Penipuan berkedok testimoni palsu
Zaman sekarang wajib menerapkan asas ketidakpercayaan. Apalagi kalau menyangkut testimoni omzet per minggu, atau per bulan, di media sosial. Barangkali Anda sama-sama pernah melihatnya, ada seorang content creator yang menjual produk digital di Lynk ID, kemudian mempertontontonkan tangkapan layar (screenshot) bernilai fantastis yang menggiurkan.
Hanya seminggu pakai trik di e-book ini, saya menghasilkan 75 juta! Alhamdulillah!
Gak nyangka sampai di titik ini. Dulu terlilit utang, sekarang tinggal tidur omzet ngalir terus dengan jualan produk digital.
Atau...
Ibu rumah tangga pun bisa mendapat penghasilan yang bahkan lebih tinggi daripada suami yang kerja kantoran. Begini cara saya sukses rebahan!
Haduh... saya menulis ini lantaran pernah kena penipuan hal tersebut, dan saya ingin Anda waspada. Oke sampai di sini perlu saya kasih disklaimer, bahwa tidak semua content creator nakal dan menipu, masih banyak pula yang jujur.
Biar tulisan ini tidak terlalu melebar ke pembahasan tidak penting, akan saya luruskan bahwa tujuan saya di sini sekadar untuk mengimbau agar Anda dan saya sama-sama waspada.
Screenshot asli dan palsu
Lynk ID memiliki grafik berapa banyak dilihat dan berapa kali terjual. Itu penting. Kalau:
- Screenshot menunjukkan penghasilan 75 juta per bulan
- Penjualan sebulan 30 kali
- Harga produk rata-rata 15k
Maka sudah bisa dipastikan itu adalah screenshot palsu (fake testimoni). Mustahil orang bisa mendapatkan 75 juta dengan menjual 30 produk seharga Rp15.000.
Jika ada content creator yang melakukannya, ia merupakan seorang penipu bodoh. Sebab, penipu pintar mana yang membiarkan ketidaksesuaian antara harga produk, penjualan, dan omzet?
Bahkan kalau semuanya sesuai pun, Anda tetap perlu memegang asas ketidakpercayaan.
Screenshot, bagaimana pun bentuknya, dapat dimanipulasi. Jika versi desktop lebih gampang lagi pakai inspect element peramban. Pun jika versi mobile pun tetap bisa melakukannya dengan sedikit trik. Keparat!
Selain menggunakan inspect element, ada cara lain yang jauh lebih gampang, yaitu bantuan Artificial Intelligence (AI). Penipu itu cukup mengunggah hasil screenshot sepi, meminta AI untuk mengubah omzet dan membuat grafik yang sesuai jika harga per produk sekian. Tunggu beberapa detik. Beres.
Tidak ada yang benar-benar dapat Anda percaya dari screenshot di media sosial. Kecuali, itu merupakan bentuk video.
Testimoni asli bentuk video
Meski sudah dalam bentuk video, fake testimoni tidak tertutup sepenuhnya. Video tersebut haruslah melakukan reload, refresh, yang benar-benar menunjukkan halaman terkini bahwa omzet memang segitu, penjualan benar, dan grafik sesuai.
Kemudian para penipu yang masih menggunakan screenshot testimoni palsu mengatakan, "Kalau tidak percaya ya sudah, biar kesempatan ini diambil mereka yang percaya saja!" Kalimat putus asa yang seolah peduli, seolah menunjukkan bahwa mereka sedang memberi kesempatan untuk mengubah kondisi finansial Anda. Padahal sama sekali tidak, mereka hanya akan mengubah kondisi finansial diri mereka sendiri.
Lantas, bagaimana?
Tidak ada. Kalau Anda merasa perlu memiliki produk digital tersebut beli saja. Kalau merasa tidak, ya tidak perlu melakukannya.
Toh di zaman sekarang nyaris semua informasi dapat Anda peroleh dari berbagai sumber dengan jauh lebih mudah.
Saya yakin pengalaman yang Anda alami langsung akan lebih membekas daripada omong kosong saya di artikel ini.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi