Sastrawan, dan cara mereka mengakhiri hidupnya sendiri

Menulis adalah sebuah upaya untuk mengabadikan pikiran, namun bagi sebagian sastrawan besar, kata-kata justru menjadi penjara yang menyesakkan. Kita seringkali mengagumi kedalaman makna dalam puisi atau novel mereka, tanpa menyadari bahwa di balik keindahan diksi tersebut, ada jiwa yang sedang bertarung dengan kegelapan.

Mengapa mereka yang dianggap paling mampu memahami makna hidup justru memilih untuk mengakhirinya lebih awal?

Fenomena ini bukan disebabkan oleh satu kejadian tunggal, melainkan akumulasi dari beberapa faktor psikologis yang kerap melekat pada sosok kreatif. Pertama, introspeksi berlebih (over-introspection). Sastrawan memiliki kemampuan untuk menggali hingga ke dasar emosi manusia. Namun, pisau bedah intelektual itu bisa berbalik ke arah diri sendiri.

Mereka terjebak dalam labirin pikiran yang menganalisis eksistensi secara tanpa henti, hingga sampai pada titik di mana hidup terasa terlalu berat untuk ditanggung.

Kedua, sensitivitas tinggi. Untuk menulis karya yang menyentuh, seorang penulis harus memiliki radar emosional yang tajam. Sayangnya, sensitivitas itu membuat mereka lebih rentan terhadap penderitaan dunia, penolakan, maupun konflik batin yang bagi orang awam mungkin terasa biasa saja.

Ketiga, isolasi kreatif. Menulis adalah pekerjaan yang sunyi. Demi melahirkan mahakarya, banyak penulis yang menarik diri dari dunia luar. Namun, batas antara "kesendirian yang produktif" (solitude) dan "kesepian yang mematikan" (loneliness) sangatlah tipis. Tanpa jangkar sosial yang kuat, isolasi itu bisa berubah menjadi depresi yang kronis.

Sejarah sastra dunia mencatat deretan nama besar yang memutuskan untuk "meletakkan pena" dengan cara yang tragis.

1 | Thomas Chatterton (1770) - simbol tragedi sang jenius muda

Thomas Chatterton adalah potret paling awal tentang bagaimana dunia literasi bisa menjadi sangat kejam bagi jiwa yang rapuh. Di usianya yang baru 17 tahun, penyair --jenius-- Inggris ini memilih mengakhiri hidupnya dengan meminum arsenik.

Penyebab utamanya adalah kemiskinan yang mencekik dan penolakan keras dari komunitas sastra saat itu terhadap karya-karyanya. Kematiannya meninggalkan jejak mendalam bagi para sastrawan era Romantik seperti Keats dan Shelley, yang kemudian memuja Chatterton sebagai simbol "penyair jenius yang dihancurkan oleh dunia yang dingin."

2 | Gérard de Nerval (1855) - labirin depresi di jalanan paris

Gérard de Nerval merupakan tokoh penting dalam romantisisme Prancis yang dikenal karena karya-karyanya yang surealis dan penuh mimpi. Namun, garis antara mimpi dan kenyataan dalam pikirannya tidak jarang kabur.

Setelah bertahun-tahun berjuang melawan depresi berat dan gangguan mental, ia ditemukan gantung diri di sebuah gang sempit di Paris pada suatu pagi yang membeku. Ironisnya sesaat sebelum wafat, ia meninggalkan catatan pendek kepada bibinya yang berbunyi: "Jangan menungguku malam ini, karena hari akan menjadi hitam dan putih."

3 | Ryunosuke Akutagawa (1927) - ketakutan yang tak terlukiskan

Bapak cerpen Jepang (namanya diabadikan sebagai hadiah sastra paling bergengsi di Jepang, Akutagawa Prize). Ia melakukannya dengan cara overdosis obat tidur (Veronal).

Akutagawa menulis bahwa ia merasakan "kegelisahan yang samar" (vague anxiety). Ia merasa bayang-bayang kegilaan ibunya mulai mengejarnya, dan ia memilih mati di puncak kariernya daripada kehilangan kewarasannya.

4 | Walter Benjamin (1940) - pelarian di perbatasan

Filsuf, kritikus sastra, dan penulis esai Yahudi-Jerman yang sangat berpengaruh. Caranya dengan overdosis morfin di Portbou, perbatasan Spanyol-Prancis.

Benjamin sedang dalam pelarian dari kejaran Gestapo (Nazi). Ketika merasa tidak ada jalan keluar dan visa transitnya terancam, ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri daripada tertangkap. Kematiannya adalah simbol tragis dari intelektual yang tergilas roda fasisme.

5 | Virginia Woolf (1941) - batu-batu di Sungai Ouse

Virginia Woolf adalah salah satu tokoh modernisme paling berpengaruh di dunia. Namun di balik kecemerlangan teknik _stream of consciousness_-nya, Woolf menderita gangguan bipolar yang parah sepanjang hidupnya.

Pada tahun 1941, di tengah kecamuk Perang Dunia II dan ketakutan akan serangan penyakit mental yang kembali kambuh, ia mengisi saku mantelnya dengan batu-batu besar dan berjalan masuk ke dalam Sungai Ouse. Masuk ke dalam sungai itu dan tidak kembali dalam keadaan semula. Dalam surat perpisahan untuk suaminya, Leonard, ia menulis: "Aku merasa kita tidak bisa melalui masa sulit ini lagi. Dan aku tidak akan sembuh kali ini."

6 | Stefan Zweig (1942) - keputusasaan di tengah kehancuran dunia

Bagi Stefan Zweig, dunia yang ia cintai --Eropa yang intelektual dan humanis-- telah mati di tangan Nazi. Meskipun ia berhasil melarikan diri ke Brasil, rasa keterasingan dan keputusasaan melihat kehancuran peradaban membuatnya kehilangan keinginan untuk hidup.

Zweig dan istrinya ditemukan meninggal dunia setelah melakukan bunuh diri bersama dengan overdosis obat. Kematiannya adalah protes sunyi terhadap kebencian dan peperangan yang melanda dunia saat itu.

7 | Osamu Dazai (1948) - gagal menjadi manusia

Osamu Dazai adalah ikon sastra Jepang yang hidupnya dipenuhi dengan percobaan bunuh diri. Karyanya yang paling terkenal, No Longer Human, mencerminkan rasa keterasingan yang luar biasa terhadap norma sosial.

Setelah beberapa kali gagal dalam percobaan bunuh diri sebelumnya, Dazai akhirnya berhasil mengakhiri hidupnya dengan cara menenggelamkan diri di Waduk Tamagawa bersama kekasihnya, Tomie Yamazaki. Ia meninggalkan catatan pendek yang ikonik: "Maafkan aku karena telah lahir."

8 | Ernest Hemingway (1961) - akhir tragis sang pemburu

Ernest Hemingway dikenal dengan citra maskulinitas yang tangguh --seorang koresponden perang, pemburu, dan pemenang Nobel. Namun di balik eksterior yang keras itu, Hemingway dihantui oleh depresi, kecanduan alkohol, dan trauma fisik akibat kecelakaan pesawat yang pernah dialaminya.

Pada pagi hari di bulan Juli 1961, di rumahnya di Ketchum, Idaho, Hemingway mengakhiri hidupnya dengan senapan berburu favoritnya. Kematiannya mengejutkan dunia, namun bagi mereka yang mengenal sejarah keluarganya, ini adalah tragedi yang berulang; ayah, saudara perempuan, dan saudaranya juga mengakhiri hidup dengan cara yang sama.

Karyanya seperti The Old Man and the Sea bertema tentang perjuangan manusia melawan kekalahan, sebuah tema yang pada akhirnya ia hadapi sendiri di dunia nyata.

9 | Sylvia Plath (1963) - sajak terakhir di dapur

Sylvia Plath adalah salah satu penyair paling emosional dalam sejarah Amerika. Karyanya, The Bell Jar, secara transparan menceritakan perjuangannya melawan depresi klinis.

Di tengah musim dingin yang membeku di London, setelah berpisah dengan suaminya, Ted Hughes, Plath mengakhiri hidupnya dengan keracunan karbon monoksida dengan memasukkan kepalanya ke dalam oven yang gasnya menyala.

Sebelum melakukannya, ia sempat menyiapkan susu dan roti untuk anak-anaknya yang sedang tidur di kamar sebelah, serta menutup rapat celah pintu dengan kain basah agar mereka tidak ikut celaka.

10 | Yukio Mishima (1970) - ritual berdarah di markas militer

Berbeda dengan sastrawan lain yang memilih jalan sunyi, Yukio Mishima menjadikan kematiannya sebagai sebuah pertunjukan. Mishima adalah seorang nasionalis garis keras yang merindukan kejayaan masa lalu Jepang.

Setelah upayanya melakukan kudeta militer gagal membuahkan hasil, Mishima melakukan seppuku (ritual merobek perut) di markas Pasukan Bela Diri Jepang. Baginya, kematian ini adalah bentuk tertinggi dari integritas dan keindahan yang konsisten dengan ajaran samurai yang ia agungkan.

11 | Anne Sexton (1974) - mengejar kematian bersama kenangan

Sahabat dekat Sylvia Plath ini juga merupakan pemenang Pulitzer yang menulis puisi-puisi konfesional (pengakuan). Sexton sering mendiskusikan kematian secara terbuka dalam sajak-sajaknya.

Setelah bertahun-tahun menjalani terapi dan berbagai percobaan bunuh diri, Sexton akhirnya mengakhiri hidupnya dengan keracunan karbon monoksida di dalam mobilnya yang diparkir di garasi. Ia meninggal sambil mengenakan mantel bulu milik ibunya dan memegang segelas vodka.

12 | Primo Levi (1987) - bayang-bayang Auschwitz

Penulis Italia yang selamat dari kamp konsentrasi Holocaust. Karyanya If This Is a Man adalah dokumen kemanusiaan yang luar biasa. Jatuh dari lantai tiga apartemennya di Turin (diduga kuat bunuh diri).

Meski ia selamat dari Nazi, banyak yang percaya bahwa "trauma penyintas" (survivor's guilt) tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Ia dihantui oleh pertanyaan mengapa ia selamat sementara jutaan lainnya tidak.

13 | Sarah Kane (1999) - ledakan depresi di atas panggung

Penulis naskah drama Inggris yang dikenal dengan gaya In-yer-face theatre yang provokatif. Gantung diri di rumah sakit menggunakan tali sepatu, dua hari setelah percobaan bunuh diri sebelumnya dengan obat-obatan.

Karyanya yang terakhir, 4.48 Psychosis, ditulis saat ia mengalami depresi berat dan naskah tersebut seolah-olah menjadi surat bunuh diri yang dipentaskan, menggambarkan pikiran seseorang pada jam 4:48 pagi saat batas antara realitas dan kegilaan memudar.

14 | David Foster Wallace (2008) - beban intelektualisme modern

David Foster Wallace sering dianggap sebagai suara paling cerdas di generasinya. Namun penulis novel tebal Infinite Jest ini menderita depresi berat selama lebih dari dua dekade.

Ketika obat-obatan yang selama ini membantunya tidak lagi bekerja, Wallace merasa terjebak dalam keputusasaan yang tidak berujung. Ia ditemukan gantung diri di teras rumahnya oleh istrinya. Kematiannya menjadi pengingat pahit bahwa kecerdasan luar biasa bukanlah pelindung dari kerapuhan jiwa.

15 | Budi Darma - pengamat jiwa-jiwa yang "sakit"

Budi Darma, melalui mahakaryanya Orang-Orang Bloomington, membedah karakter-karakter yang secara mental sudah "mati" sebelum fisiknya terkubur. Beliau menunjukkan bahwa lingkungan yang dingin dan penuh kecurigaan dapat membunuh sisi kemanusiaan seseorang.

Pengabaian terhadap kesehatan fisik (seperti konsumsi rokok dan kopi berlebih tanpa nutrisi, serta pola tidur yang hancur) sebagai kompensasi atas stres mental.

Jika sastrawan Barat mengakhiri hidup dengan tindakan drastis yang terekam jejak waktunya, di Indonesia kita mengenal fenomena yang lebih sunyi namun tak kalah tragis: Bunuh Diri Perlahan (Slow Suicide).

Istilah itu merujuk pada kondisi di mana seorang penulis, akibat tekanan ekonomi, isolasi sosial, atau kebuntuan kreatif, memilih jalan hidup yang merusak raga mereka sendiri sebagai bentuk pelarian.

16 | Chairil Anwar - mampus kau dikoyak-koyak sepi

Meski secara medis Chairil Anwar meninggal karena komplikasi penyakit (TBC, tifus, dan gangguan ginjal), banyak kritikus sastra melihat cara hidupnya sebagai bentuk slow suicide. Si Binatang Jalang ini hidup dalam intensitas yang membakar. Ia memeras seluruh energinya untuk sastra dan mengabaikan raga setinggi-tingginya.

"Mampus kau dikoyak-koyak sepi", seolah menjadi nubuat bagi dirinya sendiri. Chairil memilih hidup luntang-lantung, jarang makan, dan terus merokok di tengah kondisi fisik yang rapuh demi menjaga api kreativitasnya tetap menyala. Di usia 27 tahun, tubuhnya menyerah, namun semangatnya untuk "hidup seribu tahun lagi" tetap abadi dalam karyanya (?).

17 | Anda - si paling menunggu giliran

Nyatanya, Fyodor Dostoevsky tidak melakukan hal serupa seperti daftar di atas meski terlilit utang. Orwell juga hampir bersalaman dengan Izrail saat sebutir peluru penembak jitu menerjang tenggorokannya, namun itu bukan disengaja olehnya. Atau, Miguel de Cervantes yang tetap hidup meski tertembak tiga kali dan tangan kirinya lumpuh.

Jika boleh berandai-andai, bagaimana Anda inginkan cara mati untuk mengakhiri semua ini? Apakah seperti Aeschylus yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk tragedi? Mana ada manusia di dunia ini yang kehilangan nyawa gara-gara kejatuhan kura-kura dari langit selain beliau.

Atau bolehlah membiarkan maut datang secara alami tanpa mengubah kita menjadi selain manusia. Pramoedya tidak butuh diri, dan justru ketemu macan sebesar sapi di dalam penjara dalam kondisi tidak makan-minum tiga hari tiga malam. Pram juga masih bertahan saat berada dalam keputusasaan di Pulau Buru.

Sekarang Anda? Bagaimana? Jangan tanya saya, saya bukan siapa-siapa selain pemancing ikan belaka.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi