Mencatat asam urat

Aku tidak tahu dengan kalian, tetapi bagiku, asam urat adalah bukti keserakahan atas sesuatu yang terasa lezat di lidah. Penderita asam urat --kusebut begitu lantaran aku benar-benar menderita-- tidak bisa melakukan nyaris apa pun dengan benar.

Untung, menulis menggunakan dua jempol tangan, bukan jempol kaki yang memang sekarang tidak bisa aku gerakkan.

Sedikit saja gerakan, tuntas membuat nyeri yang bikin semua bagian tubuhku menjerit. Makanya, penderita asam urat terutama yang bersarang di sendi kaki seperti ini akan benar-benar membatasi gerakan.

Aku ingat-ingat kembali apa sebabnya. Di tanah sepi kota orang selama dua hari kemarin? Bukan. Selama itu di sana aku sama sekali tidak makan. Pasti penyebabnya adalah makanan yang aku konsumsi setelah pulang dari sana kalau bukan disebabkan oleh santet.

Aih, belakangan aku sering mengatakan kekuatan luar, ya, kalau kaubaca tulisanku sebelumnya, itu adalah tanda sudah putus asa. Tetapi biarlah, dalam catatan yang ini aku hendak mengkhususkan diri membahas asam urat.

Jika bukan dua porsi mi ayam di sebelah utara stasiun, itu pastilah setoples rempeyek ikan asin. Ya, antara dua itu, dan aku cenderung curiga dengan yang terakhir.

Jauh hari sebelumnya, asam uratku sempat kambuh karena satu rodong cireng pedas yang rasanya aneh. Sedangkan saat makan gulai kambing di pagi hari dan dua puluh tusuk sate kambing di malam hari, asam uratku tetap tertidur lelap.

Jajanan, yang asin dan rasanya aneh, pastilah biang utamanya, tentu saja, di samping keserakahanku membadok jajanan-jajanan itu tanpa sisa.

Jadi, cukup logis bahwa setoples rempeyek ikan asin itulah. Aku ingat dua hari lalu, aku benar-benar ingat hanya mencoba satu gigit kecil. Dan aku seperti kerasukan mencoba satu gigit yang lebih besar, lalu dalam beberapa waktu yang sebentar toples itu sudah kosong.

Tetapi sekarang mau bagaimana? Biarlah. Kupikir kambuh dua kali dengan rasa nyeri yang membabi buta lebih membekas sebagai pelajaran berharga daripada kambuh sekali. Iya, kan?

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi