Denting jam yang tidak akan pernah menunggu engkau baik-baik saja

Menjadi seorang laki-laki dewasa --terutama anak pertama dari ibu janda, kakak tertua dari tiga bersaudara, suami, sekaligus merangkap ayah dari anak dua tahun yang lucu-- tidaklah mudah-mudah amat.

Denting jam dinding tengah malam terus berjalan. Pernah suatu waktu jam itu kehilangan daya, kehabisan baterai. Namun, jarum jam tetap bergerak meski hanya di tempat. Jarum tersebut tidak akan pernah berhenti, kecuali benar-benar kehilangan segala-galanya termasuk dirinya sendiri.

Pernah suatu kali saya berpikir --dan berharap-- agar persoalan kehidupan itu datang di waktu yang tepat saja. Jangan langsung menggeruduk bersamaan di satu waktu yang riskan. Saya babak belur. Tetapi nyatanya begitu, bahwa mereka tidak akan pernah menunggu hingga kita baik-baik saja untuk mampu menerima semuanya.

Tengah malam ini cukup mengkhawatirkan. Satu tangan menyangg kepala karena rasanya sudah mau copot, tangan lainnya memegang kretek kesepuluh. Setiap detik itu berlalu dengan melamun di ruang tamu yang sudah dipenuhi oleh asap rokok yang enggan untuk pergi.

Satu-dua sepeda motor terdengar dipacu kencang di jalan raya jauh sana. Beberapa sempat juga terdengar mereka bergurau; sementara ada seorang laki-laki --yang demikian saya sebut di kalimat pertama-- yang tengah melamun tentang harapan kosong terganggu karenanya.

Lantas, sekarang mesti bagaimana? Batin saya di salah satu denting jarum jam itu.

Tidak ada jawaban yang pasti. Kehidupan getir dengan takdir yang begitu-sangat-dalam saya minta agar dilembutkan. Tidak ada jawaban yang pasti sebagaimana tidak ada kepastian dalam kehidupan ini selain kematian.

Pada beberapa putaran jarum itu, saya bergumam dengan aneh, bukankah Engkau maha melihat dan mendengar?

Sengkarut ini barangkali bisa mengubah kehidupan saya; yang semula percaya dengan Tuhan menjadi abai, yang semula mengharapkan hanya dari-Nya menjadi mengharap dari selain-Nya. Saya sudah sampai pada titik nadirnya titik nadir. Orang-orang acapkali menyebutnya sebagai keputusasaan.

Jangan remehkan keputusasaan dari orang beriman! Ini akan menjadi titik perubahan yang bisa jadi paling mematikan.

Orang ini sudah menunggu perubahan ke arah lebih baik sejak dua tahun yang lalu. Kalau dipikir-pikir --saat saya sedang tulis catatan ini-- ternyata masih dua tahun saya menghalami sengkarut yang luar biasa seperti ini. Sedangkan di tahun-tahun sebelumnya kehidupan begitu damai dan berkecukupan. Namun, entah dengan sihir aneh seperti apa, dua tahun yang sulit ini terasa begitu mencekik, terasa begitu lama nian.

Dua tahun. Apa pula ini?! Sebagai pemancing saya sabar, barangkali sebagai manusia yang beriman saya adalah sosok paling menuntut. Astaghfirullah...

Hampir saja saya memilih untuk memanjat Gunung Kawi alih-alih memanjatkan doa kepada-Nya. Untung saja saya menulis catatan ini. Baiklah, saya tidak jadi aneh-aneh deh, dan berusaha mencoba menerima dengan lapang dada semua getir takdir. Namun, Ya Allah, hamba memohon kepada Engkau untuk melembutkan segala-galanya. Engkau Lathiif, kan?

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi