jadi tangkapan pada hari itu.

Lihat, itu salah satu perbedaan microfishing dengan macrofishing.

Tidak seperti mancing ikan besar yang sudah menetapkan target sejak awal, bahkan sebelum berangkat ke spot mancing.

Microfishing membiarkan air menentukan sendiri kejutan apa yang diantarkan kepadamu.

Karena hal itu juga, memancing dengan membiarkan kejutan itu datang menurutku terasa lebih jujur sebagai bentuk memancing yang sebenarnya.

Aku dan kau tidak datang dengan ekspektasi berlebihan, juga tidak pulang dengan kekecewaan yang brutal. Semuanya mengalir saja. Kita menikmati seadanya.

Jadi, bagaimana pendapatmu pada akhirnya tentang microfishing?

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi