Mencatat mati rasa
Seiring bertambahnya umur, entah kenapa, semakin banyak hal yang membuatku kehilangan semangat. Meredup itu yang kita kenal sebagai gairah. Aku telah kehilangan gairah pada banyak hal, dan gejolak semangat pada lebih banyak hal; kecuali kesendirian. Barangkali ada yang rusak dengan mentalku. Aku selalu beranggapan begitu. Itu bisa jadi sudah tidak berada pada jalurnya. Jalur yang disepakati sebagai mental sehat dan normal menurut studi literatur mana pun.
Aku adalah pohon yang berada di tengah rawa yang dikelilingi ikan dan ular. Berdiri sendirian. Punya benalu di batang dan tangkai. Rontok pula daun-daun itu. Jatuh di permukaan air rawa yang hanya sedalam satu jengkal, namun memiliki lumpur dengan kedalaman tak terbayangkan. Di sana pula banyak rumput-rumput dari berbagai jenis. Menyamarkan air seolah hanyalah tanah padat belaka. Sudah tak terhitung sesuatu yang mencoba datang kepadaku yang kemudian berakhir tenggelam sebelum sampai di akarku. Itu jugalah termasuk harapan.
Akhirnya, aku tumbuh dengan begini saja. Pohon pun butuh gairah untuk kokoh. Tak butuh gergaji untuk roboh.
Daripada menyebutnya sebagai mati rasa, sebenarnya aku lebih suka menyebutnya sebagai pasrah kepada Sang Pencipta. Roboh hari ini tidak ada bedanya dengan roboh di kemudian hari. Kepasrahan yang dibalut keikhlasan dan ketulusan yang murni. Sendirian telah memberi tahu aku tentang itu semua. Sebab, tidak ada penyesalan yang akan muncul jika si pohon berumur di tengah rawa sendirian roboh begitu saja seperti tidak pernah ada.
Akhirnya, seluruh daun luruh menguning dan menghitam. Batang dan ranting jadi tempat persembunyian ikan. Sesekali --dan itu sangat jarang sekali-- menjadi jembatan manusia menyeberang ke sisi rawa yang lain.
Itu akan jauh lebih bergairah bagiku daripada harus setiap hari bertemu dengan manusia hanya untuk melihat mereka memiliki maksud lain. Yang belakangan cukup pamungkas. Melihat itu semua membuat mati rasa kehilangan maknanya; kehilangan rasanya.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi