Pengalaman mancing pakai reel paralon manual

Aku perlu memberi penghargaan yang layak kepada para pemancing yang mampu menggunakan reel paralon dengan baik. Mereka, jelas sudah berada di tingkat yang berbeda dengan pemancing amateur sepertiku.

Reel paralon adalah salah satu jenis reel pancing yang terbuat dari bahan paralon. Cara menggulungnya manual. Oleh karenanya, jelas membutuhkan keterampilan dan jam terbang yang tidak main-main.

Jenis reel tersebut sudah tahan air --bahkan air asin sekali pun. Tidak perlu maintenance sama sekali. Serta memberi tarikan ikan maksimal karena langsung terhubung ke tangan.

Drag reel paralon tergantung pada apa yang kita pangan sebelum mancing.

Lempar dan gulung reel paralon manual

Pengalaman mancing pakai reel paralon manual

Dalam catatan kali ini, aku pakai Oregon Mamba 300 custom kolong aluminium (ring WD). Tegek itu sudah tidak ada, sudah aku hibahkan kepada seorang tetangga yang setiap memancing tetapi tidak pernah ganti gaman.

Menggunakan reel tersebut, aku bisa melakukan lemparan dengan cukup baik. Lemparannya lumayan jauh, hampir setara jika pakai reel spinning.

Sebab, saat itu menggunakan timah yang agak besar, mancing dasaran di sungai besar pakai cacing plungker. Kalau pakai umpan lumut dan mancing glenderan, sudah jelas backlash sejak awal.

Nah, proses menggulung senar tidak semulus saat melempar.

Menggulung merupakan persoalan lain. Cukup sulit dan belibet.

Akhirnya, aku menggunakan reel paralon seperti gambar di atas, itu punya lebar yang agak lumayan, sehingga lebih mudah saat menggulung.

Ternyata, mancing pakai reel paralon manual tidak bisa langsung tampil keren dengan paralon tipis.

Aku harus mulai dari paralon lebar dari reel biasa.


Gonta-ganti reel paralon manual (golak pancing)

Reel paralon tipis

Pertama, aku pakai reel seperti gambar itu. Kelihatan keren karena ukurannya sangat tipis. Banyak pemancing expert yang memakainya.

Hasilnya sudah jelas, proses lempar lancar tanpa kendala berarti. Sedangkan proses menggulung sering mesle. Nah, kondisi mesle itu bisa menjadi cukup mengkhawatirkan kalau kamu sedang ngewe. Tetapi ini lagi mancing, mesle berarti senar tidak tergulung ke reel dengan benar.

Alasannya kupikir sudah jelas, karena lebar reel hanyalah 2,5 cm, bahkan ada yang lebih tipis lagi. Aduh, entahlah, mengapa pemancing itu bisa melakukannya dengan tepat sasaran.

Reel maual kayu

Kedua, aku pakai reel manual kayu yang kupikir dapat mengatasi masalah mesle yang tadi. Soalnya, gulungan senar manual ini sedikit lebih lebar, sekitar 3 cm.

Kamu masih bisa melihat review-ku di toko jeruk Bagus Warung Pancing sampai sekarang sebagai bukti aku benar-benar pernah membelinya di sana.

Tetapi, oh, tetapi... Kondisi mesle itu belum juga terselesaikan. Aku masih sering mengalami mesle, bahkan backlash karena bagian atas gulungan tidak memiliki ceruk yang dalam.


Kompromi dengan gulungan paralon manual murah dari toko pancing terdekat

Setelah dua percobaan menjadi keren di atas tidak bisa kita anggap berhasil mengatasi mesle saat menggulung. Akhirnya, aku harus kompromi dengan gulungan senar manual berbahan paralon warna putih yang kubeli dari toko pancing terdekat.

Harganya sangat murah, hanya Rp3.000. Berbeda dengan gulungan pertama sekitar Rp15.000, sedangkan gulungan kayu manual sekitar Rp35.000.

Malahan dengan reel paralon manual murah tersebut, kondisi mesle lebih jarang terjadi (untuk tidak mengatakan tidak pernah).

Aku lebih bisa melempar dan menggulung. Meski tidak terlihat keren-keren amat seperti para pemacing expert yang sudah menggunakan reel paralon yang amat tipis.


Pakai gulungan senar manual butuh keterampilan!

Kalau kamu belum pernah pakai reel manual seperti ini, sebaiknya tidak memandang sebelah mata pemancing yang memakainya.

Sebab, itu benar-benar butuh keterampilan luar biasa di samping jam terbang yang tinggi!

Terlebih kalau pemancing itu sudah pakai gulungan senar yang sangat tipis dan tidak lebar. Tingkat kesulitan menggulungnya sudah berada di tingkat yang tidak bisa kita bayangkan.

Konsistensi juga perlu. Makanya, sekarang aku menyerah, dan lebih memilih pakai reel spinning yang mana tinggal buka dan lempar saja.


Kesulitan pakai gulungan senar manual berada di tingkat berbeda

Aku perlu mencatatnya juga, bahwa ada beberapa kesulitan yang tidak akan dijelaskan kecuali sudah pernah mengalaminya sendiri.

1. Kesulitan melempar

Apakah kamu pernah mencoba melempar umpan, tetapi yang terlempar tidak hanya umpannya saja, gulungan paralon juga ikut terlempar?

Aih, itu sebenarnya cukup menyedihkan dan memalukan. Saat awal-awal mancing malam di Brantas pakai umpan batangan dahulu kala, aku pernah melakukannya.

Pinjam joran stainless milik teman yang dikombo sama reel paralon. Lempar dari atas pereng sungai.

Alhasil, reel paralonnya juga ikut terlempar.

Aku harus menarik senar sekitar 150 meter sambil menahan kemaluan --oh bukan, maksudku rasa malu karena tidak becus melakukannya. Kemudian menggulung ulang senar tersebut kembali ke reel.

Setelah itu, aku benar-benar meningkatkan jam terbang. Belajar melempar pakai reel paralon degan berbagai macam tingkatan berat. Dan dari sana dapat kita temui bahwa usaha dan kerja keras tidak mengkhianati hasil.

Ketika kemudian diajak mancing lagi olehnya, aku cukup percaya diri untuk meminjam alat pancingnya untuk melempar reel paralon.

Tetapi dia tidak memperbolehkannya. Eh, sialan.

2. Kesulitan menggulung

Meski sudah belajar cukup lama, menggulung reel tanpa mesle lebih sulit daripada melemparkannya.

Bagian menggulung ini sudah kita bahas panjang-lebar di atas. Jadi, tidak ada yang perlu aku sampaikan lagi.

Atau sebenarnya ada. Yaitu tentang bagaimana ada pemancing yang bisa menggulung reel paralon tipis (tidak lebar) tanpa melihat senarnya?! Ngeri. Suhu betul mereka itu.

3. Drag manual tangan

Persoalan lainnya muncul ketika kita mendapat sambaran ikan, apalagi kalau ikan itu cukup besar. Tidak ada drag yang akan bekerja secara otomatis mengeluarkan senar pada titik berat tertentu.

Ini semuanya manual! Bisa berubah kapan saja menjadi drag mati. Yang sebentar kemudian langsung berubah lagi menjadi drag loss.

Mengatur drag reel paralon manual benar-benar membutuhkan fokus yang luar biasa. Repons yang sangat cepat. Yang mana keduanya mustahil dilakukan oleh pemancing amateur sepertiku.

Aku tidak bohong. Kesulitannya sangat berbeda.

Kalau terlalu kendur, ikan bisa lepas.

Kalau terlalu kencang (drag mati), senar bisa putus; atau joran bisa patah.


Kesulitan yang sepadan dengan kenikmatan mancing

Setelah semuanya, kupikir segala macam kesulitan itu sepadan dengan kenikmatan mancing, terutama ketika mendapat tangkapan besar.

Pakai reel paralon manual itu seperti sebuah title yang melayang sejengkal di atas kepala bertuliskan "pemancing expert". Title itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang memahami saja.

Sehingga, kalau kamu merupakan salah satu pemancing yang masih teguh pakai reel paralon manual, kamu layak untuk berbangga diri.

Selain itu, berat joran tegek kolong merupakan berat sebenarnya. Tidak ada imbuhan karena reel-nya terpisah. Tangan kanan memegang joran, tangan kiri memegang reel, sedang hati memegang keyakinan bahwa masa-masa sulit akan segera luruh bersama aliran air.

Mancing glenderan atau angon kumbul pakai joran ringan macam Ryoshi Hobbit, membuat bobot joran ringan itu menjadi bermanfaat karena benar-benar kita rasakan.

Lalu saat mendapat sambaran ikan. Kita memperoleh stimulus dari dua jalur, tangan kanan yang memegang joran, dan tangan kiri yang memegang reel.

Stimulus itu langsung diterima otak tanpa perantara. Memberikan kenikmatan dan sensasi yang luar biasa mantap keparat. Ikan yang memberontak memberikan getaran yang akan sangat terasa bahkan sampai buah zakar. Sensasi getaran itu tidak tereduksi oleh reel mesin sama sekali.


Nah, begitulah kira-kira catatan ini sudah sampai pada bagian paling akhir.

Kalau kamu ingin mencoba sensasi baru mancing, bisa pakai reel paralon manual. Tetapi, mulailah dari gulungan yang agak lebar dulu.

Tingkatkan keterampilan lempar dan gulung, serta jam terbang mancing. Misalnya, mancing tiga kali sehari itu lebih baik daripada makan tiga kali sehari.

Setelah berhasil melalui semua hambatan sampai frustasi karena kesulitan menggunakannya, kamu akan sampai pada titik terang para pemancing expert itu.

Dan sampai sekarang, aku masih berusaha menuju titik itu.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi