Terbangun dengan aneh pukul tiga dini hari

Sejak kemarin, berturut-turut, saya selalu bangun pukul tiga dini hari. Didahului dengan mimpi tentang sesuatu yang cukup indah yang kemudian tidak lagi saya ingat. Ini agak aneh. Jarum jam menunjukkan angka sama, 03.03.

Saya masih tidak percaya bahwa saya adalah manusia arif pilihan untuk mengemban tugas mulia ketuhanan, ini berlebihan. Saya lebih percaya bahwa kuasa Tuhan tak terbatas, yang di dalam semesta kekuasaan tak terbatas itu berada sebuah titik, yaitu titik keberadaan saya yang fana.

Hal serupa juga membikin saya yakin bahwa mustahil di hati saya yang rapuh dan mungil ada Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Besar. Sebab, lebih bisa diterima jika Tuhan yang maha segalanya membuat hati saya berada dalam lingkup-Nya.

Atau, kepercayaan seperti menganggap semua ibadah memuji-Nya akan mengundang kasih-Nya --saya juga tidak percaya. Ibadah yang saya lakukan terlalu kering dan dangkal, mustahil hal semacam ini akan dapat menjangkau-Nya.

Makanya, boleh kita sepakat dengan doa seorang Arif yang lebih sering dijadikan quote itu.

Ya Allah, jika amal hamba belum mampu menggapai ridho-Mu, maka keluasan rahmat-Mu yang akan menggapai hamba.

Saya khawatir dengan tanda-tanda sederhana seperti terbangun pukul tiga dini hari lalu melaksanakan salat sunah, membikin saya melayang dengan kebodohan dan ketersesatan.

Lagi-lagi, lebih masuk akal jika Tuhan yang tak terbatas, yang memiliki 99 nama, dengan berlapis-lapis tabir yang mustahil disibak manusia biasa; Dialah menghendaki setiap apa pun atas siapa pun di mana pun dan kapan pun. Meski itu kepada manusia berlumur kekeliruan macam saya.

Betapa saya rendah diri di hadapan-Nya, di dalam-Nya.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi